Ecolove Map

Kamis, 6 Februari 2020. Hampir satu tahun, alpa dari nulis di blog ini. Sungguh kegabutan yang hakiki.

Satu tahun ini, berjibaku dengan studi. Di usia 30, menyelesaikan skripsi, dengan kewajiban membagi waktu dengan bocil-bocil ngangenin di rumah, itu tidak mudah.

Beberapa hal yang terpaksa menjadi marjinal, adalah memikirkan hal-hal berkaitan dengan tumbuh kembang mereka. Dan itu tidak seharusnya terjadi. Tapi, itulah konsekuensi dari deret prioritas hidup.

Berkait dengan itu, salah satu concern saya agar anak-anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, adalah isu ekologi. Ada sedikit kegelisahan di sana.

Beberapa pekan lalu, untuk pertama kali, saya ajak anak-anak berkeliling kampung berjalan kaki. Menyusuri setapak, saya ajak mereka melihat betapa lingkungan kami masih sangat asri, dengan kebun-kebun yang penuh pohon.

Ecolove2
melihat parit

Rumah kami, bisa terbilang strategis. Bukan dalam perspektif ekonomi atau komersial, namun dalam kenyamanan fisik dan non-fisik. Kami menghuni rumah yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, namun dengan akses yang mudah. Jalan di depan rumah tergolong memadai, tidak ramai.

Akses terhadap pusat pemerintahan, pendidikan, kesehatan juga dekat. Ketersediaan air alhamdulillah mencukupi, dan jauh dari polusi baik udara maupun suara. Lingkungan religi juga mendukung. Sebuah kondisi yang layah disyukuri.

Satu hal lagi, di sekeliling rumah, banyak kebun milik tetangga yang masih lebat dengan pepohonan, belum didirikan bangunan. Rumah masih sangat jarang. Mereka menjadi area tangkapan air dan oksigen yang luarbiasa.

Ecolove3
agak blur, but its okay

Ini adalah kondisi yang harus dijaga. Ada beberapa sumber mata air di dekat rumah, yang sayangnya kurang optimal dimanfaatkan. Namun, keberadaan mereka menunjukkan masih adanya keseimbangan alam yang terjaga. Ada sirkulasi sumber daya yang harmonis.

Saya masih awam perihal ekosistem, tapi secara naluri dan pengamatan, sistem yang tercipta di lingkungan kami adalah anugerah yang harus dijaga. Ada sirkulasi energi yang tak disadari menyokong kehidupan kami.

Kemarin, saya menemukan sebuah artikel tentang peta ekologi. Tajuknya, biodiverseni. Silakan dirujuk ke sini : rujak.org

Mereka keren, gaes. Membuat pemetaan wilayah berbasis ekologi. Mendata keanekaragaman hayati, mengukuhkan kelestarian ekologi, menjaga strata sosial yang diwariskan. Salah satu kalimat yang keren, saya kutipkan :

… menjaga keseimbangan antara kepentingan pembangunan dengan kepentingan untuk mempertahankan lingkungan, selain berfungsi untuk membuat rencana tata ruang yang menjamin kelestarian ekologi, sosial budaya dan ekonomi.

Nah, ada keinginan untuk mengikuti mereka, dalam skala yang kecil. Di lingkup RT, misalnya. Memetakan beberapa hal :

” daerah tangkapan air, pola interaksi manusia, sirkulasi energi, zonasi dalam konsep permakultur, tata ruang untuk pembangunan berkelanjutan, penjagaan tradisi dan tatanan masyarakat, penguatan ekonomi, hingga isu-isu zero waste “

Jika itu terwujud, ada keinginan untuk menyerahkan itu ke pihak pemerintah baik di desa atau yang lebih tinggi lagi. Untuk apa? Melindungi masa depan anak cucu kami.

Menjadi guidance bagi pembangunan di wilayah kami, di tengah beberapa isu yang cukup menggelisahkan : pengembangan kawasan perkotaan di Kulon Progo yang kini bersiap menyambut keberadaan bandara baru, dan isu akan digusur jalan tol. Ini tidak bagus.

Sejujurnya, saya tidak ingin hidup di rumah yang terletak tepat di samping jalan tol, dikangkangi oleh fly-over, atau harus kepanasan karena tak ada pohon. Tak bisa menimba air di sumur lagi. Mimpi buruk itu.

Pemetaan ekologi ini, menjadi penting sebagai advokasi diri kami. Selama ini kita hidup serampangan, padahal disokong dengan begitu cantik oleh alam. Dengan airnya, dengan oksigennya.

Sepetak tanah milik tetangga saya, barangkali dari sanalah air sumur kami disuplai. Dari keberadaan semak yang lebat milik warga di ujung desa, mampu menjaga suhu udara tetap sejuk.

Bayangkan jika itu semua akhirnya menjadi rest area jalan tol yang untuk masuk pun harus membayar. Akan ada perubahan ekologi yang signifikan.

Tapi, dari mana saya harus memulai? Hmm. Dari mimpi, mungkin.

Adakah yang mau berbagi mimpi yang sama?

Ecolove1
tugu masuk kampung kami, perhatikan guguran dedaunan yang cantik itu

*sumber featured image : research.ncsu.edu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s