Kebun, menunggu kata “Mulai”

Pasca merampungkan pembangunan rumah, yang sebenarnya masih jauh dari selesai, kami kembali ke rutinitas semula. Ada begitu banyak cerita selama proses membangun, yang semoga saatnya nanti bisa dituliskan. Sebuah proses yang menguras energi, emosi, hingga cerita-cerita hebat seputarnya. Dan yang pasti, menguras tabungan. Hehe

Kejenuhan dan berbagai tekanan yang muncul, bahkan hingga selesainya proses itu, cukup mengganggu, meski tetap mampu kami nikmati dengan baik. Pada akhirnya memang semua pikiran, disandarkan pada satu kata : Ikhtiar.

Meski begitu, selalu saja ada celah untuk merasa sangat capek dan bosan. Ada begitu banyak alasan untuk disampaikan, namun rasa capek, bosan dan sebagainya, hal yang wajar menghampiri manusia. Tapi, sewajarnya pula manusia berikhtiar untuk menemukan ketenteraman dan rasa nyaman di kehidupannya.

Selama ini, sepakbola adalah ketenteraman itu. Menonton pertandingan sepakbola adalah cara yang jitu untuk menghela kesumpekan. Tapi, itu kurang produktif, dan pada akhirnya malah jadi cukup mengganggu ketika terlalu “baper” melihat isu-isu mafia bola di Indonesia. Lalu, gimana dong ?

Instagram. Bukan, maksudku bukan melampiaskan kesumpekan dengan berjam-jam buka Instagram. Tapi, tiba-tiba saja dari sanalah muncul sebuah ketertarikan, untuk mendapatkan ketenteraman itu. Akhirnya, keyword dan tag yang saya ikuti, tak jauh-jauh dari : permaculture, garden, raised garden bed, urban farming, veggie, berkebun, organic dan terminologi lain seputar itu.

gardenbed

raised garden bed

Coba deh, set Instagram kita dengan banyak tag dan keyword seperti itu, lebih sejuk dan menenteramkan, terlebih jika dibandingkan dengan post-post seputar pemilu dan bacotan cebong-kampret. Dari situ, muncul niat untuk mencoba menjadi seperti mereka-mereka yang berhasil mengelola hidupnya berdampingan dengan alam. Ada beberapa User Instagram yang ku kagumi, seperti :

@nikijabbour @akademikompos @bumilangit.official @zautunafarm @sendalu.permaculture @kebunbelakang @kebunkumara @bandungpermaculture @humanswhogrowfood

nikijabbour

@nikijabbour

humanswhogrowfood

humans who grow food

Berbekal lahan yang masih cukup, memang niatan untuk memulai berkebun sudah sejak beberapa bulan lalu timbul. Tapi, ternyata tidak mudah. Ilmu, pengalaman dan peralatan yang sangat minim, terlebih waktu, membuat niat itu masih sekedar niat. Jauh dari kata “Mulai”. Atau, sudah mencoba secara asal-asalan menanam dan mengatur kebun, namun ternyata jauh dari apa yang disebut berkebun.

Belakangan ini, Istri ku mulai tertarik dengan hal yang sama. Bahkan, ia mulai duluan dengan membeli benih secara online, 2 buah tray bibit dan media tanam. Jadilah ia dan anak-anak, mulai menanam benih itu di tray yang sudah dibeli. Ada beberapa benih yang disemai, seperti benih cabai, tomat, bunga matahari, bayam, selada dan beberapa lainnya. Padahal, untuk menampung benih-benih itu ketika nanti sudah mulai tumbuh, harus mempersiapkan lahan dulu. Dan kami belum mempersiapkan itu. Duh.

Akhirnya, minggu lalu saya mulai untuk membenahi halaman samping yang penuh dengan rumput. Lalu, membuat raised garden bed sederhana dari papan kayu bekas dan batako. Ternyata, tak mudah. Butuh setidaknya sehari penuh untuk mengisinya dengan tanah dan pupuk kandang. Hmm, mungkin nanti perlu ulasan khusus, semacam tutorial membuat raised garden bed. Daan, meski amatiran, beginilah penampakan prosesnya :

Iya, belum secantik di postingan Instagram mereka yang sudah lebih expert. Tapi, paling tidak sudah sedikit mendekati kata “Mulai”. Nah, selanjutnya adalah membiarkan tanahnya selama beberapa minggu, sembari menunggu benih-benih yang ditanam mulai tumbuh dan siap dipindahkan. Lumayan juga, memang aktivitas berkebun mampu membuat pikiran jadi lebih fresh, keluar keringat dan badan terasa lebih enteng. Ya, semacam olahraga gitu.

Oke, mungkin postingan selanjutnya adalah tentang progres kebun kami. Semoga ada waktu untuk menuliskannya lagi. Oh iya, sebelumnya saya sudah mencoba menanam tanaman singkong, dan berhasil tumbuh. Tapi itu masih sangat newbie, siapapun bisa kalau cuma nancepin batang pohon singkong di tanah. Hehe. Sampai jumpa dalam tulisan selanjutnya. Salam.

daun singkong
daun singkong yang saya petik untuk sarapan 🙂
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s