Merubah Jam Kerja, 4 Hari dalam Seminggu

Sebuah tulisan dari Coco Khan, yang dimuat di Guardian

Rich Leigh, seorang pimpinan perusahaan komunikasi bernama Radioactive PR, sedang bersantai di sebuah kedai kopi di Gloucester. Di hari Jumat. Ya, benar di hari Jumat.

Radioactive PR mengadopsi 4 hari kerja dalam satu minggu. Mereka adalah satu dari sedikit perusahaan di Inggris Raya yang menerapkan : karyawan tetap mendapat gaji full 5 hari, tapi mereka bekerja hanya 4 hari. Perusahaan ini melakukan ujicoba sistem itu selama 6 minggu, dan ternyata mereka mendapat banyak capaian – di antaranya adalah tanda-tanda pertumbuhan.

Kunci utama dari skema ini adalah “kebahagiaan”.

“Ada 2 hal yang menghasilkan uang di perusahaan ini ; mempertahankan klien dan mendapatkan klien baru. Staf yang kelelahan tidak akan bisa mendapatkan kedua hal itu.”

Skema baru ini seakan menjadi solusi permasalahan di UK, yakni “produktivitas”. Pekerja di UK menjalani jam kerja terpanjang di Eropa, rata-rata mereka hanya mendapat 34 menit untuk makan siang, dan harus lembur hingga 10 jam per minggu (lebih sering tanpa dibayar). Ironisnya, produktivitas mereka kalah jika dibandingkan dengan Perancis, di mana rata-rata pekerja di Perancis mampu menghasilkan lebih banyak capaian di akhir hari Kamis.

Lebih dari setengah juta pekerja di UK ditengarai mengalami kecemasan dan tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan. Jika dikuantifikasi, itu setara dengan 12,5 juta jam kerja. Kemudian jika diukur biaya yang timbul, meskipun sulit, sebuah studi pada tahun 2014 menunjukkan itu setara dengan 4,5% dari PDB. Pada akhirnya, banyak perusahaan melakukan otomatisasi proses produksi, yang berdampak pada pasar tenaga kerja.

Jam kerja resmi Uni Eropa adalah 48 jam kerja per minggu, sedangkan UK merupakan satu-satunya yang membolehkan jam kerja lebih dari ketentuan.

Praktek tersebut dikritisi oleh serikat pekerja, yang menyebutnya sebagai “widespread abuse”. Sekjen Trade Union Congress , Frances O’Grady menyatakan, saat perusahaan mendapat kenaikan laba karena otomatisasi, hal itu harus dibagi dengan pekerja dalam bentuk pengurangan jam kerja. “ Ini adalah saat yang tepat untuk membagi kesejahteraan dari penerapan teknologi, jangan biarkan mereka yang berada di atas untuk menguasai sendiri.”

Bagi Angharad Planells yang bekerja di Radioactive PR, perubahan ini memudahkan dalam persiapan kelahiran anak pertamanya. “ Anda dapat berargumen bahwa dengan 4 hari kerja, anda hanya punya sedikit waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi kami sekarang punya hal baru. Tetapi selama Anda bisa mencapai hasil, tidak masalah kan ?”

Skema 4 hari kerja ini memberikan dampak besar bagi perempuan, terutama dalam tanggung jawab merawat keluarga, juga terhadap pekerjaan-pekerjaan di rumah yang terabaikan .  Terakhir, biaya penitipan anak yang bisa ditekan setidaknya untuk sehari.

Semenjak ujicoba skema ini, Angharad banyak menerima lamaran pekerjaan ke Radioactive PR. Bukankah ini positif?

Skema 4 hari bukan berarti membagi 40 jam kerja ke dalam 4 hari, ataupun sistem shift. Tetapi, menjadi 28 hingga 32 jam per minggu dengan gaji setara dengan 35 – 40 jam kerja. Di kota Edinburg, karyawan perusahaan teknologi “Administrate” juga menerapkan 4 hari kerja, meskipun kantor dibuka selama 5 hari – beberapa karyawan  bekerja dari Senin-Kamis , yang lain di hari Selasa-Jumat.

Administrate mencoba skema ini pada tahun 2015. John Peebles, CEO Administrate mengatakan , “Kami ingin melihat : Jika kami berinvestasi pada orang-orang (SDM), apakah outcome finansial akan menjadi lebih baik dibandingkan jika kami menjumput setiap penny ?

Pada kebanyakan perusahaan berbasis teknologi, waktu akan terbuang jika rapat terlalu lama, atau minum-minum di jam akhir. Tetapi bagaimana jika kita benar-benar bekerja dalam  32 jam seminggu tanpa membuang waktu ? Administrate mempunyai aturan ketat mengenai meeting/rapat yang singkat dan mendorong team-bonding (keakraban tim) dilakukan pada waktu yang ditentukan (jam makan siang, misalnya)

Luar biasanya, bukti ilmiah menyebutkan bahwa bekerja dengan jam kerja lebih pendek akan membuat kita semakin produktif. Akan tetapi, ide 4 hari kerja belum meyakinkan semua orang. Mark Price adalah mantan manajer pada Waitrose dan mantan deputi direktur pada John Lewis Partnership ; juga menteri Perdagangan dan Investasi di bawah PM David Cameron.

Price tidak menyarankan 4 hari kerja diterapkan pada sektor publik, di mana pekerjaan melibatkan pola shift yang harus mencover 24 jam layanan, 7 hari seminggu. Jika semua pekerja sektor publik bekerja 28 jam dalam seminggu, kita harus meningkatkan biaya hingga 20% untuk menutup hal itu, yang berarti pajak akan naik.

Price juga memberi perhatian pada sentimen di balik gerakan ini, di mana dia menyatakan, “ asumsi bahwa bekerja itu tidak bagus, membuatmu akan mengurangi bekerja. Kemudian dia menekankan pada frasa “keseimbangan kerja-kehidupan” (work-life balance), di mana ditafsirkan “hidup bukan untuk bekerja”. Dia berargumen, daripada konsentrasi pada kuantitas kerja, lebih baik fokus pada kualitas.

“Kita sebaiknya berpikir tentang kebahagiaan di tempat kerja. Saya tahu bahwa terdapat begitu banyak kebosanan yang mengerikan dan pekerjaan yang berulang-ulang, yang menjadikan pekerjaan itu diambil alih oleh komputer. Tapi kemudian tidak ada pekerjaan lain, pertanyaannya adalah bagaimana kita akan menciptakan pekerjaan di masa mendatang?”

Ada pertanyaan-pertanyaan yang kompleks menyangkut diskusi ini : Apakah pekerjaan itu ? Adakah perbedaan antara pekerjaan yang bagus dengan pekerjaan yang buruk, dan mengapa beberapa pekerjaan dibayar dengan baik sedangkan beberapa dibayar dengan buruk ?

Kenaikan harga properti di pusat kota menjadikan banyak pekerja harus menjadi komuter, hal ini menyebabkan mereka terbiasa membalas email saat perjalanan di dalam kendaraan. Apakah itu bisa diperhitungkan sebagai jam kerja ?

Aidan Harper, pendiri 4 Day Week Campaign, ingin memastikan hari kerja yang lebih pendek dijamin secara universal untuk semua pekerja, baik melalui legislasi maupun lobi serikat pekerja.

“Di UK, kami menghadapi pertumbuhan angka pekerja yang overworked. Tapi kami juga mendapatkan pertumbuhan angka mereka yang underworked. Jadi pertanyaannya : akankah redistribusi waktu, beban kerja, mampu menolong ?”

“Terdapat pertanyaan tentang -untuk siapakah ekonomi itu-. Pasti, tujuan ekonomi adalah menciptakan hidup yang baik di dalamnya, mempunyai dasar materi, di mana kita bisa mempunyai rumah, pendidikan dll. Tapi suatu ekonomi  yang kita tidak mampu ciptakan adalah waktu, yang kita tetap perlukan. Tahap selanjutnya dari perkembangan ekonomi bukanlah menciptakan barang, tapi menciptakan kondisi di mana kita bisa menjalani hidup dengan baik (live good lives).”

Skema 5 hari kerja sebenarnya juga merupakan buah perjuangan serikat pekerja di awal abad 20, mengikuti keuntungan dari penggunaan teknologi dalam industri. Mereka bernegosiasi untuk akhir pekan yang formal, daripada sekedar libur di hari Minggu.

“Bisnis kini berbeda dengan 30 tahun lalu, saat aku tidak bisa mengirim email, berbelanja online dan harus menggunakan mesin fax. Jadi, mengapa kita harus bekerja dengan cara yang sama?” kata Harper.

Di Gloucester, Leigh bersemangat untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan menikmati hari liburnya. “Kebanyakan bisnis di UK seperti milik saya, terbilang kecil, satu sampai sepuluh karyawan dan bekerja di industri jasa. Jadi, yang dapat kukatakan adalah, mengapa tidak mencoba ?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s