Menunggu Pasang Naik : Sebuah Perjuangan Kiribati untuk Bertahan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Selamat siang, semoga keberkahan senantiasa menyertai kita semua.

Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat pidato seorang presiden sebuah negara kecil di Pasifik. Di televisi tentunya, tivi kabel. Di hotel, pas tugas kantor. Ehemm.

Saya mencoba untuk mencari informasi tentang pidato tersebut, karena cukup menarik. Sayangnya, waktu itu pidato yang ditayangkan tanpa subtittle, full dalam Bahasa Inggris. Ternyata, itu adalah pidato yang disampaikan oleh Presiden Kiribati, Anote Tong. Sebuah negara kepulauan di Lautan Pasifik, berjarak 100 kilometer dari ekuator. Apa yang menarik? Isu utama yang disampaikan adalah perubahan iklim, di mana negara tersebut terancam tenggelam pada tahun 2030 akibat pemanasan global.

Pidato tersebut disampaikan dalam United Nation 2015 COP21 Climate Change Conference di Paris Perancis. Sebuah konferensi yang membahas perubahan iklim, dan upaya mencapai resolusi bersama seluruh negara dalam mengatasi dampak perubahan iklim.

Konferensi ini sendiri menghasilkan sebuah konsesus, yakni Paris Agreement. Salah satu isinya adalah upaya mereduksi emisi sebagai metode untuk mengurangi efek rumah kaca. Selain itu, negara-negara peserta juga setuju untuk mengurangi gas karbon secepat mungkin.

https://en.wikipedia.org/wiki/2015_United_Nations_Climate_Change_Conference

Kiribati terletak di sub-kawasan Pasifik (Mikronesia) dan merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas (+3,5 juta km2 ). Namun luas daratannya sangat kecil dan tersebar dalam 3 gugusan kepulauan yang masing-masing berjauhan letaknya. Luas daratan yang terdiri dari 34 atol dan karang, bila digabungkan hanya seluas 811 km persegi.

kiribati
Gelombang pasang menggenangi wilayah Kiribati, mengisolasi beberapa rumah penduduk. (image : The Guardian)

Wilayah daratan Kiribati saat ini terancam oleh meningkatnya permukaan air laut akibat perubahan iklim yang parah. Dikhawatirkan pada tahun 2030, sebagian besar wilayah daratannya akan tenggelam. Saat ini kenaikan permukaan air laut sudah mencapai 20 mm/tahun dan seringkali saat terjadinya gelombang besar (King Tide) mencemari sumber air tawar penduduk dan mematikan tumbuhan di sekitarnya.

Searching sana-sini, saya menemukan sebuah artikel menarik dari situs Guardian tentang Kiribati. Dalam konten The Guardian Picture Essay, Mike Bowers memaparkan beberapa sisi kehidupan di Kiribati. Bertajuk Waiting for the Tide to Turn : Kiribati’s Fight for Survival, Mike Bowers mencoba untuk menggugah kita untuk peduli terhadap isu pemanasan global, terutama pengaruhnya pada negara-negara kepulauan.

Saya coba menuangkan kembali artike tersebut, sekedar terjemahan bebas. Semoga esensinya tak terlewat.

Mike Bowers membuka artikel dengan kalimat menggugah : The 33 islands of Kiribati, a remote and low-lying nation in the Pacific Ocean, are under threat from climate change. But the islanders have not given up hope.

Kiribati adalah salah satu negara paling terisolasi di dunia. South Tarawa, pulau utama di negara itu terletak 100 km dari khatulistiwa, membentuk garis pasir tipis yang rentan. Di sebuah sisi, South Tawara dilindungi oleh karang tipis, setidaknya dari gelombang kecil. Di sisi yang lain, danau yang dangkal terbentang berkilometer ke arah laut.

Dari 33 pulau di Kiribati, titik tertinggi di sebagian besar pulau, termasuk South Tarawa hanya 2 meter di atas permukaan air laut.

south tarawa
Pulau South Tarawa (image : The Guardian)
anak-anak di kiribati
image : The Guardian

Jalanan di Kiribati

Populasi penduduk Kiribati sekitar 100ribu jiwa, di mana lebih dari separuhnya berada di South Tarawa. Uniknya, hanya ada 1 jalan raya di pulau ini, digunakan oleh semua orang. Anak sekolah, pasien rumah sakit, makanan, air, pekerja, taksi, minibus, hingga skuter.

Kiribati membutuhkan  77 juta dollar Australia untuk Proyek Rehabilitasi Jalan, di mana 30% nya dibiayai oleh Australia. Sebuah proyek vital yang mampu mengangkat kualitas hidup warga South Tarawa.

jalan di kiribati
Jalanan utama di Kiribati (image : The Guardian)
jalanan di kiribati
Jalanan utama di South Tarawa (image : The Guardian)

Naiknya Permukaan Air Laut

Perubahan iklim menjadi isu yang menyeramkan di Kiribati. Permukaan air laut yang terus naik, mengancam tanah pertanian, meningkatkan kekhawatiran akan nasib penduduk lokal jika pulau-pulau itu tenggelam.

seorang wanita di laut kiribati
Clara Antera, mencari ikan di Pulau Abaiang (image : The Guardian)

Masalah selanjutnya adalah ketersediaan pasokan air minum. Sumber air tawar tersembunyi di bawah atol, yang dikenal sebagai “lensa air”. Sifat air laut yang lebih padat daripada air tawar, membuat air tawar mengambang berbentuk cembung. Gelombang air kerap merusak tanaman ubi, yang dikenal sebagai “Babai Pits”.

Claire Anterea, koordinator Kirican (Kiribati Climate Action Network) menyampaikan ketakutannya pada apa yang disebut “dampak yang tidak biasa”.

 

Belum lama, dia melihat dampak gelombang air laut yang merusak kebun sayuran di pulau Abaiang. “ Ini membuatku meneteskan air mata, ya Tuhan ini sangat serius. Air laut hanya berjarak 2 atau 3 meter dari Babai Pit di mana sayuran itu ditanam.”

“ Aku merasa tak punya harapan ketika penduduk menderita, tapi aku juga mempunyai harapan bahwa penduduk akan mencoba temukan jalan untuk beradaptasi.”

permukaan laut
Beberapa rumah yang terisolasi karena gelombang pasang dan badai. (image : The Guardian)

Maria Tekaie (65 tahun), penduduk lokal di desa Tebontebike mengungkapkan ketakutannya, di mana desanya harus segera dipindah karena gelombang air laut.

“Anak-anakku khawatir, dan mulai berpikir di mana kami bisa pindah. Hanya inilah tanah kami, dan kami sangat mencintainya. Aku ingin dunia tahu, bahwa kami membutuhkan pertolongan untuk melindungi pulau kami. Jika kami membangun tanggul, gelombang laut kian kuat dan kami tidak punya pilihan. Kami memerlukan bantuan.”

wanita kiribati
Maria Tekaie di depan pohon kelapa yang tumbang, di mana air laut menyapu desanya (image : The Guardian)

Toroua Beree (63 tahun) juga berkeluh,” Saya pergi dari desa karena tidak ada kehidupan lagi di bagian pulau ini.”

“ Saya berbicara tentang kehidupan, karena sebelumnya tanah ini dipenuhi tanaman pisang, babai, kelapa, sangat banyak tanaman yang menyediakan makanan bagi kami. Tapi sekarang, tidak ada air untuk menghidupkan pohon kelapa. Semua orang punya hak untuk tinggal di sini, tapi sepertinya laut telah mengambilnya.”

laki2 kiribati
image : The Guardian

Entrepreneurship

John Kaboa dan istrinya, memiliki keinginan untuk mengumpulkan uang dan bersama keluarganya pindah ke negara lain jika suatu saat Kiribati tenggelam. Walaupun sebenarnya saya sangat mencintai negeri ini. Mereka menjalankan usaha Tebero Te Rau Bungalow  Resort. Semangat mereka dalam berwirausaha, sejalan dengan ketakutan dan keputusasaan.

Mereka juga menanam berbagai sayuran untuk memenuhi kebutuhan resort, daripada membeli produk impor. Mereka adalah contoh getirnya kehidupan di Kiribati, namun tetap optimis menjalani kehidupan.

bertani kiribati
John Kaboa di resortnya, di pulau Abiang (image : The Guardian)
kopra kiribati
Kopra, yang akan diekstrak menjadi minyak untuk memasak (image : The Guardian)
kebun kiribati
Kaboa di kebun ubinya, yg dikenal sebagai “Babai Pit” (image : The Guardian)

Pemerintahan Baru, Prioritas Baru

Pada Maret 2016, Taneti Maamau terpilih sebagai presiden Republik Kiribati. Berbeda dengan Anote Tong yang fokus pada lobi-lobi internasional untuk memberi kesadaran tentang masalah yang dihadapi Kiribati, Taneti Maamau memilih fokus ke dalam negeri.

Taneti merancang project jangka panjang yang disebut Kiribati Vision 20 (KV20). Mereka memberi perhatian pada bagaimana meningkatkan pendapatan negara melalui ijin perikanan dan pariwisata, dalam rangka menekan pengangguran, menaikkan kualitas pendidikan dan mengurangi kemiskinan.

Namun demikian, ada kekhawatiran dari pihak oposisi bahwa langkah tersebut akan sia-sia untuk menyelamatkan masa depan Kiribati, sehingga sangat tergantung pada intervensi internasional.

ikan kiribati
Hasil perikanan di Kiribati (image : The Guardian)
nelayan kiribati
Joseph Iteba dan hasil tangkapan untuk konsumsi keluarganya (image : The Guardian)

Tidak Ada Alasan

Pidato Anote Tong menunjukkan emosinya, perihal rakyat Kiribati yang frustasi, hingga kemarahan dan kesia-siaan. Ia bersedih hati untuk negerinya.

“Perubahan iklim bagi sebagian besar, bahkan semua negara-negara Pasifik adalah isu tentang bertahan hidup. Jika kita tidak bisa menghadapinya, semua usaha untuk mencapai ketahanan ekonomi , akan sia-sia.”

anote tong
Anote Tong duduk di tanggul yang “melindungi” rumahnya. (image : The Guardian)

“Semenjak saya di rumah (ex.presiden) saya melihat cucu-cucu saya tumbuh, dan pertanyaan yang selalu ada dalam pikiran adalah : Apa yang akan terjadi pada cucu-cucu saya itu, 20,30,40,50 tahun lagi ?”

Kemudian Mike Bower bertanya : Apakah penduduk Kiribati akan menjadi “Pengungsi Iklim” ?

“ Saya pikir tidak ada alasan, kita mempunyai waktu yang lebih dari cukup untuk menghadapinya.” Jawab Anote Tong.

Terkait Paris Agreement, meskipun Amerika Serikat menarik diri, Tong merasa saat ini adalah momentum yang tepat untuk menanggulangi Perubahan Iklim. Upaya pengurangan kenaikan suhu 2 atau 1,5 derajat tidak berpengaruh besar bagi negara seperti Kiribati, di mana kenaikan permukaan air laut terus menjadi ancaman nyata dan menjadi bencana.

Tong menaruh harapan yang besar pada Australia dan Selandia Baru, untuk mendukung Kiribati dalam UN Framework Convention on Climate Change di Jerman pekan depan.

“Jika tidak ada dukungan itu, akan menjadi pertanyaan besar, tentang arti hubungan selama ini dengan Australia dan Selandia Baru.”

Sayangnya, isu Perubahan Iklim hanya menjadi komoditas politik di Australia. Pada tahun 2015, Petter Dutton (Menteri Imigrasi) membuat lelucon tentang kenaikan permukaan air laut di Kiribati. Saat Perdana Menteri Tony Abbot mengeluhkan tentang molornya jadwal rapat pada Forum Kepulauan Pasifik di Papua Nugini, Dutton menyahut : “ Waktu tidak berarti apapun, saat kamu tahu, (bahkan) saat air (laut) memukul (menghantam) pintumu.”

Mungkin maksud dari pernyataan itu adalah menyindir, bahwa dalam waktu yang genting ini, kok rapatnya molor.

Anote Tong, yang biasanya berwajah teduh, menunjukkan raut kemarahannya terkait hal itu. Sentimennya didorong oleh penduduk Kiribati, termasuk Anterea.

” Ya, sebenarnya, air memang sudah menghantam pintu kami, ini tidak lucu untuk seseorang yang sedang terluka.”

” Saya pikir kalian terlalu nyaman di negara kalian. Cobalah datang ke Kiribati dan lihat dengan kedua matamu, bagaimana penderitaan kami.”

senja kiribati
Senjakala di Kiribati (image : The Guardian)

 

Iklan

2 respons untuk ‘Menunggu Pasang Naik : Sebuah Perjuangan Kiribati untuk Bertahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s