Indonesia, Ya Gitu Deh (1)

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati sebuah postingan tentang pendidikan di Indonesia, yang ternyata sangat menarik. Judulnya lumayan serem : “Indonesian Kids Don’t Know How Stupid They Are” Barangkali tidak perlu diterjemahkan ya, supaya tidak menimbulkan salah persepsi. Ada baiknya, sebelum nglempar gelas, bisa dibaca artikel aslinya di situs indonesiaets.com ini. Oh iya, pake Bahasa Inggris ya, ga usah Baper.

Siapa yang nulis?

Dialah Elizabeth Pisani, seorang jurnalis, penulis, dan peneliti kelahiran Amerika Serikat yang tertarik pada Indonesia. Elizabeth Pisani merupakan lulusan Oxford University dan London School of Hygiene and Tropical Medicine, kemudian menjadi seorang epidemiologist. Selain itu, dia adalah direktur Ternyata, Ltd. sebuah konsultan kesehatan di London.

UbudPisani-7
sumber foto : http://www.whiteboardjournal.com

Ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara, seperti China, Vietnam, Kamboja, Kenya, Timor Timur, India dan juga Indonesia untuk melakukan penelitian dan advokasi isu-isu kesehatan, terutama isu HIV-Aids. Ia banyak melakukan pekerjaan untuk PBB dan Bank Dunia. Hingga pada kurun waktu 2011-2013, Elizabeth Pisani melakukan perjalanan panjangnya di Indonesia, untuk mengaplikasikan keahliannya sebagai epidemiologist dan konsultan kesehatan publik.

Indonesia etc

Dari perjalanan panjang tersebut, Elizabeth Pisani membuat sebuah buku bertajuk : Indonesia etc. : Exploring the Improbable Nation. Mungkin kalau diterjemahkan : Begitulah Indonesia : Menjelajahi Bangsa yang tak Terduga. Buku ini berisi pengalamannya selama menjelajah Indonesia, mulai dari Sumba, Flores, Sulawesi, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Selama kurun waktu tersebut, Ia telah menjelajah hingga 20.000 kilometer perjalanan darat dan laut. Saya sendiri belum pernah membaca buku tersebut, semoga nanti bisa kesampaian membeli dan membacanya. Hehe. Kalau pengen baca resensinya, silakan rujuk ke blog ini : exploreadme.wordpress.com .

indonesiaetc
sumber gambar : exploreadme.wordpress.com

Indonesian Kids Don’t Know How Stupid They Are

Kembali ke bahasan awal, perihal sentilan Bunda Elizabeth Pisani dalam artikel tersebut. Jadi, artikel ini diawali dengan prolog berupa soal yang cukup menggelitik :

***

Ada 4 buah mobil dengan kapasitas mesin yang berbeda :

Alpha : 1,79

Bolte : 1,796

Castel : 1,82

Dezal : 1,783

Mobil manakah yang memiliki kapasitas mesin terkecil ?

***

Pertanyaan itu bukan sebuah pertanyaan yang menjebak, namun lebih dari 75% siswa usia 15 tahun di Indonesia tidak memiliki kemampuan matematis untuk menjawab soal tersebut dengan benar. Hmmm. Kamu bisa?

Soal tersebut adalah bagian dari Tes PISA (the Programme for International Student Assesment), sebuah survei internasional trienal untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia dengan mengetes kemampuan dan pengetahuan siswa usia 15 tahun. Setiap 3 tahun, tes PISA diadakan, dengan mengambil objek anak-anak di 65 negara. Statistik hasilnya bisa ditengok di situs ini : www.oecd.org

Tes PISA tahun 2012 menunjukkan hasil yang tidak cukup baik bagi Indonesia. Cek di sini. Indonesia menampati posisi terakhir dalam hal matematika dan sains. Iya, terakhir. Beberapa temuan yang dikemukakan oleh Pisani :

  1. Setidaknya 42% siswa usia 15 tahun di Indonesia tidak mampu mencapai level terendah dalam tes matematika, yang berarti mereka tidak bisa “menampilkan tindakan yang tergolong paling mudah dimengerti dan mengikuti stimulasi yang diberikan dengan segera”.
  2. Tiga dari empat siswa tidak mampu mencapai level 2 dari tes ini. Artinya, mereka tidak mampu membuat interpretasi literal atas data yang sederhana, misalnya membaca diagram batang.
  3. Hanya 0,3% yang mampu mencapai level 5, bandingkan dengan Cina Shanghai yakni sebanyak 55%.
  4. Dalam sains, seperempat siswa Indonesia tidak mampu mencapai level terbawah tes kemahiran.
  5. Sebanyak 42% gagal di level 1. Artinya, 2 dari 3 anak tidak mampu menyimpulkan kasus yang sederhana.

Hmm, cukup menggelitik bukan. Berikut adalah grafik statistik hasil tes PISA tahun 2012. Jika ingin melihat posisi Indonesia, mudah kok. Lihat saja di posisi terbawah.

pisa 2012
sumber gambar : indonesiaetc.com

Beberapa hal yang menggembirakan, salah satunya mungkin tingkat membaca, di mana 45% mampu melewati level kemahiran dasar, yang artinya dapat berpartisipasi secara efektif dan produktif dalam kehidupan.

Angka-angka tersebut, bagi seorang Elizabeth Pisani mungkin cukup menjadi santapan yang lezat, jika ditilik dari karakter dan penyampaiannya yang blak-blakan. Silakan baca tulisan-tulisannya di situs indonesiaetc, bagaimana ia menuangkan kritik, pendapat dan perhatian yang tajam terhadap persoalan-persoalan di Indonesia. Tidak hanya bidang kesehatan, namun juga politik.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh whiteboardjournal  di sela-sela Ubud Writers and Readers Festival 2016, Pisani menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan bahasa yang lugas, kritis, langsung ke ulu hati, awakening sekaligus menjewer kuping.

***

Pertanyaan : Anda pernah tinggal di Indonesia selama bertahun-tahun dan berkesempatan untuk melihat langsung budayanya. Bagaimana Anda melihat budaya Indonesia sekarang?

Pisani : Budaya yang mana? Itu pertanyaannya (tertawa). Karena konteks budaya Indonesia ini agak rancu. Sebenarnya budaya Indonesia merupakan suatu hal yang terdiri dari beragam elemen, dalam hal ini adalah budaya tiap suku. Jadi memang budaya Indonesia merupakan hal yang khusus, tapi tidak bisa berdiri jika dipisahkan dari budaya daerah yang membangunnya. Kalau saya melihat budaya Indonesia hari ini, mungkin sedikit lebih lemah daripada dulu kala. Saat ini budaya lokal lebih kuat dengan adanya otonomi daerah. Selain itu, adanya kesempatan untuk memakai bahasa daerah menjadi pendorong budaya daerah ke permukaan dan dari segi politik pun, kepala daerah mulai ikut andil dalam kegiatan lokal yang dapat menarik pariwisata.

Sekitar 25 tahun yang lalu, saya ke Sumba dan mendapat kesempatan untuk melihat Pasola – perang kuda ala daerah sana. Saat itu tidak ada satupun orang dari pemerintah yang hadir, karena hal tersebut dianggap kampungan. Sedangkan sekarang, hampir semua elemen pemerintahan daerah, seperti bupati hingga Kapolda datang ketika acara tersebut diselenggarakan dengan memakai baju tradisional. Dengan keadaan itu, saya merasa kebudayaan nasional agak lebih lemah.

***

Nampaknya, Pisani jauh lebih memahami secara mendalam bagaimana karakteristik dan budaya Indonesia secara holistik, apalagi dengan pengalamannya visit and stay di banyak wilayah. Sedangkan kita, sebagai WNI barangkali malah belum bisa mendalami secara langsung, sebagaimana yang dilakukan oleh Pisani. Ia sudah bisa membandingkan antara budaya di satu daerah dengan daerah lain.

Secercah Cahaya

Di balik jeleknya hasil tes PISA dalam hal matematika dan sains tersebut, kita dihibur dengan sedikit hasil yang berbeda ketika mengukur tingkat kebahagiaan siswa. Proporsi kebahagiaan siswa ketika berada di sekolah mencapai 95%, tertinggi dari semua partisipan tes. Lebih tinggi daripada Cina Shanghai sebanyak 85% dan Korea Selatan di angka 60%.

Screenshot 2018-02-22 12.30.09

Apa artinya? Sekali lagi, sudut pandang seorang Pisani yang kritis menanggapi hal ini dengan sentilan. Ia menduga bahwa siswa di Indonesia merasa bahagia di sekolah karena tuntutan dan permintaan terhadap mereka cukup kecil, dengan kata lain, tidak ada target yang besar. Hmm, masuk akal juga.

Namun menurut saya, bukan saja hal itu. Memang, secara kultur masyarakat Indonesia memandang bahwa hidup ini adalah sebuah anugerah, sehingga kebahagiaan ditempatkan sebagai hal yang utama. Terlebih bagi suku Jawa, di mana prinsip-prinsip olah jiwa sangat ditekankan, sehingga banyak orang tua yang senantiasa menasehati anak-anaknya untuk tetap rendah hati dan bahagia pada kondisi apapun. Mangan ora mangan, sing penting kumpul.

Meskipun kini bermunculan gerakan di masyarakat yang mempertanyakan sistem pendidikan di Indonesia, terlebih dengan proses penyeragaman yang seolah-olah meniadakan minat dan bakat anak, sentilan Pisani ini perlu diperhatikan oleh para pemangku kebijakan di dunia pendidikan.  Masalahnya, ketika tingkat kebahagiaan itu disandingkan dengan skor atau nilai akademis, didapat hasil seperti grafik ini :

bahagia
sumber gambar : indonesiaetc.com

Ternyata, tingkat kebahagiaan tersebut berbanding terbalik dengan skor. Simpulan yang nakal mungkin akan berkata “siswa yang bodoh cenderung bahagia di sekolah”. Dan mendominasi.

Indonesia, ya Gitu Deh

Jika membicarakan sistem pendidikan di Indonesia, siapapun pasti akan bingung sendiri. Apa yang hendak dicapai ? Mengapa kurikulumnya ganti terus? Kenapa banyak sekolah ambruk? Model pendidikan apa yang paling sesuai? 20% dana APBN untuk pendidikan, ke mana saja?

Bukan kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, sebagai seorang ayah dengan 2 orang anak yang masih balita, saya sudah cukup pusing memikirkan model pendidikan yang sesuai untuk mereka kelak. Saya melihat, sekolah-sekolah formal, terutama sekolah negeri kurang mampu menjadi madrasah yang holistik dalam membentuk pendidikan. Serba parsial.

Nah, karena perlu tulisan yang lebih panjang, cukup di sini dulu, nanti kita sambung lagi di edisi selanjutnya. Semoga diberi kemudahan dan kelapangan supaya bisa melanjutkan lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s