Pelangi Pemikiran

Agaknya, saya sedikit kesal dengan perang pemikiran di sosmed, akhir-akhir ini. Kok ya semua orang seakan dipaksa untuk “berkutub”. Kutub Utara vs Kutub Selatan. Kelompok kotak-kotak berkawan dengan geng berjubah melawan kelompok pengendali udara. Atau kubu pro Jokowi versus kubu pro Jarjit Singh. Apa sedemikian hebat ya, polarisasi yang sudah terjadi.

Kebetulan, saya juga mengikuti beberapa grup Whatsapp, yang dua di antaranya ibarat grup neraka, karena ada Jerman dan Argentina di dalamnya. Yang satu grup, total menjadi pendukung satu kutub, dengan kacamata kudanya. Yang satu lagi, pendukung kutub lainnya, tentu saja berseberangan, dengan totalitas butanya.

Sungguh menggelikan ketika kedua grup ini menggoreng masalah yang sama, namun dengan kacamata yang samasekali berbeda. Saya cukup menyimak saja, walau kadang juga memancing dengan opini yang berlawanan. Dikit saja berbeda opini, langsung dicuap-cuap. Di grup satu, langsung dicap intoleran. Lalu di grup satunya lagi, langsung dicap liberal. Lho, kok bisa?

Mbok ya, yang biasa saja. Masak nasi goreng kalau terlalu banyak sambel, lidah bisa kebakar kan? Mosok gak eman-eman otaknya, kalau kebanyakan sambel pemikiran.

Kedua grup itu seakan mau meledak saat Pilkada di Jakarta kemarin. Tak bisa membayangkan, jika dua grup itu disatukan, bisa-bisa terjadi tawuran massal di Konoha. Bahkan sampai sekarang, perilaku mereka jadi terbalik. Yang semula selalu membela Pemda Jakarta, berbalik mencemooh dan menghujat. Yang semula gigih mengumpat Pemda Jakarta, kini mati-matian membela setiap kebijakannya. Alahiyuung. Keduanya sama : suka bikin meme kasar, minim tabayun, jatuh pada hoax, dan ulet berdebat.

Saya jadi sedikit penasaran, jika ada orang yang di jaman ini berani tampil beda, dengan tetap menunjukkan identitas yang kuat. Gambarannya mungkin seperti ini :

***

Namanya Joko. Nama lengkapnya Muhammad Joko Nuswantoro, beragama Islam. Dia bangga menggunakan nama kunyah Abu Haikal, karena punya anak bernama Muhammad Haikal  Hadikusumo. Dia bekerja sebagai PNS, dan dia sangat mencintai NKRI sebagai sebuah konsensus yang luhur. Joko juga aktif di LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan, ya semacam ACT atau Mer-C. Dia juga senang berkegiatan di forum-forum Bela Negara.

Si Joko ini juga hobi membaca buku-buku yang inspiratif. Banyak judul buku yang dia baca dan koleksi, karangan Gus Mus, Salim A Fillah, Felix Siaw, Cak Nun, Renald Kasali, Jusuf Kalla, Fauzil Adhim, Gus Awy, Merry Riana, Puthut EA, Buya Syafii Ma’arif, Buya Hamka, Habib Novel Alaydrus, dan masih banyak lagi.

Joko juga seorang yang taat dalam beribadah. Dia suka mendengarkan kajian-kajian keIslaman, seperti ceramah dari Ustad Yusuf Mansur, Ustad Bachtiar Nasir, Habib Novel Alaydrus, Ustad Abdul Shomad, Ustad Salim A Fillah, Habib Luthfie bin Yahya, Buya Syafii Ma’arif, Ustad Adi Hidayat, Kyai Musthofa Bisri (Gus Mus), Cak Nun, Ustad Abdullah Gymnastiar, Dr. Ahmad Lutfi,  Habib Rizieq, Habib Taufiq, Syaikh Ali Jaber dan yang lainnya.

Dia adalah pengagum seorang Gus Dur dengan nilai-nilai universal yang disuarakannya. Dia juga senang dengan pemikiran Buya Syafii Ma’arif tentang kesederhanaan dan nilai kebangsaannya. Selain itu, Joko juga pengagum berat Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi, juga tokoh Pan Islamisme, Jamaludin al Afghani. Bagi Joko, mereka ini orang-orang hebat yang senantiasa berpikiran maju untuk kepentingan masyarakat.

Di masyarakat, Joko terkenal sangat baik dalam bersosialisasi tanpa membeda-bedakan suku, agama maupun golongan. Dia aktif dalam organisasi kemasyarakatan, seperti karang taruna, majelis taklim, relawan tanggap bencana, organisasi perlindungan anak dan perempuan. Dia juga didapuk menjadi pengurus di Forum Kerukunan Umat Beragama di wilayahnya.

Sebagai orang Jawa, Joko juga sangat senang dengan pentas wayang kulit, dengan segala cerita dan petuah di dalamnya. Joko bahkan ikut belajar gamelan yang digelar oleh sebuah sanggar kerawitan. Di waktu lain, Joko senang mendengarkan nasyid dan sholawatan ala Habib Syech bin Abdulqodir Assegaf. Dia tidak alergi dengan lagu-lagu penyemangat dari barat seperti You Raise Me Up -nya Josh Groban atau Hero-nya Mariah Carey.

Di keseharian, Joko kerap mengenakan gamis panjang putih, baik ketika di masjid maupun ketika santai di rumah. Sang istri juga selalu tampil anggun dengan hijab panjang yang menjulur menutupi badannya. Mereka kerap terlihat mesra, baik ketika ikut pertemuan RT ataupun saat menghadiri pentas seni HUT Kemerdekaan RI. Di kala ada acara tradisi seperti merti desa, mereka tak canggung mengenakan pakaian adat Jawa. Joko mengenakan beskap lengkap dengan segala assesorisnya, sedangkan sang istri berkebaya anggun dengan bawahan batik, tentu saja dengan hijab panjang menutupi rambut.

Sebagai PNS, tentu Joko paham betul bahwa ia tak boleh terlibat politik praktis dan aktif di parpol. Namun, itu tak menghalanginya untuk berpartisipasi dalam semua jenis pesta demokrasi, seperti Pilkada, Pileg maupun Pilpres. Ia paham betul, bahwa itu adalah bentuk hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Ia sudah mafhum, bahwa tak semua partai itu buruk, namun tidak semua partai itu baik. Ia selalu mencari informasi yang memadai tentang para kandidat yang bertarung dalam pemilu, tak peduli dari partai apapun, selama calon itu berintegritas dan layak, ia akan memilih. Sebaliknya, jika sang calon itu buruk, Joko tidak akan memilihnya, tak peduli dari parpol apa. Ia akan memilih sesuai hati nuraninya, dengan panduan yang sudah dituntunkan tentang bagaimana memilih pemimpin dalam ajaran agamanya.

Ia tak mau menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, yang sekedar ikut tuannya. Ia menginginkan pemimpin yang baik, amanah, mau memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, memperjuangkan kebaikan, menegakkan agama dan kemanusiaan. Ia sangat kesal dengan oknum-oknum partai yang korupsi, anggota legislatif yang ingkar, pemimpin daerah yang tak bermoral. 

Ya, Joko hanya ingin kedamaian. Ia berusaha untuk menjalankan kehidupannya dalam harmoni, tanpa menabrak ajaran-ajaran Agamanya. Baginya, kekacauan yang terjadi belakangan ini adalah buah dari sifat manusia yang tamak tanpa memperhatikan agama dan kemanusiaan. Mereka lupa bahwa kemakmuran suatu bangsa bisa dicapai dengan bersatu dan berBhinneka Tunggal Ika. Namun yang terjadi adalah politik uang, perpecahan, keserakahan dan meninggalkan nilai-nilai agama dalam mengelola bangsa.

***

Oke, cukup berkhayalnya. Saya rasa, kalau semua orang bisa seperti si Joko ini, niscaya bangsa Indonesia akan aman dan damai selalu. Keributan dan perpecahan tidak akan terjadi. Namun, sayangnya hal itu tak banyak. Yang banyak adalah kalau kita separtai, kita segolongan, kita satu kepentingan, maka kita berkawan. Kalau tidak, berarti kita musuhan. Begitu terus, sampai nafsu mereka tercapai. Bahkan, kawan pada akhirnya menjadi lawan, dan sebaliknya. Partai-partai yang dulu mesra, di kemudian hari bisa saling bermusuhan, sampai ke tingkat kader-kadernya di akar rumput. Alaahiyuuuung.

Memang, pemikiran seperti si Joko itu terkesan gado-gado, tak jelas memihak siapa, tak konsisten, bisa dicap liberal tapi juga bisa dicap radikal, penjilat, atau pragmatis. Tapi, pemikiran yang sedemikian “pelangi” seperti itu justru indah. Ia menciptakan harmoni dalam otaknya, beridentitas kuat dan tak mau terpolarisasi. Ia bisa masuk di kalangan manapun, berkawan dengan siapapun, tidak stress kalau calon gubernur pilihannya kalah, tidak ujub kalau menang. Enak kan?

Biar komplit, nih ada kartun bagus, dapet dari facebook. Mungkin si Joko adalah tokoh yang di sebelah kanan :

perang pemikiran

 

Iklan

2 respons untuk ‘Pelangi Pemikiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s