Untuk PNS yang Sekolah lagi

Memasuki bulan ketiga, memasuki kampus lagi, membuka diktat-diktat lagi, berkutat pada KRS lagi. Ya Kariim, sebuah kenikmatan lagi.

Kelas karyawan, sebuah program yang menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mengembangkan kapasitas diri, meniti karir lebih tinggi, dan tidak mau terhenti di satu titik. Juga jembatan bagi ambisi-ambisi diri, dan lebih sarkas lagi, jadi titian jadi kasubbag. Bervariasi nian, motivasi dan tujuan mereka, dari yang mulia sampai yang sekedar ingin mendunia.

Bagaimana dengan kamu?

Tak banyak sebenarnya yang dikejar. Yang paling saya ingat adalah petuah Bapak saya :

“Anak-anakku, kalian saya kuliahkan semua, tapi cuma sampai D3. Semua sama, supaya adil, nanti kalau mau yang lebih tinggi, lakukan dengan kemampuan kalian sendiri.”

Iya, saya dan dua adik saya dikuliahkan di tempat yang sama, kampus yang sama, bahkan prodinya pun sama. Dan alhamdulillah kami semua sudah lulus, masing-masing telah mendapatkan pekerjaan. Beberapa tahun berlalu, dan baru di tahun ini, saya bisa melanjutkan apa yang Bapak nasehatkan kala itu.

Okey, lalu apa yang pengen kamu tuliskan di sini?

Ndak banyak sih, cuma pengen meluruskan niat. Terkadang, nada-nada sumbang memang terdengar, walau tak banyak, dan bisa diabaikan. Kerucutnya, PNS yang melanjutkan kuliah itu semata ingin naik pangkat, ngejar jabatan, and all about their bank account. Money and money, all thru the way. Macam itu keh?

Begini ya sob. Kalian-kalian yang selama ini kritis terhadap orang di lingkaran birokrasi, suka memviralkan video amatir, bikin surat terbuka, atau sekedar menginginkan perbaikan layanan publik, cobalah untuk tidak nggebyah uyah (menyamaratakan) segala sesuatu.  Tidak cukup hanya dengan melakukan eksperimen sosial, ngevlog, endorse, atau bikin meme. Cobalah untuk berdialog dengan mereka.

Jamak terdengar, baik di realitas nyata maupun media sosial, keluhan-keluhan seputar pelayanan birokrat yang buruk, inspeksi mendadak ala-ala koboy terhadap PNS, sampai rekaman kamera tersembunyi di kantor pemerintahan. Makin sempurna, dengan sulitnya mendapatkan KTP Elektronik, cap buruk terhadap kinerja PNS. Lalu, bagaimana pangkal ujungnya?

Harus diakui, pola rekruitmen birokrat di era 90an dan sebelumnya, masih belum tersistemasi dengan baik. Hubungan kekerabatan, percintaan, persukuan dan sejenisnya masih banyak dipraktikkan dalam penerimaan PNS. Efeknya, terasa di masa-masa sekarang ini.  Tahun 2000 an ke atas. Ibaratnya, kita ini sedang memanen buah mangga yang hambar, karena menanam bibit yang buruk di masa lalu. Terlalu menggenalisir? Nggak juga, coba deh telisik lebih jauh di lingkungan kalian.

Masalah selanjutnya adalah : sudah masuknya pake nepotisme, nggak punya kompetensi lagi !! Kan parah. Ini soal pendidikan, soal kualifikasi yang mumpuni dari para birokrat kita. Nah, kalau permasalahan tentang pola rekruitmen tadi tidak bisa kita apa-apakan, wong sudah terjadi. Tetapi, untuk standar kompetensi ini masih bisa digenjot.

Jika melihat pola rekruitmen pasca 2008, sebenarnya sudah ada perbaikan secara signifikan. Mereka yang lolos dalam seleksi, secara umum mempunyai kualifikasi yang lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya. Kemudian, rekruitmen CPNS kian patut diapresiasi semenjak pemberlakuan CAT pada 2014.  Hasilnya, bisa dilihat beberapa perbaikan dan kenaikan performa di berbagai lembaga pemerintahan, termasuk upaya reformasi birokrasi.

Namun, hal itu belum cukup. Benih yang berkualitas, tetap harus dirawat dengan baik. Kembangkan terus kompetensi dan intelektualitas. Nah, salah satu caranya ya, seperti pada judul tulisan ini : sekolah lagi. Jadi, tujuan kita sekolah adalah memang meningkatkan kualitas diri, yang pada akhirnya akan mampu mengangkat performa instansi tempat bekerja.

Lalu apa? Ya biar ga jadi sasaran surat terbuka lagi. Biar ga terus-terusan dicap sebagai pemboros APBN. Biar aman dari intaian kamera, dan tidak lagi jadi bahan meme.

Ibaratnya, di medio 2008 hingga sekarang ini, sedang ditanam bibit-bibit unggul. Harapannya, nanti 20 tahun lagi, dan seterusnya, Indonesia bisa memanen buah-buah yang ranum dan bergizi. Indonesia akan memanen birokrasi yang handal dan berkualitas. Indonesia akan dibangun oleh PNS-PNS yang hebat. Patriot sekali.

So, niatkan studi kita untuk kebaikan. Bukan semata-mata mengejar kenaikan pangkat. Boleh sih boleh, toh memang hal itu akan membawa konsekuensi logis pada karir. Namun, tanpa perlu dikejar, kualitas seseorang memang dapat menentukan kesuksesannya.

By the way, saya sering merasa kagum pada kawan-kawan sekelas di kampus. Mereka sangat heterogen : driver ojek online, karyawan apotek, sales elektronik, dari yang muda sampai yang sudah berkepala 4, bahkan karyawan yang habis kena PHK. Luar biasa semangatnya. Selalu menyenangkan ketika kami bersama-sama berjuang menuntaskan studi ini. Mereka tentu punya berbagai tujuan, namun yang pasti bukan karena berusaha menaikkan grade tunjangan kinerjanya. Atau pengen naik eselonnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s