Ayah sekolah dulu ya Nak

September. Kick-off.

Dua minggu sudah, saya menambah daftar aktivitas harian. Sebuah kesibukan baru, yang sangat membutuhkan effort dan kebesaran hati. Ayahmu sekolah lagi Nak. Meneruskan langkah biar ada embel-embel sarjana di belakang nama. Dan sebuah wujud dari kata-kata kakekmu dulu ; Bapak hanya mampu menyekolahkan kamu sampe D3 saja, kalau mau lanjut sarjana, silakan berusaha sendiri. Ah Pak, D3 yang Bapak persembahkan itu sudah sangat luar biasa, tak pantas ada kata “hanya” di situ.

Ayah mau ka’ mana?” si Nahlendra bertanya, pagi itu.

Biasanya saya hanya menjawab ; Ayah mau kerja Nak, baik-baik ya di rumah. Eh, tapi mulai hari ini, ayah pulangnya malam.

“Trus lanjut sekolah, sampai malam Nak………….” 

Kok berat ya rasanya. Mungkin hari-hari selanjutnya, saya yang mesti mencium tangan anak-anak, dan tentu saja Bundanya, meminta izin untuk menuntut ilmu.

Si Bunda, hanya tersenyum cantik melihat percakapan kami. Anggunnya dia, dengan kebesaran hati dan sokongan luar biasa, meyakinkan saya untuk menempuh langkah ini. Dan itu berarti banyak. Sangat banyak.

Ada momen yang dikorbankan. Ada pelukan yang berkurang. Ada waktu-waktu yang akan dirindukan. Lalu, kami akan melalui hari-hari yang menantang itu. Si Ayah ; pulang malam, tumpukan tugas, melawan kantuk di kelas, himpitan antara sekolah dan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Sedang si Ibu ; seperti biasa, merawat dan mendidik jagoan-jagoan kami, tapi dengan tenaga dan waktu ekstra. Minus saya di sampingnya, setidaknya antara pukul 17 sampai pukul 22 setiap harinya.

Benar saja, dalam dua minggu ini, beberapa hal yang saya temui ; anak-anak yang sudah tertidur, dan istri yang tetap setia menanti saya, dengan segelas teh hangat gula batu plus jeruk nipis. Tentu saja saya tahu, dia pun sama letihnya. Bahkan lebih daripada saya.

Anak-anak anteng kan sayang?” tanyaku.

“Ya seperti biasa, kadang-kadang anteng, kadang lari-lari. Pinter-pinter ngadepin saja sih. Hehe.” si Bunda menjawab.

Memang, banyak pertimbangan yang kami lalui untuk hal ini. Dan inilah kami, keputusan kami. Mumpung anak-anak belum mulai sekolah, bapaknya dulu lah. Hehe.

Di pagi hari pun, seperti itu. Saya lebih antusias menanti mereka bangun, meski beberapa puluh menit kemudian harus berpamitan pada mereka. Waktu-waktu sempit itu, menjadi sangat berharga. Yang kadang, memaksaku sedikit menunda perjalanan ke kantor, barang 10 atau 15 menit.

Tenanglah Nak. Setidaknya ini cuma dua tahun ke depan. Setelah itu, akan banyak cerita indah dan waktu-waktu bahagia dengan kalian, lebih dari yang sekarang ini. Saiki ngampet disik. Prihatin.

Ah, kini hari Sabtu dan Minggu menjadi sangat sangat sangat berharga. Pesan dari istriku ; Ayah, manfaatkan Sabtu dan Minggumu. Anak-anak lelakimu butuh sosok lelaki. Mereka rindu. Jangan biarkan mereka kehilangan sosok tangguh, ajak mereka ngobrol dan peluk mereka.

“Siapp Bunda…!!! Terus, untuk bunda??” Saya sedikit menggoda.

“Yah, bunda mah gak neko-neko. Ajak jalan-jalan atau beliin eskrim, sudah cukup…” Aiihh si Bunda merajuk. 🙂 Ah, kucium saja si Bunda.

Dan sebuah cubitan melayang di perut saya.

 

Iklan

4 respons untuk ‘Ayah sekolah dulu ya Nak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s