Anak mau jadi Atlet?

atlet
foto dari http://www.bola.com

Beberapa waktu yang lalu, saya dan istri terlibat obrolan kecil. Kala itu, menonton sebuah segmen berita mengenai gelaran Sea Games 2017 Kuala Lumpur. Iya, sampai detik ini, pesta akbar olahraga se-Asia Tenggara ini masih berlangsung. Ribuan atlet terlibat, memberikan kemampuan terbaik bagi negara mereka masing-masing, memperebutkan medali dan kebanggaan.

Si nyonya terheran-heran melihat tayangan perolehan medali dari setiap kontestan. Ini kok Indonesia (negeri kita tercinta) “cuma” berada di peringkat lima? Kalah dari Malaysia, Vietnam, Singapura dan Thailand. Masak gitu sih? Tetangga masa gitu? Eh.

“Kok Malaysia bisa dapat medali begitu banyaknya sih?”

“Iyalah, mereka kan tuan rumah, di mana-mana tuan rumah itu banyak menangnya.”

Saya memahami bagaimana gemesnya istri saya ini melihat klasemen itu. Dan saya sangat paham mengapa dia tidak rela jika Malaysia bisa nangkring di atas Indonesia dalam perolehan medali. Ya, meskipun di rumah kami, tayangan Upin dan Ipin masih menjadi primadona. Kembali lagi, ke tema : Tetangga masa gitu?

“Sebenarnya, kualitas olahraga sebuah negara, adalah cermin dari kualitas sumber daya manusia, juga kondisi bangsa itu. Tau sendiri kan, Indonesia saat ini seperti apa.”

Eh, sang suami mencoba berdiplomasi bijak. Dan getir.

“Iya ya Yah. Bener juga, di sini jarang ada orang yang serius mau menjadi atlet. Gak bisa dijadikan sandaran hidup.”

“Benar, lebih baik cari kerja yang pasti hasilnya. Jadi atlet, masih harus mikir asap dapur. Di luar negeri sana, katanya para atlet dijamin kehidupannya.”

Si ayah kembali berlogika. Meski kesel juga liat tabel medali.

“Ayah, kalau anak-anak kita punya cita-cita jadi atlet, boleh tidak?” 

Tiba-tiba si Bunda cantik ini melontarkan pertanyaan yang MNCNGNGKN.

“Atlet apa?”

“Ya atlet olahraga. Tapi yang gak terkenal gitu. Pentaque, anggar, squash, atau wushu gitu ? Sniker, kriket, kanoing, skating?”

Eh, ini si bini, kok tau nama-nama olahraga yang susah dieja gitu sih? Gak langganan tabloid Bola padahal.

“Kok nggak olahraga yang terkenal aja, sepakbola, bulutangkis, atau basket gitu. Biar jelas karirnya, sekalian jadi atlet profesional. Itu olahraga kan gak bisa memberi penghidupan? Mending jadi PNS, kaya ayah”

Giliran si Ayah menjawab dengan sebuah pertanyaan klise.

“Nah, gimana olahraga negara kita mau maju, kalau pemikirannya seperti ayah ini semua. Padahal medali cabang olahraga populer ini cuma dikit lho Yah. Itu nanti kalau cabang atletik udah jalan, makin terbenam negara kita. Yang banyak medalinya itu malah yang namanya aneh-aneh tadi”

Oke, fiks. Si Bunda selain manager rumah tangga yang hebat, juga ahli diplomasi dan politik. Saya nyerah. Mencoba mengalihkan perhatian dengan membahas menu baru di Krusty Krab.

“Hmm, ya mau bagaimana lagi. Kecuali kalau semua atlet dijadikan PNS, tanpa perlu menunggu dapat medali emas Olimpiade, baru anak-anak boleh jadi atlet.”

“Ih ayah ini, apa-apa kok diukur dari PNS. Kebanggaan sebuah bangsa gak diukur dari banyaknya PNS. Prestasi olahraga lah yang dilihat oleh dunia internasional. Ah ayah nih ga gaul nih.”

Buset. Ini Malaysia dapat medali terbanyak, saya yang disalahin sama istri. Embuh, mungkin jiwa nasionalisnya sedang membuncah.

“Lha kalau Bunda, boleh nggak Nahlendra dan Nara jadi atlet sepak takraw?”

“Enggg.. Ya enggak sih, mendingan jadi dokter atau dosen, tapi juga jago sepak takraw.”

Tepok jidat. Yasudahlah, mungkin permasalah di dunia olahraga negeri kita sangat kompleks, sampai-sampai saya dan istri sempat mau memboikot Upin dan Ipin dari list tontonan kami gara-gara prestasi di Sea Games kalah dari Malaysia. Untungnya, diprotes oleh Nahlendra.

Disclaimer : Percakapan nyata, tentu dengan sedikit dramatisasi dan diksi yang diperbagus.

Update Medali Kamis 24-08-2017 pukul 15.07. Tetap berdoa untuk atlet-atlet Indonesia 🙂

medali

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s