Menebak arah jalan, catatan seorang Komuter

Sudah hampir 10 tahun, saya menjadi seorang Komuter. Bahasa simpelnya, penglaju. Tukang nglaju. Dari tahun 2007 sampai 2010, berstatus sebagai mahasiswa UGM, nglaju dari pinggiran kota Wates, Kulon Progo. Menuju kota Yogyakarta, dengan jarak tempuh hampir 30 kilometer. Tak terlalu jauh sih, dibandingkan dengan komuter-komuter di Jabodetabek. Status ini terus berlanjut ketika saya juga mendapatkan pekerjaan di Kota Yogyakarta, sekitar tahu 2011. Hanya saja, jarak tempuhnya sedikit lebih dekat, berkurang 6 kilometer. Hehe.

Ada beberapa alasan, kenapa saya lebih memilih nglaju dari rumah di pelosok desa, tidak mencari rumah atau berdomisili di Kota Yogya. Pertama, tentu berkaitan dengan finansial. Nilai properti di Kota Jogja, terkenal sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia. Harga tanah untuk area pinggiran saja, semisal Gamping, Godean, atau Kasihan sudah lebih dari 1 juta per meter. Belum dihitung jika harus membangun rumah. Harga rumah tipe 45 di kawasan pinggiran sudah menembus harga 250 juta. Bagi saya, rumah dengan harga di kisaran itu yang letaknya masih jauh dari pusat kota, ya sama saja. Mending nglaju. Jika ingin mendapat rumah yang jaraknya lebih dekat, setidaknya butuh 500 juta dari kocek. Ckckck.

Kedua, kenapa saya memilih menjadi seorang komuter. Saya masih sangat menyukai lingkungan tempat saya tinggal. Yah, meskipun rumah masih numpang rumah orang tua, saya tetap berencana membangun rumah di lahan yang memang disediakan oleh orang tua. Masih di samping rumah. Hehe. Lingkungan pedesaan, dengan atmosfer yang bersahaja, juga alam yang masih sangat asri, jauh dari hiruk pikuk dan polusi. Ini salah satu alasan terkuat, dan saya sangat berharap hal ini akan terus berlanjut. Nuansa yang sangat saya cintai, di mana anak-anak bisa dengan leluasa bermain dan tumbuh dengan baik.

Kedua alasan pokok tersebut, ditambah beberapa alasan lain, setidaknya menguatkan saya untuk tetap nglaju. Moda transportasi yang saya pilih adalah sepeda motor. Selain sangat fleksibel, ini juga yang paling ekonomis. Tentu saja, banyak plus dan minusnya. Fisik harus selalu prima, karena moda ini tak bisa menghalangi hujan dan panas dari badan. Dengan jarak sekitar 30 km, saya membutuhkan waktu paling tidak 45 hingga 60 menit, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca. Waktu tempuh yang ideal lah menurut saya.

Saking sudah lamanya, saya sampai hafal letak lubang-lubang aspal, hafal di mana ada bengkel tambal ban, familiar dengan perempatan yang polisinya galak, dan di mana saya bisa numpang buang air. Pengetahuan seperti itu, kadang memang diperlukan untuk memperlancar mobilitas kita di jalanan. Juga untuk keselamatan kita berkendara.

Kadang saya membayangkan tentang  beralih ke moda transportasi umum yang nyaman, di mana saya bisa lebih merasa safe di jalan. Tak banyak yang tersedia. Bus umum, Jogja Wates adalah salah satunya. Tapi, sudah sangat kondang kalau mereka ini kurang bisa diandalkan. Yang akan anda dapatkan adalah ; waktu ngetem yang lama, mesin butut yang asapnya awesome sekali, driver tak disiplin, hingga penumpang yang bal-bul ngerokok di dalam bus. Susah kalau disuruh on time. Belum lagi jika harus menyambung perjalanan dengan bus lain. Tidak bisa diandalkan deh pokoknya.

Ada lagi moda yang bisa dipilih, yakni kereta api jarak pendek, Prambanan Ekspress atau Prameks. Mungkin ini bisa sedikit lebih nyaman dan cepat. Namun, jadwal keberangkatan yang frekuensinya sangat sedikit, membuat saya kurang bisa percaya pada kereta ini. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sekarang ini, penumpangnya semakin banyak, sangat sulit untuk mendapat tempat duduk. Bahkan untuk sekedar duduk di lantai kereta. Kemudian, jarak stasiun pemberhentiannya, tidak cukup dekat dengan kantor, menjadikan saya malas jika harus memakai moda ini. Cost nya juga lebih mahal dibanding dengan pakai sepeda motor. Hehe.

Nah, berkaitan dengan rencana pembangunan bandar udara baru di kawasan Glagah, Kulon Progo, tentu ini akan banyak berpengaruh pada para komuter seperti saya ini. Jelas, dari segi lalu lintas akan semakin padat, dengan gelombang pergerakan massal dari dan ke bandara. Meskipun hal ini tentu saja akan diikuti dengan penyesuaian jalur-jalur transportasi yang akan dibangun, namun tetap saja prediksi-prediksi tentang nasib para komuter khususnya Wates-Jogja ini bisa begitu banyak. Paling tidak, ada tiga skenario yang mungkin akan kami temui, berkaitan dengan waktu tempuh dan kenyamanan (karena ini yang paling urgent). Skenario itu adalah :

Skenario Pertama : Lebih Cepat dan Lebih Nyaman

Tentu saja ini adalah perandaian yang paling kami harapkan. Faktor ini juga menjadi sebuah tuntutan yang wajib dipenuhi, sebagai pendukung utama akses dari dan ke bandara. Calon penumpang pesawat tentu saja membutuhkan akses yang cepat, mudah dan nyaman menuju bandara. Nah, sebisa mungkin pengembangan sektor transportasi pendukung bandara ini, juga mengakomodir para komuter seperti kami ini. Paling tidak, untuk menciptakan moda transportasi yang cepat dan nyaman ini, bisa diaplikasikan dalam penyediaan Bus yang terintegrasi, dengan frekuensi pemberangkatan yang tinggi, dengan spot halte yang menjangkau lebih banyak kawasan, dan ketepatan waktu yang presisi. Alternatifnya adalah mengoptimalkan tras-Jogja yang ada sekarang ini. Perbanyak  halte dan armadanya.

Bisa juga dengan kereta, seperti Commuter Line di Jakarta, tentu saja dengan kriteria yang saya sebutkan di atas. Terintegrasi, Frekuensi Tinggi, dan Waktu yang Presisi. Kedua moda transportasi ini tentu saja membutuhkan perbaikan dari segi infrastruktur. Jalan dan jalur rel kereta api yang memadai. Nah, jika kedua hal ini terwujud, saya lebih memilih moda ini, meninggalkan sepeda motor. Apalagi jika tarif yang ditetapkan semurah mungkin, wah ini mah ga perlu pikir panjang lagi.

Skenario Kedua : Entahlah, bisa lebih cepat dan nyaman atau nggak.

Nah, ini bisa terjadi jika ternyata pemerintah dan pengelola bandara tidak mampu menyediakan moda transportasi yang holistik, hanya mementingkan calon penumpang pesawat saja. Apalagi jika ternyata, bus dan kereta yang tersedia hanya melayani rute Jogja-Bandara, tanpa integrasi dengan titik-titik pemberhentian lain yang bisa dijangkau dengan mudah oleh para komuter.

Pembangunan jalan tol juga berpotensi mempengaruhi mobilitas para komuter bersepeda motor, karena tentu saja mereka tidak  bisa melalui jalan tol. Jika ingin dibangun jalan tol, sebisa mungkin benar-benar menggunakan jalur baru, bukan mengkooptasi jalan utama Jogja-Wates menjadi jalan tol. Pengguna sepeda motor akan dirugikan dengan bentuk kebijakan ini. Mereka akan dipaksa mencari jalur lain (non tol) karena jalan yang biasanya dilalui sudah hilang. Ya kalau dibuatkan jalur baru yang lebih baik, akan lebih cepat. Nah kalau tidak, ya cuma bisa gigit jari. Untungnya, Sri Sultan sendiri tidak berkenan jika di Jogja dibangun jalan tol, karena cenderung akan mematikan aktivitas di sekitarnya. Baik secara ekonomi maupun sosial. Kita tunggu saja perkembangannya.

 Skenario Ketiga : Setali Tiga Uang, alias Sama Saja

Tidak lebih cepat, juga tidak lebih nyaman, podho wae. Semua kebijakan transportasi yang dibuat tidak menyertakan aspirasi para komuter, tapi jalur-jalur yang dikembangkan tidak menganeksasi jalur utama yang biasa dipakai para komuter, terutama yang bersepeda motor. Yang mau urusan dengan bandara ya monggo, jalan sendiri, yang gak ada urusan dengan dengan bandara ya jalan sendiri-sendiri, tidak saling mempengaruhi. Ini pilihan yang mudah sebenarnya, tapi ya terhitung rugi, hanya menjadi penonton kegemerlapan bandara. Gak icip-icip blas.

Memang, ketiga hal di atas baru sekedar asumsi, tapi sebagai orang yang paling tidak menghabisnya 2 jam di jalanan antara Jogja-Wates, saya pantas khawatir dengan arah pembangunan seiring dengan keberadaan Bandara di Kulon Progo, terlebih di sektor transportasi. Sekarang saja, dengan kondisi belum terdapat bandara, kepadatan lalu lintas di Jalan Wates sudah cukup tinggi, terutama di jam-jam sibuk. Sangat terasa perbedaannya, jika diperbandingkan dengan kondisi 10 tahun yang lalu.

Di masyarakat sendiri, sudah sangat santer terdengar desas desus seputar pembangunan jalan tol, bahkan sudah ada warga yang mengklaim bahwa tanahnya akan tergusur jalan tol. Syukur, Pak Hasto Wardoyo, Bupati Kulon Progo telah memberikan sebuah statemen, bahwa jalan tol ini bukanlah hal yang urgent. Beliau sudah menyatakan bahwa sudah ada persiapan terkait transportasi ke bandara, yakni Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), jalur Wates-Gamping-Jogja, dan rel kereta double track. Hanya saja, belum disebutkan di sini perihal bagaimana regulasi pada ketiga planning jalur tersebut.

Yak, bagaimanapun juga, pembangunan adalah sebuah hal positif, selama ia memperhatikan berbagai faktor yang akan terlibat di dalamnya. Sebisa mungkin mampu mengakomodir segala lini masyarakat agar tidak menjadi korban dari pembangunan itu sendiri. Ngomong-ngomong, ada yang jual tanah murah di Jogja gak ya? Aah, kok ya mustahil.

Iklan

4 respons untuk ‘Menebak arah jalan, catatan seorang Komuter

  1. Komuter, ah suka sekali dengan kata itu. Jogja surga bagi komuterian. Akses yang mudah dan kota yang mendukung untuk itu. Lengkap lah sudah. Syukur bisa tinggal disana.

    1. iya mas, tapi sekarang arah pembangunan harus selalu dikawal agar tetap ramah komuter. hehe. pertumbuhan jalan tak sepadan dengan volume kendaraannya. perlu ada kebijakan khusus terkait moda transportasi massal. 🙂

      1. Kalo top to bottomnya jelek. Bottom up juga boleh mas. Artinya kita dulu gerak, ngandelin pemerintah sulit. Ga jalan2 ntar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s