Lidah sang Imam

Sebut saja namanya Pak Dibyo. Tidak tahu persis berapa usianya, tapi dari kerut dan keriput di wajahnya, dia berusia sekitar 55 tahun. Entahlah. Yang jelas sudah tidak muda lagi, gigi-giginya sudah mulai jarang. Beliau sangat terkenal di kampung Kalidukuh. Bukan karena ketokohan, kekayaan, punya mobil dan rumah besar, bukan karena sering nongol di televisi. Bukan pula karena beliau aktivis sosmed, apalagi mantan calon anggota DPR. Beliau pegawai di sebuah instansi pemerintah, konon katanya berhasil diangkat setelah puluhan tahun mengabdi, sebagai juru rumah tangga. Selain itu, beliau nyambi, menggarap sawah.

Pak Dibyo menjadi cukup terkenal, karena suaranya yang melengking terdengar di lima waktu. Suaranya berat, menggelegar. Beliau menjadi cukup familiar, karena kehadirannya yang paling rajin, seolah menjadi juru kunci di satu-satunya masjid kampung Kalidukuh. Dan suara beliau sangat intim di telinga kami, karena memang alunan adzannya tidak semasyuk dan semerdu muadzin lainnya. Tapi sangat khas, sehingga warga kampung lain pun sempat bertanya-tanya, itu suara siapa ? Kok seperti itu ?

Alunannya terkesan “njowo” banget, seperti adzan TVRI itu. Satu lagi, menjelang waktu subuh, beliau selalu aktif “membangunkan” warga untuk bersiap-siap menjalankan sholat subuh. Atau setidaknya memberikan penanda waktu bagi mereka yang sedang bersantap sahur. Beliau melakukan itu dengan membacakan surat Al Fatihah melalui pengeras suara masjid. Bagi mereka yang terbiasa bangun pagi, rapalan Al Fatihah ini sangat membantu, seolah-olah menjadi penanda waktu tersendiri. Waktu bagi mereka untuk bersiap-siap ke masjid, bersegera untuk merampungkan santap sahurnya.

Pun saat sholat berjamaah. Beliau kerap menjadi imam. Beliau bukan orang terfasih di kampung ini. Ada beberapa orang yang sebenarnya lebih fasih, lebih terlihat “ketokohannya”. Pak Dibyo ini sebenarnya lebih pantas disebut pemain cadangan. Eh, imam cadangan maksudnya. Tapi bagi para jamaah, beliau lebih diposisikan sebagai imam utama (kalau tidak bisa disebut imam tetap). Bukan karena kemauannya, tapi memang imam-imam yang lain masih kalah rajin dibanding Pak Dibyo ini.

Beberapa bulan lalu, muncul beberapa gelintir orang yang mencoba menggugat beliau. Entahlah, apa yang sebenarnya digugat. Pembacaan Al Fatihahnya kah, pelafalannya kah, atau alunan dan nada adzannya yang seperti itu? Mungkin mereka lebih fasih, lebih bisa mematuhi kaidah-kaidah tajwid, makhrojul hurufnya lebih pas. Wajar jika Pak Dibyo yang barangkali lebih awam ini, digugat. Malam itu, mereka duduk melingkar, membahas keberadaan Pak Dibyo. Intinya, mereka akan menggantikan Pak Dibyo ini dengan yang lebih muda. Sebagai muadzin dan imam sholat. Yang terdengar, salah satu faktornya adalah omongan dari warga kampung sebelah ; itu kok adzannya seperti itu, pake baca Al Fatihah sebelumnya ?

Saat itu Pak Dibyo mengalah, karena mungkin memang menyadari bahwa ilmunya masih kalah dibanding beberapa orang yang kala itu memperbincangkannya. Dan memang lidahnya terlalu kaku jika harus dipaksa mengikuti standar orang-orang itu. Dan benar, hari selanjutnya tak lagi terdengar suara adzannya. Juga tak ada yang memberi kami aba-aba untuk bersiap-siap ke masjid. Digantikan dengan alunan adzan yang memang lebih merdu, dan “mainstream”. Kami diimami oleh imam-imam lain yang memang seharusnya selalu hadir. Sehingga tidak memaksa Pak Dibyo menggantikan mereka.

Waktu berlalu. Kini, suara adzan Pak Dibyo tak terdengar. Dan suara adzan dari muadzin lain itu juga mulai jarang terdengar, bahkan kadang tak terdengar suara adzan. Mereka yang awalnya rajin, kini mulai jarang juga. Ah, tidak bisa dibiarkan. Lambat laun, Pak Dibyo gelisah juga. Sesekali beliau kembali mengumandangkan adzan, sesekali beliau harus maju tampil menggantikan imam yang tidak datang. Lambat laun, intensitasnya semakin sering. Ada apa ini ? Kenapa mereka yang bacaannya lebih fasih, mereka yang hafalannya lebih banyak, dan lidahnya tidak sekelu Pak Dibyo, tidak bisa Istiqomah ?

Subuh ini, kami kembali mendengar rapalan surat Al Fatihah. Sepuluh menit sebelum adzan subuh berkumandang. Kali ini, bacaan beliau sedikit berbeda. Huruf-hurufnya lebih jelas, panjang pendeknya lebih tertata. Kesalahan-kesalahannya lebih sedikit, menurut hamba yang juga awam ini. Oh, mungkin beliau tak henti belajar. Lantunan adzannya masih sama, keras menggelegar dan tetap anti-mainstream. Tapi, bagi kami itu hal indah. Mungkin beliau adalah orang paling istiqomah datang ke masjid, di banding siapapun di kampung ini. Bahkan dibanding mereka yang kemarin menggugat Pak Dibyo.

Itulah, sedikit cerita tentang Pak Dibyo. Imam masjid di kampung kami. Di balik bacaannya yang tak merdu, ada kesholihan yang tak dibuat-buat. Di balik suara yang menggelegar dari lidahnya, ada niat untuk terus ngopeni masjid ini. Sungguh, ikhlas itu tidak mudah. Aku sering malu sendiri. Memang, kaki yang kuat untuk mendaki gunung-gunung yang menjulang, tiba-tiba seketika lemah ketika harus berjalan kaki ke masjid. Bahkan untuk sekedar menstater motor, dan tinggal mengendarainya ke masjid. Itu luar biasa. Tidak dengan Pak Dibyo. Beliau memang luar biasa.

Pada akhirnya, keihklasan yang berperan. Pak Dibyo yang secara bacaan tak terlalu fasih, malah bisa istiqomah ngopeni masjid. Tanpa merendahkan, seharusnya mereka yang dianggap lebih tokoh ini juga tak kalah dengan Pak Dibyo. Atau setidaknya jangan pake acara menggugat segala. Monggo, silakan cerita ini dianggap nyata atau fiktif. Mungkin saja sudah terjadi, atau malah memang terjadi juga di tempatmu? Atau akan terjadi ? Ayo berjuang ke masjid 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s