Tutup Tahun ala PNS

Akhir tahun, bagi kebanyakan orang adalah momen merencanakan liburan, cuti, ngadain hajatan atau masak makanan enak. Pokoknya yang indah dan menawanlah. Berbanding terbalik dengan para PNS. Di akhir tahun seperti ini, mereka harus super sibuk mengurus negara. Mereka harus memastikan semua anggaran terserap, karena itu indikator utama kinerja mereka. Anggaran sisa banyak, siap-siap tahun depan mereka dipotong pendapatannya. Eh, anggarannya maksudnya.

Di bulan Desember ini, mereka berjibaku. Maklum, salah satu manfaat terserapnya anggaran adalah berputarnya roda ekonomi masyarakat,  berjalannya transaksi sektor riil dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan. Eh, pendapatan lagi, perekonomian maksudnya.

Satker dengan realisasi anggaran yang masih rendah, melakukan genjotan ekstra untuk mempercepat penyerapannya, dengan berdaya upaya. Hampir tak ada pejabat yang bisa tidur nyenyak, mereka fokus pada pencapaian IKU dan IKK masing-masing. Bahkan mungkin urusan keluarga mereka sendiri sering terabaikan. Jangankan untuk pergi ke waterboom, sekedar nganter keponakan beli sepatu pun kadang urung dilakukan. Saking sibuknya.

Di bulan Desember, bisa dilihat kekompakan sebuah unit kerja. Mereka berjibaku, responsif dan sigap melaksanakan segala kegiatan. Pimpinan selalu standby dan memantau setiap progress, kendala dan aktivitas bawahannya. Mengingat dinamika yang sangat cepat di Kementerian Keuangan (baca:KPPN), tanda tangan mereka sangat dibutuhkan setiap saat. Bahkan saat mereka jajan makan bakso. Kalau perlu, saat pimpinan kondangan pun kami datang menyusul membawa berkas untuk ditandatangani. Ritme kerja yang harmonis seperti ini perlu dipertahankan. Bahkan, beliau-beliau ini siap jika harus membatalkan tiket bulan madunya, demi presentase realisasi yang tinggi. Itu semua di bulan Desember.

Sebenarnya, setiap satker sudah memiliki perencanaan yang baik, dengan menargetkan realisasi yang progresif dan proporsional di setiap bulannya. Yah, meski ada melesetnya, tapi sedikit saja. Sedikit saja yang tepat maksudnya. Tak ada saling sikut, saling telikung dan jiddal kusir. Semua unit bersinergi, mengejar pencapaian yang telah ditargetkan, mewujudkan rencana strategis dan melunasi setiap kontrak kinerja mereka. Tak ada yang bisa egois di masa-masa seperti ini, mereka saling support. Yang penting >95%, biar tukin aman.

Semua pengeluaran negara tetap diteliti, meski dikejar deadline. Tak ada kata pemborosan, semua kontrak dilaksanakan dengan baik, pelaksanaan kegiatan mengacu dan sesuai SBU dan RKAKL. Prinsip efisiensi dan efektifitas dijalankan, tak ada lagi namanya perjadin fiktif, rapat-rapat abal, kegiatan yang “didramatisir”, penghonoran yang abnormal, ataupun kedok-kedok lainnya. Profesionalisme yang kian membudaya di lingkup kerja PNS. Maklum, semenjak si SKP lahir, semua tingkah polah dan akhlak PNS seperti menemukan fundamentalnya. Tata nilai dan sikap mereka begitu berubah, terima kasih Sasaran Kinerja Pegawai. Kamu mengubah segalanya. Saya nggak bisa lagi nyelonong pulang lebih awal. Say bye to mbolos.

Oh iya, tunjangan kinerja. Si cantik yang satu ini terus saja ditunggu, dan insya Allah di akhir tahun ini salah satu satker bakalan bergembira. Pasalnya, si cantik tukin ini akhirnya bakal nongol, setelah malu-malu dari bulan Mei 2015. Entah apa yang ditunggu, mungkin bliyo ini malu dengan oknum PNS yang masih saja ngakalin SKP. Padahal ya, paling jumlahnya cuma satu dua orang. Mayoritas masih jujur lah, wong kami ini dipantau terus oleh pimpinan. Saya sering merasa seperti ada CCTV rahasia di ruang kerja, dan siap merekam setiap aktivitas kami yang tak sesuai SKP. Facebookan contohnya. Kalau ngelus akik gak papa lah.

Di penghujung tahun ini, bapak/ibu bendahara bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya jika berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, saat belum ada tukin. Wah, ibaratnya numpuk barang bawaan di gerbong paling belakang, bejubel. Tahun ini jauh lebih “kondusif”, karena insentif tukin itu membuat para pelaksana kegiatan lebih profesional. Bendahara tak pusing-pusing lagi dengan beragam pengeluaran ambigu, kuitansi melabrak pagu, akun yang salah, kegiatan yang molor, ataupun special request yang merepotkan. Apalagi dengan adanya aplikasi Silabi, dijamin makin akuntabel dan handal. Beruntung, tidak ada yang ngeyel, rata-rata kalem.

Semoga, di tahun mendatang kondisi ini bisa terus dipertahankan. Negara yang makmur ini akan semakin makmur dengan “semangat akhir tahun” para PNS itu. Yah, paling ndak, kebobrokan 11 bulan sebelumnya bisa ditebus dengan 1 bulan mulia tersebut. Bulan Desember. Bulannya sifat asli para PNS. 😀

Iklan

4 respons untuk ‘Tutup Tahun ala PNS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s