Masa’ ga boleh nonton TV ?

iqra dan subhan (anaknya sepupu gue)

Sejak awal pernikahan saya dan istri sudah berkomitmen,  bahwa kelak anak kami harus dijauhkan dari pengaruh buruk televisi. Note : Dijauhkan dari pengaruh buruk televisi, bukan dijauhkan dari televisi. Kenapa dan bagaimana ?

Ada begitu banyak alasan, sebagian besar sangat masuk akal, sebagian yang lain sangat-sangat masuk akal. Apa kau rela, anakmu yang sedang belajar bicara, menonton Silet-nya Feni Rose? Atau membiarkan anakmu melongo melihat goyang dumang di acara musik dangdut ? Lalu menirukan adegan perkelahiannya si Aliando GGS? Aduh, saya kok nggak tega ya.

Seribu hari pertama seorang bayi adalah periode emas perkembangannya, sering disebut dengan windows of opportunities. Sejak dari dari kandungan, saat masih berbentuk janin sampai anak anda berusia sekitar 2 tahun, otaknya berkembang dengan sangat baik. Ia merekam semua hal yang dilihat, dirasakan, dan didengar menjadi memori yang akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Selain asupan gizi yang memadai, di periode ini anak anda akan menyerap kejadian-kejadian di sekitarnya.

Pada saat itulah, titik genting kepribadian dan intelegensianya dibentuk. Orang tua harus banyak memberikan stimulan positif, baik itu suara, sentuhan, maupun penglihatan. Maka, berikanlah entri poin yang baik.

Dan sependek pengetahuan saya, kesemuanya itu tidak didukung dengan memadai oleh sebuah media bernama “televisi”. Maka, menjauhkan pengaruh buruk televisi adalah salah satu jalan menyelamatkan titik genting tumbuh kembang buah hati kita.

Cilakanya, upaya saya dan istri ini belum sepenuhnya disadari dan didukung penuh oleh keluarga sendiri. Hehe. Tantangan pertama kami adalah orang tua dan saudara-saudara. Bukan menentang, tapi ikut berperan aktif untuk tidak menonton televisi di saat anak kami, Iqra sedang beraktifitas di ruang keluarga, mereka belum seperti yang kami harapkan. Nampaknya, paradigma bahwa televisi sudah menjadi kebutuhan dan menu wajib si setiap rumah tangga sudah cukup kuat mengakar.

Menyingkirkan televisi? Itu juga masih cukup berat, terutama bagi ibu-ibu kami yang masih menjadikan televisi sebagai satu-satunya sumber informasi mereka. Jangan salahkan juga, mereka belum seperti kita yang sudah terkoneksi dengan beragam media sosial, mampu mengakses portal berita online dan berselancar di search engine. Ekstrimnya, hidup tanpa televisi bagi saya dan istri tak masalah.

Yap, ini membutuhkan waktu dan edukasi, selain upaya panjang dan konsistensi. Maka, komunikasi yang baik antara kita dan eyangnya anak-anak adalah hal yang vital. Sampaikan argumen kita dengan santun dan mampu diterima oleh mereka. Sejauh ini, kami cukup bisa. Tinggal mengatur waktu, kapan harus menghidupkan televisi, kapan harus dimatikan saat kita berinteraksi dengan buah hati.

Monika, si auntie nya Iqra pernah nyeletuk,” Lah nanti kalo Iqra gak update gimana mbak, kalo temen-temennya pada cerita tentang acara kartun televisi, nanti dia gak tau kasian donk ?”

Hehe, sebuah pertanyaan bagus, simpel tapi juga butuh jawaban. Mungkin kelak kami akan membekali Iqra dengan pengetahuan lain yang lebih baik daripada sekedar acara kartun, sehingga dia bisa bercerita dengan lebih baik kepada teman-temannya. Syukur-syukur, Iqra bisa mengajak mereka berakifitas yang lebih bermanfaat dari sekedar diskusi tentang Spongebob, misalnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s