Ndoro Penilik

Sudah 3 hari ini padepokan dikunjungi beberapa pendekar dari keraton. Dikunjungi, lebih tepatnya disupervisi. Mereka ini memang ditugaskan untuk memastikan kualitas perguruan-perguruan kanuragan yang tersebar di seantero kerajaan ini senantiasa baik. Di zaman yang serba sulit seperti ini, saat harga rempah-rempah tak menentu, banyak perguruan yang sekedar menjadi media pengeruk uang kerajaan. Bukannya melatih bibit-bibit ksatria yang akan membangun kerajaan, oknum-oknum pengageng itu malah menggelapkan subsidi dari raja keraton.

Para pendekar ini ditugaskan sebagai penilik. Biasanya mereka datang dalam sebuah regu yang terdiri dari pendekar dari berbagai latar belakang ilmu. Pendekar pedang, pendekar silat, telik sandi, ahli keuangan, dan bermacam-macam lainnya. Mereka ini sering dipanggil dengan istilah “ndoro penilik“. Sebuah frasa yang bermakna pengagungan sekaligus penghambaan diri. Walau berkonotasi penghormatan, sesungguhnya ini adalah bentuk penjilatan kepada tugas-tugas para pendekar itu.

Tugas para penilik ini sesungguhnya mudah. Tinggal melihat proses penggemblengan para murid perguruan. Yang menjadikannya berat adalah praktek-praktek siluman di padepokan (baca:kantor) para pengelola perguruan itu. Ada sriwing-sriwing kalau subsidi dari keraton banyak yang dikelola dengan serampangan. Para penilik itu sekarang sedang sibuk membuka-buka catatan di daun lontar dan menghitung-hitung kepingan uang yang ada di dalam kotak kas. Ada juga yang berkeliling dan melihat-lihat fasilitas perguruan.

Kadang ulah mereka juga usil. Segala tetek bengek ditanyakan, mulai dari usia keris yang dipakai latihan tenaga dalam, dari mana kemenyan didapat, berapa biaya untuk pengadaan batu bata yang dihancurkan dalam latihan tangan, sampai urusan makan siang para murid. Ada pula yang sampai mencoba untuk ditusuk memakai tombak, hanya untuk memastikan ramuan kebal yang diperoleh dari kerajaan seberang itu memang sesuai dengan spesifikasinya. Bukan apa-apa, sang patih dari keraton sedang mencanangkan pemberantasan tikus-tikus perguruan.

Kerut keringat mengalir dari Ki Lurah Padepokan, saat para Ndoro Penilik itu mulai masuk ke auditorium utama padepokan. Tanpa babibu, mereka langsung pasang kuda-kuda untuk menerawang ruangan itu. Mungkin untuk menelisik secara ghaib tentang apa-apa yang janggal di perguruan, lalu mencoba ditelusuri ke dokumen sumbernya (baca: arsip-arsip daun lontar) yang sekiranya mencurigakan.

Sebulan yang lalu, pada Ndoro Penilik itu berhasil mengobrak-abrik sebuah Padepokan Kanuragan di sekitar perbatasan dengan kerajaan tetangga. Sebuah kesalahan fatal terjadi di sana, bantuan dari raja berupa kerbau penarik bajak yang seharusnya digunakan untuk mengolah sawah inventaris milik padepokan malah disewakan kepada sebuah perusahaan agro industri milik RRC. Kemudian bantuan uang yang seharusnya digunakan untuk membeli manuskrip kuno berisi jurus-jurus sakti, malah digunakan untuk membangun kolam renang di belakang rumah Lurahe padepokan. Kontan saja, mereka harus dihukum dengan kungkum di kolam renang itu bersama dengan si kerbau. Ckckck.

***

Pagi ini para murid padepokan, penjaga kantin, pengurus asrama, guru-guru kelas, dan pengasah senjata diliburkan. Mereka diberikan waktu selama 3 hari untuk pulang kampung, ada juga yang berlibur ke alun-alun keraton. Sebagian ada yang tetap berlatih jurus-jurus dan ilmu meringankan tubuh. Maklum, 2 minggu lagi akan diselenggarakan ujian kenaikan tingkat. Ada 4 kelas di padepokan ini, kelas Ninja Hatori (paling ecek-ecek), kelas Dragon Ball (level 2), kelas Naruto (pendekar) dan paling tinggi kelas SpongeBob (ksatria).

Di tengah sepinya suasan di padepokan, Ki Lurah dan jajaran padepokan sedang berhadapan dengan para Ndoro Penilik. Mimik serius terlihat dari auditorium. Beberapa asyik dengan i-Pad dan gadget mereka, ada juga yang mengasah akik. Kelima orang Ndoro Penilik itu bersiap-siap meninggalkan padepokan. Tugas mereka telah usai, meninggalkan para pengurus padepokan itu dalam keceriaan. Banyak hal positif terjadi selama proses supervisi ini. Reputasi sebagai padepokan unggulan yang setiap tahun meluluskan ksatria-ksatria terbaik tetap terjaga. Kerajaan ini tetap jaya berkat bagusnya sistem dan pengawasan dari pemerintahan pusat di keraton.

“Ki Lurah, kami pamit dulu ya. Semoga kerja keras kisanak dan segenap civitas akademiknya senantiasa berbuah kebaikan. Tingkatkan terus ilmunya, laksanakan pengabdian bagi kerajaan, junjung tinggi peradaban ini. Di tangan kalian, para murid padepokan akan menjadi jundi-jundi yang agung membawa kerajaan ini semakin jaya,” kata ketua rombongan Ndoro Penilik.

“Baik Ndoro, kami akan senantiasa memegang teguh prinsip kerajaan ini untuk menjadi mercusuar peradaban dunia. Proses berlatih-melatih di padepokan ini akan kami tingkatkan, sesuai dengan petunjuk dan arahan dari Ndoro-Ndoro semua yang agung. Ke depan, kami telah merencanakan berbagai pengembangan, misalnya pemasangan wi-fi di beberapa tempat, sehingga para murid bisa semakin luas wawasannya. Kemudian kami juga berencana menerapkan metode latihan meringankan tubuh secara online. Semoga bantuan-bantuan dari pihak keraton juga terus diberikan kepada kami. Sampaikan salam kami kepada Kanjeng Raja di keraton,” sang Lurah menjawab.

Rombongan Ndoro Penilik itu akhirnya meninggalkan padepokan itu. Terbayang masa depan kerajaan yang besar ini. Tapi entah bayangan seperti apa. Di tengah perjalanan, mereka mampir di sebuah SPBU dan makan siang. Sambil menghitung upeti dari ki Lurah Padepokan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s