Petani

Sebuah pertanyaan menggelitik : “Adakah jaman sekarang orang tua yang ingin anaknya bercita-cita menjadi petani ?”

Hari minggu kemarin, kami sekeluarga disibukkan dengan event penting : Panen Padi. Terlahir dari keluarga buruh tani, namun bisa dibilang sangat jarang aku terlibat langsung dan total dalam aktivitas pertanian. Simbahku dulu adalah petani, meski tak mempunyai sawah sendiri, dan konon itu memang turun temurun dari jaman dulu. Hingga sekarang pun ayahku masih berbelut dengan aktivitas persawahan.

Pertanyaan itu muncul, pertama karena memang di keluargaku sendiri kini bakat itu terancam putus, tanpa penerus. Dari ketiga anak, aku dan adik-adikku sama sekali kurang berminat untuk terjun ke sawah. Bukan karena gengsi atau malu, namun memang seperti itulah realitanya. Alasan kedua, adalah keengganan orang tuaku sendiri yang tidak ingin anak-anaknya juga menjadi petani. Pernyataan satir dan mencekak : Cukuplah kami ini yang rekoso, kalian jadilah anak-anak pintar dan cari pekerjaan yang lebih layak.

Aku yakin, banyak orang tua yang pernah memberi nasehat seperti ini kepada putra-putrinya. Tak salah dan sangat baik maksudnya. Bukan apa-apa, hidup hanya mengandalkan sumber pertanian, saat ini bisa dibilang kurang. Terkecuali untuk para petani kelas kakap dengan luas areal pertanian yang besar dan dukungan modal memadai. Mayoritas petani di desaku adalah buruh tani, di mana mereka menggarap sawah milik orang lain kemudian hasilnya dibagi, atau dengan menyewa sawah bengkok milik pemerintah desa (seperti yang dilakukan ayahku).

Faktanya, petani-petani di sekitarku harus mencari pekerjaan tambahan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Biaya SPP anak sekolah tentu tak bisa menunggu panen padi kan? Rata-rata mereka menutup berbagai kebutuhan itu dengan menjadi buruh bangunan, beternak, berdagang di pasar, atau pekerjaan lain.

Lalu, bagaimana nasehat-nasehat para orang tua yang berprofesi sebagai petani itu bisa muncul? Ini sedikit penggambaran, berdasarkan panenan terakhir kami.

Asumsi yang digunakan adalah buruh tani dengan menyewa sawah dari pihak lain. Panen kemarin bisa dikatakan baik, alhamdulillah. Kami mendapat sekitar 22 karung gabah dengan ukuran sedang, beratnya mungkin di kisaran 500 kg. Itu sudah dikurangi jatah untuk tenaga panennya, istilahnya bawon. Luas sawah sekitar 0.4 hektar.

Nah, untuk bisa menghasilkan gabah sebanyak itu, berikut ini biaya-biayanya. Perlu diketahui, bahwa petani-petani di daerahku tak pernah melakukan pencatatan yang njlimet, semuanya masih sangat tradisional dan konvensional.

Biaya sewa Rp 600.000 per tahun, dibagi 3 periode tanam (2 kali padi & sekali palawija), hasilnya Rp 200.000 | Upah tanam padi Rp 300.000 | Biaya pemupukan Rp 250.000 | Biaya lain-lain Rp 100.000 | Total Rp 850.000,-

Nah dari 500 kilogram gabah itu, setelah dikeringkan kemungkinan hanya akan didapat 432 kg gabah kering (dengan angka konversi Gabah Kering Giling sebesar 86,51%). Dari angka itu, jika kemudian digiling dan didapatkan beras, kemungkinan menghasilkan sekitar 313 kg beras (konversi GKG ke beras sebesar 62,74%). Referensi di sini.

Dengan hasil 313 kg beras, maka penghasilan kami dari bertani adalah : 313 kg x Rp 9.000,- = Rp 2.817.000,- . Dikurangi biaya-biaya, didapat angka Rp 1.337.000,-

Nah, jadi penghasilan per bulan kami dari bertani adalah Rp 1.337.000,- : 4 bulan = Rp 334.250,- (dibulatkan). Atau sebesar Rp 11.141,66 per hari.

Lihatlah, mungkin itulah alasan di balik nasehat-nasehat para petani itu kepada anaknya. Angka-angka itu masih menggunakan asumsi optimis, di mana harga beras sedang tinggi dan tidak ada kejadian-kejadian yang merugikan. Bandingkan dengan kriteria kemiskinan yang dipatok oleh BPS di sini.  Dijelaskan bahwa salah satu dari 14 seseorang disebut miskin adalah jika pendapatan di bawah Rp 600.000,- per bulan. Nah lo !!

Uang sebesar Rp 334.250,- itu mungkin di tangan orang lain bisa habis dalam satu jam di sebuah resto atau gerai burger waralaba. Atau hanya cukup untuk membelikan kado ulang tahun gebetan. Tapi bagi kami, nilai sekecil itu adalah bulir-bulir kehidupan. Kami mengkonversikan nilai itu ke dalam harta yang sesungguhnya : Persediaan Makanan. Jika kita kembali ke masa lampau, mungkin kami lebih kaya daripada mereka yang bergelimang rupiah dalam bentuk tabungan, deposito, kendaraan, gadget ataupun investasi properti apapun. Katakanlah tiba-tiba hari ini semua uang musnah, setidaknya kami masih bisa hidup 6-8 bulan ke depan 😀

Mungkin di sini berlaku konsep barokah atau keberkahan. AKu tidak mengklaim bahwa kami mendapat barokah, tapi jika melihat konsep berkah seperti yang didiskusikan di sini, ya nyangkut-nyangkut dikitlah.

Kembali ke masalah nasehat para petani itu. Jika melihat perkembangannya, mungkin cukup banyak anak yang menuruti dan memahami. Kini, bisa dikatakan sedikit sekali anak yang mengikuti jejak orang tuanya sebagai petani. Kebanyakan mereka meniti jalan di bidang-bidang lain, terlihat dari jalur pendidikan yang ditempuh. Teknik sipil, akuntansi, sastra, perhotelan, hukum, ataupun jurusan-jurusan lain yang dipandang mampu memberikan pundi-pundi rupiah tanpa melalui berkubang di sawah. Termasuk di keluargaku. Hehe

Ketika ada yang melanjutkan profesi sebagai petani, biasanya ada 3 faktor yang menjadikan mereka harus “melawan” nasehat orang tuanya. Pertama, mereka memang punya passion dan benar-benar menikmati pekerjaan sebagai petani. Dan aku yakin yang seperti ini jumlahnya tak banyak.  Kedua, mereka yang “terpaksa” menjadi petani, karena sudah mentok ke sana kemari tak mendapatkan pekerjaan lain. Yang seperti ini jumlahnya cukup banyak, rata-rata yang berasal dari keluarga yang kurang mampu untuk menyekolahkan anaknya. Ketiga, terakhir, mereka yang diwarisi tanah luas dan modal yang cukup oleh orangtuanya yang memang merupakan petani kaya dan sukses. Model ini mungkin juga tak banyak.

Mungkin tulisan ini masih bisa dibantah atau ada opini lain yang menyatakan sebaliknya, namun sampai saat ini itulah perspektif yang terbentuk di benakku.

Saat ini, memang kebanyakan mereka yang bertani itu bertujuan menyimpan cadangan makanan. Mereka merasa hidupnya lebih ayem, tentrem, adem dan nyaman dengan menyanding berkarung-karung gabah. Ini pula yang dirasakan oleh keluarga kami. 🙂 Persediaan itu bisa mereka gunakan untuk konsumsi sehari-hari dan bisa juga dijual jika suatu saat membutuhkan uang tunai.

Nah, menjadi tugas para punggawa negeri dan ahli pertanian untuk menghentikan arus “nasehat-nasehat” itu. Menjadi petani adalah salah satu profesi mulia, menurutku. Klise sih, tapi memang demikian adanya. Realita bahwa para petani di Indonesia masih banyak yang berada di kubangan kemiskinan, seharusnya menjadikan kita aware. Wong sudah sejak dahulu kala kok, masih sama terus.

Keribetan menjadi petani itu sekarang berlapis-lapis : harga pupuk yang mahal, pengairan yang kurang memadai, permainan harga gabah dari para juragan, harga sewa lahan yang mahal, kebijakan pemerintah yang tak menentu, hingga ancaman pencaplokan tanah warga oleh konglomerat properti dan pabrik.  Silakan buka web ini, lihatlah begitu banyak permasalahan agraria di negeri kita.

Aku teringat ungkapan menggelitik kawanku. “Aku pengen punya sepetak sawah di kota, yang akan aku pertahankan walau di sekelilingnya sudah menjadi pertokoan atau perumahan. Walau ditawar berapapun, pokoknya tanah itu tetap aku pertahankan sebagai sawah.”

Bisa jadi, ungkapan itu terlalu ideal dan hiperbolis, namun sesungguhnya di balik itu ada kegelisahan yang sama. Akupun dengan guyon menimpali. “Lha mendingan kalau ada yang nawar mahal, 25 milyar, kamu lepas aja, nanti uangnya bisa kamu pakai beli sawah yang lebih luas. Biar makin banyak sawah yang bisa dipertahankan.”

Ah, entahlah, mungkin nanti saat pensiun aku pengen bertani saja. Hitung-hitung beramal dengan menanam padi, bisa menghijaukan pandangan, memberi makan burung-burung liar, ataupun sekedar menjaga oksigen di atmosfer. Semoga petani-petani kita makin sejahtera.

Hmm, semoga panenan kali ini cukup untuk sepasaran anakku nanti. Insya Allah.

Iklan

2 respons untuk ‘Petani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s