Diam atau Diam

Adakah kalian mengenal akun-akun sosial media, macam Jonru, Tri Macan, Partai Social Media, dan yang semisalnya? Di rentang waktu 2-3 tahun ke belakang, nama mereka lekat banget di sosial media, terlebih bagi penggemar teori konspirasi, peneriak politik, pemilik kepentingan, pecinta/pembenci seseorang tokoh, dan kalangan muda bersemangat lainnya. Fenomena mereka cukup besar, meski secara pribadi aku memilih untuk menghindari akun-akun ini. Cakupannya tak jauh dari intrik, adu argumen, debat politik, hujjah dalil, pembenaran dan penyangkalan, klaim atas kebenaran, dan sejenisnya. Dan, kesamaan polanya adalah, follower dan pengkomentar mereka akan “adu jotos” sendiri.

Aku kurang mengerti, darimana mereka bisa mendapat “bahan” yang demikian hebat untuk diramu menjadi lontaran tema yang bombastis. Seolah-olah mereka mempunyai agen intel yang handal, membawa beragam informasi yang menggegerkan publik. Dan yang lebih kurang bisa dimengerti lagi, apa mereka telah berfikir masak-masak sebelum merilis kicauan/status mereka di sosial media? Kalau aku pribadi sih, takut. Misalkan ada satu saja statusku yang jadi rame dan kontroversi, pasti panik dan buru-buru pengen delete.

Efek besar di level follower yang mungkin kurang disadari mereka adalah polarisasi antar orang. Masyarakat pembaca status dan kicauan mereka menjadi berpecah, antara pihak pro dan kontra. Entah, apakah untuk hal ini kelak mereka akan dihisab. Kalau boleh berstatement, itu cukup berpengaruh pada kadar ukhuwah, antar sesama manusia, bahkan sesama muslim. Rasanya tak perlu menyodorkan bukti konkret, silakan rasakan sendiri.

Mungkin, memilih diam adalah posisi yang lemah. Kewajiban untuk menyampaikan kebenaran, secara haqiqi tetaplah sebuah kewajiban. Di sini, semangat beramar ma’ruf dan bernahi munkar lah yang berbicara. Tapi kan, ada juknis untuk amar ma’ruf nahi munkar? Harus tetap memperhatikan maslahah dan mudharatnya? Kaidah-kaidah ini biasanya akan cenderung mengarahkan kita ke dalil-dalil agama, dan aku kurang memiliki pengetahuan tentang itu. Silakan rasakan sendiri.

Pasca pilpres, sebenarnya aku sangat berharap tensi tinggi dan iklim polarisasi di sosial media itu segera berlalu, kembali ke rutinitas dan kembali ke tabiat husnudzon manusia. Paling tidak, mengurangi kadar umpatan dan doa-doa buruk kepada lawan politiknya. Tapi ternyata tak demikian. Kedua belah pihak masih saja asyik melaknat. Aku sih percaya, mereka ini adalah oknum yang memang susah move on, barangkali terlalu ikhlas mendalami peran mereka sebagai martir fanatik, saking mendalami akting mereka.

Mengamati mereka di sosial media, sebenarnya menjadi hiburan tersendiri. Lontaran-lontaran bukti, dalil ilmiah dan religius, statement tokoh, dan arsip-arsip berita masa lalu masih saja berseliweran. Dari kedua belah pihak. Lucu pokoknya. Ada kalanya sebuah berita yang belum diverifikasi dengan semangatnya diposting, sudah terlanjur menimbulkan polemik dan kegundahan, ehh tahu-tahu ditarik dan diklarifikasi bahwa itu tak benar. Ini jahat banget menurutku, apalagi dilakukan oleh portal-portal berita yang seharusnya menjunjung tinggi kaidah jurnalistik. Sekali lagi, oleh kedua belah pihak.

Bagiku, posisi termudah adalah menahan diri, menunggu kejelasan sebuah berita, sembari berfikir sedikit pintar untuk mencari berita pembanding. Ada kalanya sebuah informasi itu salah. Okelah jika sekali kita khilaf, tapi kalau itu sudah terlalu sering dan menjadi kebiasaan, saya khawatir itu hanya didasari oleh hawa nafsu semata. Konsep tabayyun seharusnya dikedepankan. Klarifikasi. Oleh kedua belah pihak.

Kadang kita juga terlalu hobi mencari berita-berita yang bombastis, dengan judul-judul yang fenomenal, segera share tanpa klarifikasi, dan gigih mempertahankan berita itu. Meski pada akhirnya pihak yang mengeluarkan berita itu, mengaku salah dan meralat. Tapi apa lacur, kita terlanjur menyebarkan, terlanjur gontok-gontokan, dengan sesama manusia, sesama muslim. Mudah sih sebenarnya, kita hanya perlu minta maaf. Mudah. Kedua belah pihak.

Padahal, tuntunan untuk situasi ini cukup jelas. Berkatalah yang baik, jika tidak bisa maka diamlah. Bersemangat untuk mengamalkan tuntunan ini, jauh lebih baik daripada kegigihan menegakkan kebenaran yang masih belum teruji. Sejauh ini, prinsip itu cukup ampuh aku terapkan. Tak berpihak, mendoakan yang terbaik, menghindari debat kusir, cover both side, dan menjaga ukhuwah. Adem bukan?

Aku kerap membayangkan, pemilik-pemilik akun ini pasti akan akur dan bersahabat jika saling bertemu secara langsung. Pun demikian dengan penggemar dan followernya. Tapi entah kenapa di sosial media mereka bisa begitu “galak” dan militan. Bukankah ironis?

Memilih diam barangkali dianggap lemah, tak punya sikap, bahkan munafik. Iya, jika memang bisa dibuktikan untuk hal itu. Tapi jika diamnya itu karena memang mengamalkan kaidah yang bersumber dari Al Quran dan Hadist, itu hebat.

Nah, terkait pemerintahan Presiden Jokowi yang memang dari awal proses pemilunya sudah seperti itu, aku memilih untuk diam dari ucapan dan tulisan yang mentah. Pilihanku adalah menunggu sampai setidaknya satu tahun, kemudian membuat list berbagai kebijakan beliau, lalu membuat kritik dan apresiasi atas kekurangan dan kelebihannya. Rasanya itu adalah posisi yang sejauh ini paling rasional dan nyunnah menurutku.

Tapi, tulisan ini juga adalah reaksi saat ini mas ? Iya sih, ini sekedar test saja. Keyword : Jonru, Partai Sosmed, Trio Macan, pilpres, Jokowi, Prabowo, fitnah, tabayyun, konspirasi, zionis dan semacamnya adalah bahan bakar tokcer untuk meningkatkan traffick blog kita. Jadi ya, mohon maaf jika aku sekedar mencoba dan ikut mendulang pengunjung. Hehe. Upz, maaf jika ada yang tersindir.

Untuk penutup, mari saya copaskan (paling mudah memang copas) sebuah hadist dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW dari riwayat Abu Hurairah :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Akhirul kalam, mohon maaf harus menggunakan hadist yang mulia ini untuk tulisan yang saya yakin banyak cela dan kekurangan ini, semoga Allah mengampuni kita semua.

Iklan

2 respons untuk ‘Diam atau Diam

  1. Salah satu dari nama yang disebut di atas berdalih dia menulis untuk menyampaikan kebenaran. Namun alih-alih begitu, dia sudah menyediakan ruang untuk orang-orang mengumpat, berkata kasar. Sedih ya…

    Eh makasih udah mampir ke blogku ya 🙂 tulisannya juga kece ini *kasihjempol*

    1. iya mas, berbuat yang terbaik untuk bangsa saja tanpa perlu teriak-teriak.
      Terima kasih uda mampir di blog sederhana ini. masih harus banyak belajar.Hehe
      *jempolbalik*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s