Membaca Hujan

Musim hujan menyapa. Setelah begitu panjang keluh kesah manusia, makhluk yang tidak tahan dengan terik panas matahari yang memang kian panas. Hari-hari mereka kini digenapi dengan segarnya air berjatuhan dari langit. Akhirnya. Iya, akhirnya mereka pun masih mengeluh, karena gangguan panas dianggap berganti dengan gangguan basah kuyup.

Sejak lama, aku cukup bisa menikmati hujan. Melihat titik-titik air berjatuhan dari langit itu menyenangkan. Kalau mau diturut, banyak hal-hal baik terjadi di saat hujan turun. Itulah berkah dari Allah.

Hal ideal yang terbayang bagi seorang “rain lover” adalah duduk bersantai di teras depan atau balkon rumah, didampingi istri dan anak tercinta, sambil minum secangkir teh hijau hangat, berbicara ngalor ngidul dan sesekali melemparkan pandangan ke arah langit. Di penghujung percakapan, sebilah pelangi muncul menyapa. Ideal banget sih, tapi menikmati hujan tak sebatas adegan makmur sentosa seperti itu.

Mencintai hujan adalah saat melihat para petani merekahkan senyumnya melihat ladang dan sawah mereka terairi, karena di situlah letak keberkahan hujan. Tidak melulu dengan jepretan kamera DSLR tetesan air hujan, atau puisi syahdu tentang gemuruh hujan. Ada pula yang menikmati hujan dengan mendendangkan doa permohonan, karena ini adalah salah satu momen diijabahnya sebuah doa.

Banyak cara mencintai hujan. Ikut bergembira melihat para pencari ikan mendapat rejeki tak terduga, atau sekedar tersenyum melihat tetangga mulai menebar benih jagung di pekarangan. Melihat ibu-ibu yang tak perlu kerepotan lagi mencari air untuk mencuci baju,  atau bapak-bapak yang gembira karena kini cukup dengan beberapa tarikan tali timba sudah bisa mengisi penuh bak mandinya. Adegan-adegan ini ibarat sebuah buku, tertulis dengan indah dengan tema “hujan” dituliskan langsung oleh Sang Maha Kuasa. Kita tinggal membacanya. Membaca hujan.

Membaca hujan juga tentang drama dan kenyataan di dalamnya. Seperti ibuku yang harus menembus hujan di jam 03 pagi, ke pasar untuk mengais rejeki halal. Atau tentang simbah-simbah penjual kacang di daerah Gamping, yang beberapa hari terakhir tak kutemui.  Hujan membawa banyak cerita untuk dibaca, karena di saat itulah banyak puji-pujian dan ingat Allah, terjadi. Alhamdulillah, ungkapan syukur tak terhingga, dan Astaghfirullah memohon ampunan demi kelancaran. Membaca hujan terasa lengkap, apalagi jika kita turut menjadi pelaku di dalamnya.

Salah satu hal yang aku sukai adalah hujan pertama di musim hujan. Tetesan air yang melimpah, menembus tanah yang kerontang memberikan aroma khas dan menyejukkan. Aku suka itu.

Ahh, banyak hal yang bisa terbaca dari hujan. Sementara ini, cukup menikmatinya dari kacamata kecilku ini, karena bagitu tebal buku hujan ini untuk dikhatamkan. Sembari menjemput rezeki dan keberkahan yang turun bersama hujan, mari tetap tersenyum dan berhati-hati ketika menembus hujan. Hehe. Jangan lupa sedia payung dan jas hujan 🙂

note: kawan-kawan, yang setiap hari melewati kawasan pasar Gamping sore hari (sekitar jam 15.00 sampai magrib), coba deh untuk pelan-pelan dan melihat ke selatan jalan. Jalan terus ke arah barat sekitar 200 meter, di sekitar situ ada simbah-simbah penjual kacang. Cobalah mampir dan beli, sebungkus cuma 2 ribu rupiah. Tempatnya cuma beberapa meter dari perempatan yang kalau ke utara nanti ada lapangan Gamping, aku tak tahu nama perempatannya. Dia berjualan di dekat tukang martabak/terang bulan. Insya Allah bermanfaat untuk simbah itu. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s