Berkebun Cinta

Hari minggu lalu, aku dan istriku mencoba untuk memulai aktivitas baru : Berkebun !! Sebenarnya, sudah cukup lama keinginan untuk berkebun itu ada, bahkan semenjak belum menikah. Tapi, ternyata itu bukan hal sepele. Need a full engagement for this. Di samping meluangkan waktu yang cukup, butuh pengetahuan juga. Dan aku terlalu pemalu untuk hal itu. Hehe.

Pemantiknya sih sederhana. Pagi itu aku lapar, dan minta dibuatkan nasi goreng. Cusss, kami ke dapur, mulai meracik bumbu dan menyiapkan alat-alatnya. Kebetulan kami punya persediaan nasi cukup banyak, nasi kendurian dari pakdhe kemarin. Cukup pas untuk digoreng, tekstur dan rasanya. Nasi siap, peralatan siap, bumbu siap. Eh, ternyata persediaan cabe kami hanya tinggal 2 helai. Waduh, kalau hanya 2 sih mana mantap. Mau beli, nanggung juga masih pagi banget.

“Kak, sepertinya di belakang ada tanaman cabe deh, kemarin Ibu ambil di situ. Coba tengokin, siapa tau masih ada,” kata istriku. Oh iya, bener juga tuh. Segera aku beranjak ke kebun belakang. Ternyata benar, di situ ada beberapa batang tanaman cabe. Dan kerennya, cukup banyak cabe yang ranum siap untuk dipetik. Alhamdulillah, tak perlu beli.  Aku petik beberapa helai cabe, ada yang hijau dan ada yang merah. Cabenya bagus, masih segar. Fresh from the nature.

Aku ingat, beberapa batang tanaman cabe itu tumbuh secara tak sengaja, kami tak menanamnya. Kata ibuku, mungkin itu tumbuh dari biji-biji cabe yang terbuang saat hajatan pernikahanku beberapa bulan yang lalu. Dahsyat ya. Ternyata memang sudah cukup lama kumpulan tanaman itu dirawat oleh ibu, disiram tiap pagi dan sore. Shame on me, I just ignore that.

Akhirnya, nasi goreng yang lezat pun tersaji pagi itu, dinikmati oleh semua penghuni rumah. Terasa lebih maknyus, bukan saja karena menggunakan cabe asli alami, tanpa pestisida dan bahan-bahan kimia lain, langsung dipetik dari kebun, dengan tanganku sendiri, dan tentu saja diracik oleh tangan cantik istriku 😀 #Eaaaaaa

Dari situ kami berfikir, kenapa tanah seluas ini (punya ortu sih) hanya dibiarkan ditumbuhi rumput saja ? Harusnya bisa lebih produktif.  Hanya kejatuhan biji cabe saja bisa numbuh dan berbuah, apalagi jika benar-benar ditanam dan dirawat. Wah, menarik nih.

Akhirnya…eh, belum. Maka dari itu, kami berencana untuk melakukan aktivitas baru itu. Dimulai dengan ……… menata batu-batu kecil membentuk lingkaran, di tempat nanti akan ditanami. Hahaha. Waduh, ini mah rada nggak nyambung. Iya, sementara ini kami mau mengisi halaman depan dengan tanaman hias. Istriku cukup semangat untuk aktivitas baru ini. Terbukti, sore harinya dia langsung mengajakku berburu tanaman hias di Kulon Progo Expo. Entah, itu semangat untuk berkebunnya atau semangat untuk berbelanjanya. 😀 Tapi setidaknya, aku yakin aktivitas baru ini akan bermanfaat untuk si dedek yang ada di rahim istriku. Insya Allah.

Ibarat perjalanan ke Perancis, saat ini kami sudah take action dengan menyiapkan kantong plastik untuk berjaga-jaga jika mabok di perjalanan :p Hehehe

Untuk sementara ini, baru satu tanaman hias yang menghiasi halaman depan, segerumbul bunga Krisan berwarna merah maroon. Yah, mudah-mudahan akan terus bertambah lagi. Untuk halaman belakang, aku berencana untuk menjadikannya kebun buah dan sayuran. Dengan kombinasi keren Sarjana Biologi-Ahli Madya Akuntansi, kami yakin aktivitas baru kami ini akan istiqomah 😀 Bismillah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s