Gaduh Politik dan Hak Anak

Menarik menyaksikan kegaduhan politik akhir-akhir ini. Lakonnya, masih sama dengan tokoh di pilpres kemarin. Ngenesnya, kegaduhan di gedung DPR itu belum pernah ada dalam bayanganku. Ada yang kehilangan palu sidang, ada yang ngotot ingin menyampaikan interupsi, sampai (aku yakin) ada yang cuek dan acuh tak acuh. Mungkin juga banyak yang kaget setengah mampus, ternyata seperti itu to suasana sidang di ring tinju. Eh, gedung DPR maksudku.

Bagi kami, pelaku asas demokrasi level terendah ini, kegilaan tengah malam seperti yang ditampilkan kemarin itu, adalah buah pahit yang sangat dini kami makan. Bahkan belum genap satu bulan dari pelantikan, para legislator itu sudah banyak berulah. Gaduh sangat.  Alangkah mahal harga yang harus dibayarkan, tidak saja dengan besarnya anggaran pemilu tahun ini, tapi juga harus dibayar dengan kelakuan mereka yang melupakan begitu saja kami ini.

Aku sih yakin, di antara mereka masih banyak jiwa-jiwa jujur yang tulus ingin mengangkat harkat kami. Tapi ya itu, kekagetan mereka ini sudah terlanjur kronis. Rupanya medan perang yang telah lama mereka nantikan itu tak seramah yang dibayangkan. Dikiranya perang petasan kali ya. Ini hampir sama dengan mereka di kalangan aktivis hak anak. Medan perang yang kami hadapi ternyata begitu belantara. Seakan tak bertepi.

Ketika kedua realita ini disandingkan, rasanya begitu banyak tanda tanya di benakku. Untuk hal-hal yang populer dan fundamental, sedemikian hebat mereka bertarung. “Gajul-gajulan”, dalam”tanda petik” (dan masih diberi tanda petik lagi 😀 )

Nah, bagaimana nasib pergerakan ini nantinya ? Memang, isu tentang hak anak tidak seseksi isu-isu lain, semisal pimpinan DPR/MPR, pengelolaan Migas, isu agama dan gender, ataupun tentang BUMN. Bisa jadi, tidak akan banyak perbedaan pendapat yang kentara, ketika misalnya nanti mereka membuat suatu produk hukum. Kurang strategis, tak menguntungkan, dan males banget, mungkin. Untuk mengetok palu putusan, saya yakin tak banyak perdebatan, enteng itu mah. Sejam juga selesai. Tapi di situlah masalahnya.

Aku yakin, banyak aktivis pengusung isu-isu minor yang sepemikiran. Aktivis lingkungan hidup, komunitas peduli cagar budaya, pelaku usaha kecil, pendemen benda kuno, pecinta hewan langka, ataupun mereka yang memperjuangkan hal-hal kecil nan terlupakan lain, pasti merasa jengah dengan kelakuan wakil rakyat ini. Bagaimana isu-isu kami ini akan diperhatikan ? Diperhatikan dengan kualitas yang setara dengan isu-isu populis di atas.

Tapi, ya itu. Optimisme harus tetap dipupuk. Mengabaikan kegaduhan politik ini, dan biarkan para penggiat isu-isu ini tetap bergerak. Waktu telah cukup membuktikan, konsistensi orang-orang semacam ini jauh lebih baik, terlebih jika disandingkan dengan partai-partai pengisi parlemen ini. Plintat-plintut lah mereka. Bagi kami, digencet oleh kebijakan dan ketidakpedulian adalah bumbu penyedap yang sehat. Sembari tetap berharap, kondisi ini cepat berlalu, mereka cepat sadar dan move on, beranjak dari perseteruan ini, menuju pekerjaan yang lebih riil, lebih menyentuh secara langsung permasalahan.

Tak eloklah pemandangan seperti itu. Di luar sana, angka kekerasan terhadap anak makin bervariatif, modus dan korbannya. Bahkan di sekolah yang menyandang level internasional. Kebutuhan akan regulasi yang lebih tegas, berefek positif, dan efektif untuk diterapkan, semakin besar. Kemiskinan, simpul pertama dan dominan, menjadi musuh bersama yang harus dihadapi. Bukannya malah aktif dan gegap gempita menyerang lawan politik.

Bagi kami, memilih wakil rakyat dan pemimpin bangsa, adalah sebuah wujud penyerahan sebagian hajat hidup kami. Bukan main-main. Jadi, wajar jika harapan besar ini tergantung di sana, termasuk masa depan pergerakan ini, pergerakan massif melawan kekerasan pada anak, memperjuangkan terpenuhinya hak-hak anak Indonesia.

Kami memang tidak cukup mengerti, barangkali cara itulah yang kalian pikir paling tepat, sebagai langkah pertama untuk bekerja untuk rakyat. Cara yang harus dikerjakan, cara yang konstitusional, cara yang populer. Tapi, bagi kami, cara kalian itu sangat rendah. Kegaduhan politik seperti ini, tak berpengaruh baik bagi kami. Menciptakan jarak di antara kami di masyarakat. Saranku, sudahilah. Beralih ke cara-cara yang secara langsung menyentuh akar permasalahan. Jika tak bisa, setidaknya jangan terlibah di kegaduhan ini.

Jika kalian sudah puas dengan langkah pertama kalian (yang menggelikan) ini, jangan lagi ajak kami untuk menapak di tangga keributan lagi. Ajaklah kami berpikir bersama, bekerja bersama, menyelesaikan masalah bersama. Kita gaduh di lapangan, kita ramein tuh aksi-aksi kecil forum anak, kita dukung gerakan nasional, kita garap bersama konsep-konsep perlindungan anak, ciptakan lingkungan yang terbaik bagi anak. Jika kalian tak sanggup, setidaknya biarkan kami yang melakukan, kalian cukup melihat dan menerima gaji, jangan merecoki dengan manuver yang tak elegan ini.

Okelah, sip. Ini sekedar respon berisik dariku, menanggapi kegaduhan politik ini. Ada banyak hal yang lebih baik untuk dilakukan. Jika tak cukup bisa menciptakan kebaikan-kebaikan, setidaknya jangan membuat kerusakan. Yapp, bersyukurlah kalian yang masih melihat saldo tinggi di akhir bulan 🙂 Dan bagiku, bertambah lagi hutangku atas kata-kata baik yang kutuliskan ini. Menjadi wajib sekarang ini, untuk melaksanakannya. Tak sekedar menuliskannya.

Salam panjang, untuk perjuangan ini !!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s