Mozaik (3)

Cup of Coffee and Saucer

Makan Dulu

Sesi kedua malam ini, seperti biasa, adalah mendengarkan mauidhoh dari guru ngaji. Suguhan minuman kopi panas dan sepiring tahu bakso goreng menemani kami, mengarungi beragam tema yang sehari-hari kerap kita temui. Saat-saat seperti ini biasanya aku menyimak dengan seksama, mencoba menyerap hal-hal yang sebelumnya belum pernah menyapa. Kepulan asap rokok hingar bingar memenuhi ruang, suatu hal yang sebenarnya tak kusukai. Tak apalah, setidaknya banyak hal positif lain yang selalu muncul.

Malam itu beliau meriwayatkan sebuah pesan, tentang bagaimana bertamu. Kita dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, memastikan bahwa perut tidak dalam kondisi lapar. Hal ini untuk menghilangkan syak prasangka, harapan, ekspektasi, atau sekedar angan-angan untuk mendapatkan suguhan makanan dan minuman. Ini namanya adab. Sebaliknya, sebaik-baik tuan rumah, dianjurkan untuk memberikan jamuan yang baik, memberinya makanan dan minuman. Upz. Ini pesan yang hebat, menurutku. Sangat mengena. Oke, tidak perlu ulasan lebih jauh lagi kan ? Just do it !!

Kantor Makelar

Entah bagaimana cara untuk menghaluskan sebuah hujatan, tapi saat ini cukup banyak hal yang seharusnya bisa dihujat. Ini tentang endas-endas yang butuh diberi makan, bukannya melahap sepiring nasi opor, mereka malah terus saja menggerogoti gedung kantor. Kok nggak kenyang-kenyang ya mereka, aku saja sudah sangat eneg dengan aroma seperti itu. Caranya sih bagus, mencoba mencari celah yang lebar untuk sekedar menari-nari di atas kegelian kami melihat tingkah mereka. Akhirnya, bocor di sana sini.

Berulang-ulang cara itu diterapkan, seakan-akan itu jurus hebat dan mandraguna untuk membuat lubang-lubang kecil penyedot mimpi-mimpi rakyat kecil. Mereka menciptakan dirinya menjadi makelar-makelar bau yang sejatinya hanya bertugas mengantarkan pundi-pundi uang untuk para penjual barang-barang mewah. Mobil, pakaian mewah, pemilik hotel berbintang, bos percetakan, hingga beragam jenis konglomerat culas lain. Ini lingkaran setan, jenderal !! Berkali-kali ketahuan, tak kapok juga. Saya khawatir, tak lama lagi kantor ini akan runtuh, melihat pondasinya yang kian rapuh digerogoti gigi-gigi rakus itu.

Kuliah Lagi

Kali ini tulisan riil, tanpa banyak kiasan. Sudah beberapa orang yang memberiku motivasi untuk meneruskan kuliah. Dari rekan kerja, saudara, teman, orang tua, sampai istri tercinta. Cukup banyak alasan logis yang disampaikan, sebagian besar tentang peluang karir dan segala sesuatu tentang itu. Terima kasih untuk perhatian kalian semua. Itu sangat berarti.  🙂

Namun, cukup panjang jalan ke arah itu. Salah satunya, emang kuliah nggak pake duit ape ? Hehehe. Upz, sarkastik yah. But its true. Untuk skala prioritas, kuliah masih menempati urutan ke sekian. Masih di tiga besar sih, tapi jelas bukan yang pertama. Urutan pertamaku masih jelas, program mendapatkan momongan, insya Allah. Lho, apa hubungannya ? Banyak dong. Ini tentang pilihan bro. Pilihan untuk mendampingi istri, memastikan si dedek sebaik mungkin mendapatkan perhatianku. Lagipula, menimba ilmu bagiku sekarang ini bukanlah semata di bangku kuliah.  Lebih banyak pengetahuan di luar sana. Satu hal yang pasti, keputusanku saat ini adalah jalan terbaik yang menunjang mimpi-mimpiku di masa depan. Babak ini adalah syarat untuk tercapainya keadaan itu. Insya Allah.

(picture : dailymail.co.uk )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s