Lalu Apa?

pileg

Pileg sudah usai. Lalu apa?

Lepas dari tanggal 9 April, banyak hal yang tiba-tiba kian menghangat. Paling lucu adalah ulah para caleg gagal yang menggelikan. Tak perlu disebut lagi, terlalu tidak keren untuk bangsa sebesar ini. Lucu saja, niat untuk mengabdi pada bangsa kok berujung stress, sampai mana pun tidak ketemu logikanya.

Ada beberapa pertanyaan menggelitik saat ini. Dimulai dari hal-hal absurd : Bagaimana perhatian partai-partai terhadap caleg-caleg mereka yang gagal ? Adakah mereka memberi sedikit motivasi, konseling, atau sekedar kata “wes, rapopo” ? Iya, meski banyak pula yang menyikapi dengan positif, tapi keberadaan caleg yang depresi cukup menarik pemberitaan. Kesannya, mereka hanya beraksi saat mau pemilu saja. Habis itu, kalau tak terpilih, ya dibuang. Akhirnya, lagi-lagi tidak nyambung, antara niat membangun bangsa dengan per-caleg-an ini. Lalu apa?

Kedua, apa yang kini dilakukan para caleg yang potensial untuk terpilih ? Adakah saat ini mereka di depan laptop dan mulai mengetik program-program pembangunan, langkah nyata yang akan dilakukan nanti, atau bahkan gebrakan untuk kesejahteraan rakyat ? Entahlah. Kalau boleh suudzon, mungkin saja saat ini mereka sibuk menghitung banyak hal. Apa saja? Entah, mungkin tentang break event point. Idealnya, mereka tak perlu menggelar syukuran, hanya untuk merayakan kemenangannya. Mereka harusnya mulai membaca cerita tentang Khalifah Umar bin Khattab. Lepas itu, mulai doa bersama memohon keselamatan dunia akhirat, terkait kursinya nanti.

Ketiga, apakah rakyat ini seperti puzzle ? Ngeri mahadewa melihat para analis politik mulai mengutak-atik koalisi partai. Seperti puzzle, partai ini cocok dengan partai itu, dengan banyak alternatif dan kombinasi. Partai A seideologi dengan partai B, yang C nggak satu platform dengan D, capres ini harus begini, harus begitu. Edan !! Semudah itukah, adakah dalam proses seperti itu terpikirkan nasib rakyat? Ini tentang ratusan juta manusia lho, enak banget pake ilmu cocoklogi seperti itu. Kalau sudah begini, rasanya memang kekuasaan yang amanah itu sukar dicapai. Lalu apa ?

Keempat, yang benar-benar menjengkelkan. Semua media, berlomba menyajikan berita tendensius dan penuh kepentingan. Aduhai, televisi semakin tak terkendali. Mau lari ke facebook, hampir setiap akun nge-share link-link yang extremely ngeri :/ . Konspirasi, manipulasi, black campaign, agen yahudi, pemecah belah, semua dialamatkan ke pihak-pihak yang berseberangan. Entah faktanya seperti apa. Sejatinya, untuk melontarkan hal-hal seperti itu perlu tabayyun tingkat tinggi. Tapi, di era yang penuh fitnah ini, terasa serba salah. Percaya ke satu pihak, dimusuhi pihak lain. Bicara tentang satu pihak, dikira antek-anteknya. Alhasil, sikap tawassuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus) dan tasamuh (toleransi) perlu dikedepankan.

Iya, harapan harus tetap berkobar. Satu hal yang cukup menggembirakan, adalah perolehan suara partai-partai Islam yang mampu menembus angka 30%. Sebuah modal yang bagus, untuk mengembalikan kejayaan bangsa ini. Namun, bisakah semua partai Islam bersatu ? Entahlah, sejarah belum mampu membuktikan. Tapi, upaya untuk itu sudah mulai nampak. Salah satu beritanya : Ormas Islam Gagas Pertemuan dengan Parpol Islam

Semoga 🙂

Wallahul muwwafiq

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s