Kecil-kecil Utang

sumber foto : http://www.iprasblog.com
sumber foto : http://www.iprasblog.com

Sebuah artikel berita bertanggal 18 Juli 2013 di situs Kompas tiba-tiba nongol dari sebuah link. Isinya cukup membuat miris, walau sebenarnya sudah cukup lama menjadi konsumsi publik. Bahwa Utang Negara Indonesia saat ini mencapai Rp 2.036 triliun. Angka yang fantastis. Disebutkan, Indonesia sedang menuju kebangkrutan.

Berikut sedikit kutipannya :

Berdasarkan laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) yang dikeluarkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Desember 2012, utang negara saat itu Rp 1.850 triliun. Jadi, hanya dalam enam bulan, jumlah utang Indonesia bertambah Rp 186 triliun.

Selain utang yang menumpuk, tanda-tanda negara bangkrut itu, menurut Uchok, yakni aset negara atau tanah berserta sumber daya alam lainnya sudah dikuasai oleh pihak swasta. Gejala lainnya, lanjut Uchok, adalah cadangan devisa yang terus tergerus dan merosot ke titik nol dan pemerintah mulai tidak bisa mengendalikan harga-harga kebutuhaan pokok masyarakat yang terus mengalami kenaikan luar biasa di luar batas psikologis serta tak mampu lagi membayar gaji para aparat negara. 

Menurut Uchok, menumpuknya utang negara disebabkan pengelolaan yang tidak transparan. Realisasi utang luar negeri banyak diperuntukan bagi proyek-proyek yang tidak produktif sehingga tidak mampu membayar bunga dan pokok utang tersebut.

Baca : http://nasional.kompas.com/read/2013/07/18/1338289/Fitra.Utang.Negara.Rp.2.036.T.Indonesia.Siap-siap.Bangkrut

Hmm, tragis euy. Ada yang bilang, setiap bayi yang lahir terbebani hutang sebesar Rp 8 juta. Artinya, ia punya kewajiban untuk mengembalikan utang negara sebesar itu. Tapi, apakah memang seperti itu ?

Rasanya terlalu hiperbolis dengan penggambaran seperti itu. Memang, tidak semudah itu jika membicarakan masalah keuangan di tataran sebuah negara, akan begitu banyak variabel yang terkait. Angka tersebut tidak menjelaskan semua hal, bahwa Rp 2.036 triliun bukanlah akhir dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Angka ini juga tidak sepantasnya merebut asa dan ghirah anak-anak Indonesia.

Angka itu, bisa saja kita artikan dengan banyak hal. Jangan hentikan langkahmu di angka itu. Kalau mau marah, silakan. Dengan beban Rp 8 juta per anak, silakan menyalahkan pengelola negeri ini. Menyalahkan mereka di tengah upaya besar menyingkirkan angka itu, oleh orang-orang yang masih mempunyai visi besar membawa perubahan.

Beberapa waktu yang lalu, seorang pejabat di lingkungan Pusdiklat Anggaran Kementerian Keuangan menyampaikan realita seperti itu. Utang sebesar itu bukan mutlak menjadi objek bulan-bulanan media dan masyarakat, seyogyanya menjadi tugas besar yang diselesaikan bersama. Setiap tahun, anggaran yang dialokasikan untuk mencicil utang tersebut sangatlah besar.

Apa yang bisa kita lakukan ?

Jangan terbebani dengan angka itu. Resapi saja, bahwa kita terlahir sebagai anak Indonesia yang punya kewajiban berbakti kepada NKRI. Uhukk.. Pernyataan lugu ya ? Hehe..

Ayolah, coba melihat lebih dalam lagi. Perubahan itu sedang terjadi. Kalian yang sungguh-sungguh belajar, menimba ilmu di sekolah, itulah wujud kalian mencicil hutang negara kita. Kalian yang jatuh bangun kuliah, mengerjakan skripsi dengan istiqomah, di situlah kalian memperpanjang nafas bangsa ini. Kalian yang bekerja dengan keikhlasan, melayani masyarakat, kalianlah penopang ekonomi Indonesia. Tidak perlu mengeluh, menjadi pesimis, ataupun berpangku tangan terhadap angka itu.

Kita semua menggerakkan diri dalam roda kehidupan di negeri ini. Cipatakan stabilitas, itulah peran kita. Perubahan itu terjadi. Beberapa hal yang mungkin belum kalian tahu. Kementerian Keuangan saat ini tengah serius menggarap sebuah sistem terintegrasi dalam rangka pengelolaan keuangan bangsa kita. Sistem yang diharapkan mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan anggaran, yang pada akhirnya mampu mengoptimalkan perekonomian Indonesia.

Sistem tersebut dinamakan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Teman-teman bisa sedikit melihat di situs ini : http://www.span.depkeu.go.id/

SPAN adalah salah satu aktivitas terbesar yang pernah dikerjakan Kemenkeu dengan melibatkan instansi terbanyak, jaringan terluas, waktu terpanjang, hingga dana terbesar. Saat ini SPAN tengah berada pada fase pembangunan, pasca persiapan yang meliputi penetapan kerangka hukum, tata kelola dan proses pengadaannya.

Itu adalah satu perubahan yang sedang terjadi. Apapun latar belakangmu, apapun pola pikirmu, mari kita doakan SPAN ini bisa sukses diterapkan di Indonesia. Kita cukup membayangkan bahwa nanti semua transaksi keuangan negara kita bisa dikontrol dengan baik, sehingga meminimalisir terjadinya KKN.

Perubahan lain ? Banyak. Cari saja beragam projek kreatif yang kini digarap anak muda Indonesia. Indonesia Mengajar, Coin a Chance, Indonesia Setara, Indonesia Berjamaah, Sedekah Rombongan, dan masih banyak lagi. Itu cara kita mencicil Rp 2.036 triliun utang negara kita.

Jadi, jangan melulu menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan keadaan. Lakukan saja aktivitasmu dengan baik. Think positiv and positiv. Saatnya tiba nanti, kita akan membawa bangsa ini menuju perbaikan besar, membesarkan negara yang kini tengah dirundung duka. Kewajiban itu tengah kita tunaikan, bersama dengan aktivitas kita menjalani hidup.

So, jangan pesimis dan merasa kecil dengan angka itu. Justru kita mesti merasa besar, karena memang bangsa ini terlalu besar untuk terhenti oleh angka itu. Ingat ayat ini :

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
(QS: Ar-Ra’d Ayat: 11)

Ingat juga sebuah ayat yang harusnya membuat kita mawas diri. Ayat yang “nampak” sebagai kebalikan dari ayat di atas :

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya, Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang lelah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan, sesungguhnya, Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. Al-Anfaal [8] :53)

Jadi sedikit bertanya. Kita mesti berusaha untuk merubah nasib bangsa Indonesia, karena Allah tidak akan mengubah nasib tanpa kita sendiri yang merubah. Tapi, apakah kita juga sebenarnya telah mengubah apa-apa yang ada pada kita, sehingga Allah mencabut nikmat-Nya kepada bangsa Indonesia ? Mana yang lebih dahulu ?

Wallaul muwafiq

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s