Masa kalah sama Babi Ngepet ?

images

Sudah hampir seminggu ini berada di kota Bogor. Rasanya waktu berjalan semaunya sendiri, saat ingin berjalan dengan pelan, malah terasa cepat. Saat kepengen memacu waktu, ehh nggak terkejar. Memang, waktu menjadi misteri yang ganjil. Seganjil kita yang repot-repot memikirkannya. Menjalani hidup tidak pernah menjadi mudah, kecuali sudah kita putuskan untuk itu. Putuskanlah untuk bahagia. Bahkan kalau mau masuk ke sebuah ruangan, putuskanlah bahwa nanti di dalam ruang itu kita akan bahagia, apapun kondisinya.

Begitu pun di sini. Menemukan hal-hal baru yang luarbiasa, sungguh menuntut ilmu itu merupakan bagian yang paling menyenangkan dari pelepasan energi pasca mengisi perut.

Babi Ngepet

Ada sebuah pertanyaan, yang mengandung pernyataan menggelikan. Diungkapkan oleh seorang widyaiswara beberapa hari yang lalu, saat memberikan materi tentang etika bendahara. Masa kita kalah sama babi ngepet ? Hlo ? Maksudnya apa nih ? Masa kita disamain dengan babi ngepet ?

Bagi yang belum mengerti apa itu babi ngepet, silakan besok pagi ditanyakan ke guru fisika atau pendidikan jasmani, ataupun googling di situs Yahoo. Intinya, babi ngepet adalah salah satu bentuk ritual pesugihan. Apa itu pesugihan ? Yaitu upaya untuk menjadi “sugih” alias kaya alias tajir. Nah, kalo dilihat dari bahasa sih nggak masalah ya, semua dari kita pasti melakukan pesugihan, yakni dengan bekerja.

Masalahnya, ada sebagian oknum yang saking kurang sabarnya, terpaksa mengambil langkah pintas. Kalau itu legal dan halal sih nggak masalah, cuma banyak juga yang keblinger dan memanfaatkan ritual sesat dan haram. Babi Ngepet adalah salah satunya. Konon, untuk dapat menjalankan ritual ini, butuh minimal 2 orang yang beraksi. Biasanya sih suami istri. Bisa juga sama anak-anaknya.

Setidaknya, gambaran tentang babi ngepet lebih sering muncul di televisi, dalam bentuk sinetron atau film. Jadi, begini. Si suami beraksi dengan berubah wujud menjadi babi (prosesnya klenik, aku nggak paham :P), sedangkan istrinya menjaga sebuah lilin. Konon katanya, kalau nyala lilin ini sampai padam, maka sang suami akan segera berubah kembali menjadi manusia dan bisa tertangkap. Apapun yang terjadi, si istri ini harus menjaganya, supaya aksi sang suami bisa lancar dan membawa rezeki ke rumah. Iya, walau haram.

Lalu, bagaimana bisa kita kalah dengan babi ngepet ?

Jadilah penjaga lilin yang baik. Penjaga Lilin bagi suami, bagi orang tua, bagi orang-orang yang kita cintai. Jagalah lilin ini saat orang yang kita cintai bekerja mengumpulkan pundi-pundi rejeki, tentu saja dengan konteks yang baik. Mendoakan mereka, menyemangati mereka, mensyukuri keberadaan mereka. Agar lancar dan senantiasa diberi keselamatan, nikmat yang halal dan barokah. Jadilah penjaga lilin dengan tahajud dan dhuha.

Jujur saja, itu jlebbb banget terdengar. Apakah aku sudah jadi penjaga lilin yang baik bagi ayahku selama ini ? Bagi ibuku selama ini ?

“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Itulah. Semoga kita bisa menjadi penjaga lilin yang setia memastikan nyala lilin orang-orang yang kita sayangi, memastikan kobaran semangat dan cahaya hati mereka tetap terang menyala. Yapp, sebuah ungkapan yang cukup luarbiasa. Masa kita kalah sama babi ngepet ?

Oh iya, sebenarnya metode pesugihan babi ngepet itu cukup menyusahkan ya, ribet dan nggak efisien. Kalau memang pengen jalan pintas, kenapa harus repot jadi babi (yang notabene menjijikkan). Kenapa harus memakai konsep lilin, kalau lilin mati, yang ngepet ketahuan. Nggak woles itu. Sungguh pesugihan yang norak dan kampungan.

Bogor, September 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s