PILKADUS

PILKADUS

Jabatan kepala dusun, meski tidak sementereng anggota DPR atau Bupati, tetap menjadi magnet bagi siapapun untuk mencalonkan diri. Fakta yang terjadi, ajang pilkadus sering menimbulkan perpecahan di masyarakat. Efek dan panasnya persaingan kadang lebih terasa, jauh melebihi pemilihan presiden bahkan untuk waktu yang lama setelah hari pencoblosan.

Dusun Manggaran, Kelurahan Sambitelu, Kecamatan Salakharjo. Sudah sekitar 6 bulan terjadi kekosongan jabatan kepala dusun semenjak wafatnya Pak Rasmoyo akibat terjatuh dari atap sewaktu sambatan di rumahnya Liman. Beliau menginjak empyak yang sudah keropos sehingga patah dan terjatuh.

Selama hampir 6 bulan, akhirnya pihak kelurahan berencana mengadakan pemilihan kepala dusun. Ternyata selama ini, masalah dana yang menjadi persoalan. Nunggu bantuan dari kecamatan tapi tak kunjung datang.

Liman, seperti biasa berusaha mencari-cari keuntungan dari pilkadus ini. Biasalah, yang namanya pemilihan di mana-mana pasti ada uang yang bermain, entah itu di tingkat dusun, RT, bahkan ketua paguyuban tukang tambal ban tempo hari. Tapi, Liman punya prinsip untuk tidak akan mengorbankan sesama warga Dusun Manggaran untuk mendapat pundi-pundi rupiah. Lalu, gimana caranya ya ??

Seperti pilkadus di daerah lain, ajang pertaruhan pasti marak. Semacam perjudian, dengan metode yang aneh-aneh. Bisa ditebak, menjelang hari H pemilihan pasti banyak bandar judi, mulai dari kelas wader sampai kakap besar menyerbu. Konon, banyak dari bandar itu berasal dari jauh, sekitar 150 km di provinsi lain. Sebut saja Kabupaten C, B, daerah Kr dan banyak lagi. Entah bagaimana mereka bisa mendapat info tentang pilkadus di daerah terpencil ini.

Biasanya, seminggu menjelang pilkadus mereka akan survey kekuatan, mencari agen dan juga mulai meramal. Pergi ke dukun ?? Itu pasti.

Nah, dari peluang inilah Liman ingin mengadu peruntungannya. Tapi ia tak mau sebodoh orang-orang lain yang menggantungkan nasibnya pada perjudian. Harus memakai cara pintar.

Liman mengajak komplotannya, siapa lagi kalau bukan si Narti, Bongoh dan Raji.

‘Eh, ikutan taruhan yuk, tadi ada bandar dari Kridosono yang ngajakin. Siapa tahu nanti menang.’ Liman membuka obrolan di cakruk lurahe.

‘ Taruhan pake apa, duwe duit po ? Tuku rokok ae lintingan, sok-sokan arep totoan.’ Raji menimpali sambil asyik melinting tembakau kelas murahan.

‘Ah, cah kok raiso diajak untung. Mangkane, otaknya itu dipake sithik,’ Liman meradang mendengar jawaban Raji.

‘Lha nek koe meh nganggo opo, sertifikat tanah ? Satu-satunya yang kamu punya kan tanah kuburmu besok to ?’ Bongoh nyeletuk disambut gelak tawa ketiga temannya.

‘Woo, jangkrik koe Ngoh,’ Liman tambah geram.

‘Hehehe.. Uwis to rasah murka, lha saiki penjalukmu kepriye? Narti sedikit menengahi.

‘Ngene lho. Makanya, dirungoke disik.’

‘Bandar-bandar itu kan dari daerah lain, ndak ada di sini yang punya modal bisa jadi bandar. Pasti mereka juga, modalnya cuma duit, tanpa tahu apa-apa tentang calon-calon yang njago. Yo to ?’

‘Yoh, terus,’ Raji mulai menyulut rokok lintingannya.

‘Lha, cari aja bandar yang agak-agak bloon, sing rupane iso diapusi. Yo, koyo si Bongoh iki lah minimal,’ lanjut Liman.

‘ Wooo, sampeyan ngejak gelut iki,’ Bongoh sedikit terkekeh-kekeh sambil melempat kulit pisang ke arah Liman.

‘Hehe, guyon lho Ngoh. Ngene, pokoke gimana caranya kita memutar balikkan fakta, agar si bandar iku, ketipu. Lha ka nada 3 calon, sementara ini yang paling kuat kan Pak Udin, ketua RT 67. Menurutku, Pak Udin bakalan menang. Terus nomor loro, si Abdul juragane Gethuk. Dheweke pancen sugih, tapi kurang srawung neng masyarakat. Ra bakal menang, wes to percoyo aku.’

‘Oooo, lha intine pie to kui, aku kok ra mudeng,’ Bongoh hanya ndomblong aja mendengar penjelasan Liman.

‘Sing nomer telu, Pak Syamsul. Iki yo lumayan abot, angel diprediksi menang opo kalahe. Lha, orangnya yo biasa-biasa wae. Saiki, awake dhewe nganggo si Abdul dan Pak Udin wae. Kita tipu wae bandare, Seminggu iki kita bergerilya, pokoknya dibuat seolah-olah si Abdul yang kuat. Lha nanti kita jagoin yang lemah, Pak Udin. Rasah nganggo modal, modale yo mulut-mulut mu itu. Pie ‘

‘Oh, jadi nggawe isu, seolah-olah calon yang paling kuat adalah Pak Abdul. Hmm, gimana caranya Man, kita bikin isunya ?’ tanya Raji.

‘Bego banget ki, yo kita ajak warga yang lain, kongkalingkong. Yang penting nanti mereka dapat cipratan juga, itung-itung kita berbuat amal membantu warga kita yang miskin-miskin itu. Sekalian ngasih pelajaran pada bandar-bandar yang seenaknya judi di kampung kita itu. Siapa tau, nanti pada insaf, kita dapat pahala lagi. Hyo ora ??’

‘Wah, tapi Man, ya kalau menang. Kalau kalah, pie ?’ Narti menyela.

‘Ya, kalau itu belum aku pikirkan sih, soale aku optimis menang. Optimis, dalam hidup itu harus optimis. Kalah menang gak jadi soal, yang penting optimis. Ayo lah, mumpung ada kesempatan. Melu ora ?’ Liman bertambah semangat.

‘Aku manud wae karo Liman, kalau kita kalah, paling yo cuma bonyok dipukulin bandar dan centeng-centengnya. Nanti juga warga kampung ngrewangin kita, ini kan kampung kita. Ya toh ? Mereka juga ora bakal wani lapor polisi, bisa ikut dibui juga to ? Wes, ayo Man, bismillah.’ Kali ini si Bongoh berargumen.

‘Lha gene, tumben koe pinter Ngoh. Pie, cah ayu karo Raji ? Nek menang, ngko bisa beli kambing, lumayan.’ Liman membujuk Narti dan Raji. Narti yang dipanggil “cah ayu”’ hanya bisa klecam-klecem, dan mereka pun ikut bergabung.

Singkat cerita, mereka menyusun strategi untuk memutar balikkan fakta. Liman sebagai koordinator, pokoknya dia bertanggung atas proyek yang mereka namakan “Operasi Bandar Insaf” itu.

Narti bertugas mengompori ibu-ibu untuk tetap memilih Pak Udin sekaligus meyakinkan mereka untuk tutup mulut kalau ada orang yang tanya-tanya tentang pilkadus. Maklum, kaum ibu adalah yang paling rentan membocorkan rahasia. Apalagi kalau sedang bergosip, bisa-bisa keceplosan. Sejauh ini, Narti cukup lihai mempengaruhi ibu-ibu di kampung, soalnya sewaktu SMK dia mengambil jurusan pemasaran. Cukup lah pengalamannya ketika menjajakan kosmetik untuk tugas sekolahnya.

Si Raji, sesuai dengan backgroundnya yang seorang pedagang ayam, dia mempengaruhi bapak-bapak yang kebanyakan petani, pedagang kecil dan pengangguran itu. Dia cukup jeli, untuk orang yang sekiranya sulit dipengaruhi, langsung dihajar dengan jurus maut :

‘Ini demi kebaikan kampung kita Pak, toh kita tidak berlaku curang dalam pemilihan kepala dusun. Pokoknya, pilihan bapak tidak akan kami utak-atik, monggo terserah Bapak. Yang penting kalau ada bandar nanya, bilang aja yang kuat adalah Pak Abdul. Atau kalau takut, bilang aja ndak tau. Wes, cukup.. Pie Pak ?’

Sejauh ini, Raji bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Bahkan ia ikut nimbrung setiap kampanye Pak Abdul sekaligus mengajak teman-temannya, tetapi tetap memilih Pak Udin.

Nah, si Bongoh, mengingat dia tidak terlalu pintar dan dikhawatirkan malah ngrecokin, ditugaskan di cakruk lurahe sebagai sekretariat. Dia berkewajiban mengawasi gerak-gerik orang-orang yang lewat. Maklum, cakruk itu berada di pinggir satu-satunya jalan beraspal di dusun Manggaran, menjadi pintu masuk utama. Jadi, dia pasti tahu kalau ada orang asing yang mencurigakan datang ke kampung, sudah tugasnya untuk menguntit dan mencari tahu maksud dan tujuannya.

Beberapa kali malah ada agen-agen judi, anak buah bandar kaya raya yang sengaja menemui Bongoh di cakruk lurahe. Mereka sekedar mencari tahun kekuatan dan kelemahan calon-calon kepada dusun yang sedang bersaing. Mereka tidak tahu kalau Bongoh punya misi tersendiri, bagai masuk mulut buaya.

‘Wah mas, kalau di sini yang saya tahu, Pak Abdul adalah calon yang paling kuat. Lihat saja badannya, kekar, dia juga mantan pemain bola lho mas. Urusan duit juga, dia yang paling kaya, jadi jelas Pak Abdul yang paling kuat’.

‘Begitu ya mas, lha kalau calon yang lain gimana mas,’ tanya seorang yang tidak dikenal itu.

‘Wah, kalau Pak Udin itu, memang orang terpandang mas, soalnya sering keluar menemui warga. Jadi, di mana-mana selalu dipandang orang. Tapi, dia kurang punya duit mas, buktinya dia cuma sedikit memasang gambar’. Dengan lihainya Bongoh memainkan kata-kata, yang sebenarnya dia tidak menjawab pertanyaan orang itu.

‘Lha mas ini dari mana to, kok nanya-nanya ?’ Bongoh mulai memasang tampang sangar, tapi malah terlihat lucu.

‘Eh, tidak kok mas, saya hanya pengen tau aja. Saya dari Kelurahan Rampak mas, deket pantai Nggrogol sana. Kebetulan aja lewat sini, nunut ngiyup di cakruk ini.’ Orang itu nampak sedikit grogi.

‘Oh, gitu to mas, sampeyan kenal sama Mas Gudel, si bakul ayam iku ora, wong Rampak juga ?’ Bongoh sok kenal, padahal Gudel itu jelas anak Kebo.

‘Waduh, pangapunten mas, saya kok tidak kenal ya, mungkin lain dusun mas.’ Si lelaki ini juga nampaknya hanya mengarang daerah asalnya.

‘Lho lho, Mas Gudel yang banyak tatonya itu lho, dia terkenal kok. Lha sampeyan dusun mana ?’

‘Ehm..anu mas, saya di dusun Regol,’ lelaki itu mulai gugup.

‘Hya, sama. Mas Gudel juga dari Regol, sampeyan RT berapa, RW berapa ?’ Bongoh tertawa dalam hati, mampus ni orang kejebak.

‘Waduh mas, maaf saya orang baru di dusun itu, belum punya KTP malah. Jadi gak begitu kenal. ‘Lelaki itu semakin ketakutan.

‘ Welah, sama lagi, Mas Gudel juga orang baru, belum punya KTP juga, kok bisa gak kenal ya sampeyan.. Hmmm, aneh… ‘ Bongoh semakin ngawur menginterograsi.

‘Eh mas, ini hujannya sudah reda, saya permisi dulu ya,’ orang itu pamit menghindari Bongoh yang rada bloon tapi jenius itu.

‘Ealah mas e, iki lho kopinya diminum dulu. Ya wis lah, besok kalau Pak Abdul menang, ada syukuran lho mas, katanya mau motong sapi. Datang ke sini ya, kita pesta-pesta.’ Sepatah kata terakhir melepas lelaki aneh itu.

‘Nggih mas, assalamualaikum.’ Sambil menggenjot sepeda motornya.

‘Waalaikumsalam . Hahaha, modyyar koe ketipu.’

Hampir setiap hari ada-ada saja orang yang nyasar bertanya pada Bongoh, dan mereka bernasib sama dengan lelaki yang mengaku dari Rampak itu, ditipu mentah-mentah oleh Bongoh.

Menjelang hari H, situasi semakin panas, para calon kepala dusun semakin gencar mengkampanyekan diri mereka dengan berbagai macam visi dan misi. Kebanyakan menjiplak dari para caleg yang tempo hari bersaing pada Pemilu.

***

Suatu sore, di cakruk lurahe. Seperti biasa, penguasa cakruk mengadakan rapat konsolidasi untuk menyusun strategi selanjutnya. Ditemani oleh se-teko kopi hitam, pekat, juga sepiring ubi rebus.

‘Assalamualaikum, tanpa basa-basi rapat sore ini saya buka. Langsung, laporan dari masing-masing divisi, ayo mana laporannya.’ Liman membuka rapat. Srupuuut, dia minum kopinya.

‘Halah Man, koyo opo wae. Emange anggota DPR, rapat pake ketok palu, banjur bubar turu. Wes, aku sik sing laporan.’ Raji memulai.

‘Dilaporkan dari fraksi Peduli Sesama, bahwasanya tugas saya dapat terselesaiken dengan baik.’

‘Sik-sik, rasah koyo Pak Harto, nganggo taksi-taksi barang kui opo ?’ Bongoh tiba-tiba nyerobot laporan Raji.

‘Ooo, cah kurang wawasan. Fraksi Ngoh, dudu taksi. Fraksi, iku anggota DPR, nek taksi, kae sing disopiri Lek Sugimin. Ngerti ora ?’

‘Kae angkot Ji, Raji. Ngawur waee.’ Narti menimpali.

‘Lha iki sing arep laporan sopo to ? Ayo, gregah-gregah !!!’ Liman setengah berteriak.

‘Nggih pak, ampun pak.’

‘Oke, dari para bapak-bapak, terutama wilayah RT 67, status aman. Dijamin tidak ada yang ember. Wilayah RT 68, sementara ini digarap ponakanku, si Dullah. Insya Allah kecekel wes. Percoyo wae, takjamin. Terus, RT 69, ada sedikit masalah. Si Tugiman, sing biasane trocoh kae sajake gak iso dicekel. Kemaren aku ajak rembug, tapi tanggapane masih meragukan. Tapi tenang ae, cukup dengan rokok rong bungkus, aman.’

‘Hmmm, ya ya. Lanjutkan Ji.’

‘RT 70, pinggir dalan wilayahmu Man, belum takgarap. Hehehe..’

‘Lho pie to, wes tanggal piro iki.’ Liman sedikit kaget.

‘Lha kan wilayahmu, mosok ya aku yang harus turun tangan. Iku, si Narti kan ya bisa.’

Narti yang mendengar namanya disebut langsung menyahut,’ Eladalah, njuk inyonge ? Aku ki RT 67 je.’

‘Tapi kan nanti juga pindah ke RT 70, serumah dengan Liman.’ Raji menggoda Narti, diikuti tawa keras dari Raji dan Bongoh.

‘Asem ki, malah digarapi. Ya wes lah, RT 70 insya Allah aman, nanti nek ada yang macem-macem, ngerti dhewe urusane.’

‘Laporan selanjutnya, dari Narti. Ayo mbakyu, laporan !’

‘Injih mas, matur nuwun sampun diparingi wekdal.’ Kali ini Narti sedikit menurunkan tempo dan frekuensi rapat yang sempat memanas tadi.

‘Ehm.. Injih, untuk ibu-ibu dan mbak-mbak, sampun merapatkan barisan. Tidak akan menceritakan pilihan mereka, tidak akan menjawab kalau ditanya orang asing, dan tidak mau kalau disogok. Eh, disogok tidak apa-apa, tapi diterima duit e ae, tapi pilihan tetep neng ati.’ Sembari melirik Liman yang dari tadi memperhatikan Narti bicara. Jelas saja tergugup-gugup, mendapat lirikan maut Narti.

‘Wah, hebat yo Narti. Pinter koe, lha kok iso ngapusi ibu-ibu, kan biasane ibu-ibu paling seneng ngerumpi.’ Bongoh tak mau kalah ikut melirik Liman. Jelas saja, hampir muntah si Liman.

‘Hussh, ora ngapusi. Aku kan mantan SPG, kudu pinter nggaet pelanggan.’

‘Ngene, ibu-ibu iku takceritani, kalau sebagai warga Negara yang baik, kita harus mengikuti pilkadus dengan jurdil dan luber. Ngerti ora Ngoh ?’

‘Opo, bedil ? Malah bedil-bedilan barang, luber-luber mau opo ? Pilkadus Ti, mosok luber-luber ?’ seperti biasa, keluguan Bongoh yang menimbulkan tawa.

‘Biyen ki, koe sekolah sampe kelas barapa to Ngoh ???’ (Raji garuk-garuk kepala)

‘Hehe, aku kelas 5 SD banjur drop out, gara-gara Bu Guru galak.’

‘Galak kepriye Ngoh’ (Narti bertanya)

‘Huuw, rikala biyen, Bu Guru takon. Siapa yang menemukan benua Amerika. Jawabanku salah, banjur dimarahi, digitik nganggo tuding (dipukul memakai batang bambu kecil). Yo aku nangis, ra gelem menyang sekolah meneh.’

‘Lha koe njawab pie, ngono wae ora iso.’

‘Aku njawab si Maryadi, kancaku.’ Terang saja, mendengar itu, teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Raji sampai hampir jatuh dari lantai cakruk.

‘Bodho temen to koe ki Ngoh. Penemu benua Amerika kok iso-isone Maryadi. Si Maryadi tukang gawe sapu kae? Huahahaha..’ Liman semakin memegang erat perutnya.

‘Asemm, lha kan sebelumnya Bu Guru tanya, siapa yang bisa menemukan Benua Amerika di peta. Wektu iku, Maryadi maju, banjur nunjuk Benua Amerika neng gambar peta dunia. Lha berarti, sing nemu kan Maryadi. Bener to ??’ Tanpa dosa, Bongoh membela jawabannya itu.

Ahahahaha, tertawa mereka semakin menjadi, menyaingi nyaringnya suara kendaraan yang lewat.

“Ho’o, wis-wis. Manud Bongoh wae, mengko ndak drop out seko proyek iki. Tekan endi mau aku, laporane ? Narti menyela, sambil mengelap matanya yang basah menahan tawa.

‘Iyo, jurdil dan luber. Jurdil iku, jujur dan adil Ngoh. Dudu bedil. Kalau Luber iku, Langsung, Bebas dan Rahasia. Iku prinsip pemilu yang harus dipegang, jangan sampai dilanggar. Kalau sampai melanggar, nanti bisa dapat sanksi dari Gusti Allah. Kalau milih pemimpin itu, harus sesuai hati nurani.’

‘Lha, ibu-ibu dan simbah-simbah yo mung manthuk-manthuk wae, itu kan sudah norma yang umum di masyarakat. Dengan sedikit modifikasi dan diplintir, aku bisa mempengaruhi. Sing penting tidak melanggar aturan to ? Hehehe.. Laporan selesai Mas Liman.’

‘Oke, bagus-bagus. Laporan diterima dengan baik. Sekarang yang terakhir, Bongoh ayo Bongoh laporan. Gek ndang…!!’

‘Siap komandan Liman. Dilaporkan dari sekretariatan “Operasi Bandar Insaf” bahwasanya selama seminggu ini semakin banyak orang-orang luar yang masuk dan mencoba mengotak-atik soal pilkadus.

(Bersambung….)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s