DARI KELAS, MALL DAN TIMNAS ; HAUS ILMU

#seri belajar menulisku

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat sang Rabb penggerak langkah peneduh jiwa, meletakkanku di tempat-tempat indah, di waktu-waktu bahagia dan kesempatan-kesempatan baik.

Diklat Pertamaku

Diklat Sistem Akuntansi Instansi dan Pelaporan Keuangan, sebuah kesempatan berharga yang kudapatkan. Tak ingin sia-sia, setiap detail kuanggap penting dan membawa ilmu yang baik.  Hari-hari di sebuah kamar bernomor 11a, wisma Nusantara. Dua minggu ke depan, semoga betah.

Beruntung, dapat teman sekamar yang komplit. Yang satu kocak, unik dan menyegarkan suasana, dialah Pak Raden Ngabei Sutrisna dari Poltek Denpasar, Bali. Sosok bapak nyentrik berumur 40 tahun dengan 2 orang anak. Masih mempunyai darah ningrat Jawa dan Bali, beliau adalah Kepala Subbagian Perencanaan. Berbadan kekar, berkulit agak hitam (suka ke pantai katanya), memakai anting di telinga kiri. Logat Bali yang kental, selalu membuatku tersenyum-senyum setiap mendengar beliau bercerita.

Satu lagi adalah Bang Sony Budiman dari Bandung. Bapak berusia 30an tahun, akuntan, pernah kerja di KAP dan terlihat sangat intelektual. Dia ngemong dan banyak membantuku dalam  belajar. Berbagai pengalaman tentang dunia keuangan diceritakannya dengan logat Sunda yang khas (sampai tak sadar aku tertular..hehe…). Jadilah kami kombinasi teman kamar yang komplit, tak pernah sepi tapi juga selalu membicarakan hal-hal yang berbobot, serius tapi juga penuh guyonan.

Kelas SAI,selama 4 hari pertama kami diguyur dengan teori-teori akuntansi, mulai dari AKuntasi Dasar, Standar Akuntansi Pemerintahan, Sistem Akuntansi Pemerintah, dan juga sebuah sesi motivasi yang amazing. Semua memberiku banyak hal, ilmu-ilmu itu terasa hangat kuterima. Semakin hari, semakin lelah tapi semakin rakus rasanya menginginkan pengetahuan dan kecakapan baru itu. Apalagi dengan teman-teman kelas yang cukup rame dan tidak membuat bosan. Thanks Allah.

Senin, 07 November 2011 à Hari pertama, belum ada kegiatan. Bersua dengan teman baru seantero nusantara.

Selasa, 08 November 2011 à Pembukaan, materi pertama tentang Dasar-Dasar Akuntansi

Rabu, 09 November 2011  à Standar Akuntansi Keuangan

Kamis, 10 November 2011 à Sistem Akuntansi Keuangan

Jumat, 11 November 2011

Hari special katanya, di facebook dan twitter menjadi doa dan pengharapan, selain caci maki. Hari ini kelas diklat dibuat gaduh oleh aksi widyaiswara kocak dan berwajah menggelikan. Dialah Pak Zega, mengantarkan mata diklat gak jelas tapi mengena di hati.

Aku dan beberapa peserta lain terlambat, beliau sudah duduk memegang microphone. Upz, berdiri ding, pendek sih badannya. Beliau langsung menyambut kami dengan suara yang cempreng, bernada mantap dan intonasi yang mengagumkan. Ya, terkejutlah kami. Beliau memulai dengan menyobek selembar uang seribuan. Wow, nekat nih si Bapak.

Sebagian besar dari kami bereaksi dan cenderung membatin “wah,sayang tuh Pak”. Beliau langsung menyahut

“ Kenapa? Nah, kita cenderung menganggap setiap uang seolah milik kita. Kenapa kalian yang complain, ini uang saya, bukan uang kalian. Bakat nih, jiwa korupsinya.”

Gubrak, nancep juga di hati tuh, kata-kata si Bapak. Sore itu kami dibuat terpingkal-pingkal mendengar beliau menyajikan materi, gak kalah deh sama si Mario Teguh. Luarbiasa. Komplit pokoknya; motivasi, renungan, siraman rohani, guyonan, sulap, games, nyanyi bareng, sampai foto bersama. Ini nih, yang kaya gini perlu tiap bulan digalakkan buat para PNS biar semangatnya muncul.

Ya, arus perubahan perlu kita hembuskan di lingkaran pertama pengampu sector pendidikan ini, dari kita. Jangan hanya jadi PNS biasa, apalagi masih memelihara stigma dan cibiran dari masyarakat. Keyakinan, bahwa pembaruan dan semangat muda akan mampu membawa perbaikan dalam system tata kelola pemerintahan, menjauhkan dari praktek-praktek nista dan kembali kepada fitrahnya abdi negara ; melayani dengan segenap hati.

Puji syukur, sampai detik ini masih dapat kurasakan bahwa deklarasi pengabdian, semangat berbuat untuk negeri ini masih menggerakkan hati dan pikiranku. Semoga ini untuk selamanya. Bekerja dengan ikhlas dan dedikasi. Mungkin terlalu ideal, tapi hanya dengan semangat ke arah itulah yang bisa kulakukan. Aku yakin, rasa seperti ini pasti dirasakan juga oleh jiwa-jiwa muda abdi negara di manapun, di waktu ini. Aku yakin, mereka punya cara sendiri dan usaha mewujudkan semangat kejujuran, mengobarkan kembali peran sebagai generasi muda . Aku yakin, kami mendapatkan kepercayaan mulia itu dengan amanah di dalamnya. Aku yakin, generasi kami adalah pembaharu dan siap menghilangkan pandangan negatif terhadap kaum muda.

Outside lesson class

Sabtu-Minggu, jatah libur. Lumayanlah bisa menghilangkan kepenatan di kelas. Sabtu sore, mencoba menjelajahi apa yang disebut ibukota. Fiuhhh, asap kendaraan nan pekat, klakson nyaring dan kemacetan. Rindu Jogja jadinya =D

Perjalanan membuatku banyak belajar tentang kehidupan di keramaian Jakarta. Beberapa jam menjelajah, bersama keluguanku menanggapi bentuk-bentuk mewah kehidupan, menghargai sunyinya desaku, dan akhirnya mensyukuri setiap rupiah yang didapat. Ternyata sekian tahun hidup ini, di luar sana banyak yang mau tidak mau mensyukuri apa yang bisa dimakan hari itu.

“Butuh biaya untuk bayar SPP sekolah”

Tertulis di selembar kertas, dilaminating, dibawa oleh seorang anak laki-laki, dan yang terparah dibawanya selembar kertas itu di seputaran lampu merah. Sambil memasang wajah memelas ataukah memang seperti itu, yang jelas itu menarik otakku menganalisa lebih jauh lagi.

Iklan

2 respons untuk ‘DARI KELAS, MALL DAN TIMNAS ; HAUS ILMU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s