Literasi sejak Dini

source-thinkstock

image : thinkstock

Awalnya hanya senang berkunjung ke toko buku. Meluangkan waktu berjalan-jalan di lorong-lorong antara jejeran rak-rak penuh buku. Kemudian, mulai suka berjubel di bazar-bazar buku, memburu buku-buku diskon 😀 Ada kenikmatan tersendiri saat mengendus aroma buku baru, saat membaca-baca sinopsis di sampul belakang, dan tantangan seru saat menimbang-nimbang isi dompet untuk membeli buku incaran.

Di Jogja, ada cukup banyak moda penyaluran hobi ini. Mau sekedar hunting buku, kita bisa ke toko-toko yang ada : Gramedia (ada beberapa, terutama di mall-mall), Toga Mas, atau Social Agency. Bisa juga ke kawasan Shopping Center, sebelah timur Taman Pintar Jogja. Di sana ada beragam buku, mulai yang ori sampai KW, mulai dari buku terbitan baru sampai buku-buku lawas dan jadul. Nyari contekan skripsi? Ada juga. Event-event bernuansa buku juga rutin digelar ; Islamic book fair, pameran buku, bazar buku, cuci gudangnya Gramedia, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Koleksi buku bertambah, pelan tapi pasti. Pelan-pelan banget, tapi pasti. Hehe.  Sayangnya, itu kurang diikuti dengan penambahan alokasi waktu untuk membaca. Alasan klise : Sibuk. Wes ngono wae.

Dunia literasi. Paling tidak, saya sudah mengisi salah satu rentetan dari sekian aktivitas literasi. Membeli dan membaca buku. Meski masih jauh dari definisi komplitnya :

Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar)” . Ini definisi dari kamus online Merriam-Webster

Itu baru satu definisi, kalau mau googling, ada begitu banyak pengertian lain, walau masih nyrempet-nyrempet. Ya, intinya disini ada beberapa aktivitas kunci : membaca, menulis, menghitung, memahami, memecahkan masalah. Begitu pentingnya, literasi menjadi salah satu agenda prioritas Unesco, di mana mereka terus mendorong kemampuan literasi baik bagi individu, keluarga maupun komunitas, yang pada akhirnya dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Monggo dibaca di sini : Literacy.

Sayangnya, di Indonesia budaya literasi masih sangat minim. Apa ya, susah mengistilahkan. Konon ada survei tentang jumlah buku yang wajib dibaca oleh anak-anak usia SMA Indonesia dibanding negara-negara lain :

USA 32 buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku

Bahkan, menurut Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya. Dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. (Referensi : Fakta Minat Baca di Indonesia )

Ah, biarlah, ndak perlu pusing memikirkan angka-angka di atas. Saya sendiri bahkan masih dalam tahap minor : suka beli-beli buku, ditaruh di rak, dan mulai curi-curi waktu untuk bisa membaca. Hiks. Tapi lumayanlah, aktivitas membaca sudah ada. Berikutnya, aktivitas menulis. Ini alhamdulillah, meski bukan dalam bentuk buku, tapi setidaknya sudah punya blog yang mengudara dari 2011 ini. Ada sih dulu sebelumnya juga punya blog dari jaman lulus SMA, tapi sudah hibernasi total.

Nah, budaya literasi ini memang masih menjadi hal yang jarang didengar. Mengapa ? Ya karena memang sejak dulu kurang diterapkan oleh orang-orang tua kita. Jaman dulu, mencari buku bacaan berkualitas itu susah, terutama di sekolah-sekolah pelosok, di kampung-kampung. Beli buku? Boro-boro, orang tua tentu punya prioritas ketat untuk mengeluarkan anggaran rumah tangga, tentu saja lebih penting untuk kebutuhan primer. Budaya literasi belum ditanamkan sejak dini.

Itu yang saya alami, sebagai generasi yang lahir di tahun 80an akhir. Kalau sekarang ? Alamak, sama saja. Cuma faktornya yang berbeda. Membaca artikel ini, agaknya memang kita sulit untuk diajak berliterasi :

Menurut survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal II 2016 yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, hanya 9 persen dari generasi Z (rentang 10-19 tahun) yang saat ini masih membaca koran, majalah atau tabloid dalam bentuk cetak. Sisanya, lebih memilih mendapatkan informasi dari televisi atau internet. Hal itu diungkapkan oleh Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business Nielsen Indonesia. Sumber : Survei Nielsen

Jadi, memang kuncinya adalah menanamkan budaya literasi sejak dini. Simpelnya, membiasakan anak dengan buku sejak kecil, sejak balita. Familiarkan pandangan mereka dengan buku, akrabkan hari-hari mereka dengan buku. Buku apa saja, yang terpenting adalah mereka terbiasa memandang bentuk fisik buku. Mengakrabkan sentuhan mereka dengan buku, dengan begitu akan terbentuk “hubungan emosional” antara anak dengan buku sejak dini.

Jika sudah demikian, kita sebagai orang tua sudah punya modal untuk mulai mengajarinya membaca. Tentu saja perlu timing yang tepat untuk itu, sesuaikan dengan perkembangannya juga. Di awal, berikan buku-buku bergambar. Ini bermanfaat untuk mengenalkan hal-hal di sekitar, bisa berupa tumbuhan, benda-benda, hewan atau fenomena alam lainnya. Ini yang sedang kami terapkan di rumah kepada si kecil Nahlendra. Buat ibu-ibu muda, sekedar informasi, silakan googling tentang metode Montessori. Ini bisa diterapkan untuk mendukung upaya membudayakan literasi sejak dini. Bisa kita bahas nanti di tulisan lain.

Sudut Montessori nya Nahlendra

Sudut Montessori nya Nahlendra

Montessori

Kamar Nahlendra dengan pendekatan Montessori

Saya dan istri, kebetulan memang menyukai buku, dan segala hal yang berkaitan dengan buku. Dan kami mulai mengajarkan juga hobi kami itu, kepada Nahlendra. Memenuhi kamar dengan buku anak, buku bantal, dan kartu-kartu pembelajaran. Mengajaknya ke perpustakaan, ke toko buku, dan ke pameran buku.

Nahlendra di pameran buku

Nahlendra di pameran buku

Salah satu tantangan di periode seperti ini adalah kesabaran, terutama jika dia mulai gemes dan merobek halaman buku. Maka, untuk anak usia balita, terutama di bawah 3 tahun, berikan mereka buku dalam bentuk hardcover, pun dengan halaman isinya kalau bisa juga hard agar tidak mudah dirobek. Bisa juga dalam bentuk buku bantal.

Perpustakaan

Nahlendra dan Bundanya di Perpustakaan

Buku

Nahlendra dan Teman-temannya

Beruntung, istri juga sangat telaten dalam hal ini, saking telatennya bahkan buku-buku yang dibeli kadang kurang cocok dengan usianya. Dan ini memang salah satu tantangan. Lapar mata, begitu istilahnya, jika kita terlalu bernafsu membeli sesuatu yang belum saatnya dibeli. Tentu saja, sang ayah yang harus ekstra ketat. Iya, ketat dalam merogoh kocek. Hehehe.

Harapannya, nanti kami bisa menumbuhkan budaya Literasi dalam keluarga. Jika dulu sang ayah bermimpi menjadi penulis buku namun belum kesampaian, semoga nanti bisa diwujudkan oleh anak-anak kami. Memulai dengan sederhana. Memulai dengan koleksi buku, merealisasikan perpustakaan keluarga, dan mengagendakan waktu khusus untuk membaca.

Jika dirunut, bahkan sejarah peradaban Umat Islam tidak bisa dilepaskan dari budaya literasi. Berbagai kitab yang dipelajari di masa ini, tentu saja adalah produk-produk luar biasa dari kegiatan literasi. Bisa dibayangkan jika dulu para alim ulama tidak memperhatikan hal tersebut, tidak akan ada khazanah yang begitu lengkap yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Oh ya, ini ada website keren dari pegiat Literasi dari kalangan pesantren, namanya Santrijagad.  Tulisan-tulisannya menyejukkan. Percaya deh.

Yap, itu dulu. Mari kita giatkan upaya-upaya untuk menyebarkan budaya Literasi, dimulai dari keluarga, menanamkan kepada anak-anak kita sejak dini. Ada begitu banyak manfaat dari kegiatan tersebut.  Ya, paling tidak daripada harus menyaksikan anak kita terpaku diam menyimak acara televisi yang makin tak jelas itu, mending ajak mereka bercengkerama sambil membaca buku. Letakkan anak kita di pangkuan, bentangkan buku di hadapannya, dan mulailah bercerita. 🙂

Rabbit Hole

Nahlendra mendapat Buku Baru

Lidah sang Imam

Sebut saja namanya Pak Dibyo. Tidak tahu persis berapa usianya, tapi dari kerut dan keriput di wajahnya, dia berusia sekitar 55 tahun. Entahlah. Yang jelas sudah tidak muda lagi, gigi-giginya sudah mulai jarang. Beliau sangat terkenal di kampung Kalidukuh. Bukan karena ketokohan, kekayaan, punya mobil dan rumah besar, bukan karena sering nongol di televisi. Bukan pula karena beliau aktivis sosmed, apalagi mantan calon anggota DPR. Beliau pegawai di sebuah instansi pemerintah, konon katanya berhasil diangkat setelah puluhan tahun mengabdi, sebagai juru rumah tangga. Selain itu, beliau nyambi, menggarap sawah.

Pak Dibyo menjadi cukup terkenal, karena suaranya yang melengking terdengar di lima waktu. Suaranya berat, menggelegar. Beliau menjadi cukup familiar, karena kehadirannya yang paling rajin, seolah menjadi juru kunci di satu-satunya masjid kampung Kalidukuh. Dan suara beliau sangat intim di telinga kami, karena memang alunan adzannya tidak semasyuk dan semerdu muadzin lainnya. Tapi sangat khas, sehingga warga kampung lain pun sempat bertanya-tanya, itu suara siapa ? Kok seperti itu ?

Alunannya terkesan “njowo” banget, seperti adzan TVRI itu. Satu lagi, menjelang waktu subuh, beliau selalu aktif “membangunkan” warga untuk bersiap-siap menjalankan sholat subuh. Atau setidaknya memberikan penanda waktu bagi mereka yang sedang bersantap sahur. Beliau melakukan itu dengan membacakan surat Al Fatihah melalui pengeras suara masjid. Bagi mereka yang terbiasa bangun pagi, rapalan Al Fatihah ini sangat membantu, seolah-olah menjadi penanda waktu tersendiri. Waktu bagi mereka untuk bersiap-siap ke masjid, bersegera untuk merampungkan santap sahurnya.

Pun saat sholat berjamaah. Beliau kerap menjadi imam. Beliau bukan orang terfasih di kampung ini. Ada beberapa orang yang sebenarnya lebih fasih, lebih terlihat “ketokohannya”. Pak Dibyo ini sebenarnya lebih pantas disebut pemain cadangan. Eh, imam cadangan maksudnya. Tapi bagi para jamaah, beliau lebih diposisikan sebagai imam utama (kalau tidak bisa disebut imam tetap). Bukan karena kemauannya, tapi memang imam-imam yang lain masih kalah rajin dibanding Pak Dibyo ini.

Beberapa bulan lalu, muncul beberapa gelintir orang yang mencoba menggugat beliau. Entahlah, apa yang sebenarnya digugat. Pembacaan Al Fatihahnya kah, pelafalannya kah, atau alunan dan nada adzannya yang seperti itu? Mungkin mereka lebih fasih, lebih bisa mematuhi kaidah-kaidah tajwid, makhrojul hurufnya lebih pas. Wajar jika Pak Dibyo yang barangkali lebih awam ini, digugat. Malam itu, mereka duduk melingkar, membahas keberadaan Pak Dibyo. Intinya, mereka akan menggantikan Pak Dibyo ini dengan yang lebih muda. Sebagai muadzin dan imam sholat. Yang terdengar, salah satu faktornya adalah omongan dari warga kampung sebelah ; itu kok adzannya seperti itu, pake baca Al Fatihah sebelumnya ?

Saat itu Pak Dibyo mengalah, karena mungkin memang menyadari bahwa ilmunya masih kalah dibanding beberapa orang yang kala itu memperbincangkannya. Dan memang lidahnya terlalu kaku jika harus dipaksa mengikuti standar orang-orang itu. Dan benar, hari selanjutnya tak lagi terdengar suara adzannya. Juga tak ada yang memberi kami aba-aba untuk bersiap-siap ke masjid. Digantikan dengan alunan adzan yang memang lebih merdu, dan “mainstream”. Kami diimami oleh imam-imam lain yang memang seharusnya selalu hadir. Sehingga tidak memaksa Pak Dibyo menggantikan mereka.

Waktu berlalu. Kini, suara adzan Pak Dibyo tak terdengar. Dan suara adzan dari muadzin lain itu juga mulai jarang terdengar, bahkan kadang tak terdengar suara adzan. Mereka yang awalnya rajin, kini mulai jarang juga. Ah, tidak bisa dibiarkan. Lambat laun, Pak Dibyo gelisah juga. Sesekali beliau kembali mengumandangkan adzan, sesekali beliau harus maju tampil menggantikan imam yang tidak datang. Lambat laun, intensitasnya semakin sering. Ada apa ini ? Kenapa mereka yang bacaannya lebih fasih, mereka yang hafalannya lebih banyak, dan lidahnya tidak sekelu Pak Dibyo, tidak bisa Istiqomah ?

Subuh ini, kami kembali mendengar rapalan surat Al Fatihah. Sepuluh menit sebelum adzan subuh berkumandang. Kali ini, bacaan beliau sedikit berbeda. Huruf-hurufnya lebih jelas, panjang pendeknya lebih tertata. Kesalahan-kesalahannya lebih sedikit, menurut hamba yang juga awam ini. Oh, mungkin beliau tak henti belajar. Lantunan adzannya masih sama, keras menggelegar dan tetap anti-mainstream. Tapi, bagi kami itu hal indah. Mungkin beliau adalah orang paling istiqomah datang ke masjid, di banding siapapun di kampung ini. Bahkan dibanding mereka yang kemarin menggugat Pak Dibyo.

Itulah, sedikit cerita tentang Pak Dibyo. Imam masjid di kampung kami. Di balik bacaannya yang tak merdu, ada kesholihan yang tak dibuat-buat. Di balik suara yang menggelegar dari lidahnya, ada niat untuk terus ngopeni masjid ini. Sungguh, ikhlas itu tidak mudah. Aku sering malu sendiri. Memang, kaki yang kuat untuk mendaki gunung-gunung yang menjulang, tiba-tiba seketika lemah ketika harus berjalan kaki ke masjid. Bahkan untuk sekedar menstater motor, dan tinggal mengendarainya ke masjid. Itu luar biasa. Tidak dengan Pak Dibyo. Beliau memang luar biasa.

Pada akhirnya, keihklasan yang berperan. Pak Dibyo yang secara bacaan tak terlalu fasih, malah bisa istiqomah ngopeni masjid. Tanpa merendahkan, seharusnya mereka yang dianggap lebih tokoh ini juga tak kalah dengan Pak Dibyo. Atau setidaknya jangan pake acara menggugat segala. Monggo, silakan cerita ini dianggap nyata atau fiktif. Mungkin saja sudah terjadi, atau malah memang terjadi juga di tempatmu? Atau akan terjadi ? Ayo berjuang ke masjid 🙂

Menyambut si Kecil (lagi)

Tak tega membiarkan blog ini terpaku oleh tulisan terakhir, yang bertanggal 22 April 2016. Hampir 9 bulan lamanya vakum. Banyak yang bisa disalahkan, antara pekerjaan yang semakin embuh, konsistensi diri yang njeblug, sampai hilangnya ide-ide brilian di otak karena pemanasan global. Tapi memang, andil sasaran tembak terbesar adalah “this ridiculous and irrihating clericality behind a hazy table in a holy building called Office” ini.  Haesshh.

Ah, mari lanjutkan saja tulisan ini. Tidak perlu mengutuk sana sini, ndak kena ITE. Dua ribu tujuh belas, si kecil Nahlendra Iqra memasuki usia 20 bulan. Catatan panjang yang luput dari penulisan di blog ini, sayang sebenarnya. Maunya merekam dan mendokumentasikan setiap perkembangannya dalam sebingkau tulisan, tapi ya itu. Ndak sempet. Maunya sih bisa mbikin blog parenting yang rame visitor ala ala Ayah Edy, bisa memotivasi papah papah muda, atau inspiratif dengan samudera hikmah ala Ustad Salim dan Ustad Fauzil Adhim. Tapi sekali lagi ; ah sudahlah. Cukup menjadi ayah yang biasa tapi serba bisa.

Dua puluh bulan lalu, kami bergembira menyambut kehadiran si kecil. Mempersiapkan segalanya dengan sepenuh jiwa, mendoakan setiap kebaikan untuknya. Dan benar, kehadirannya di semesta ini, memberikan kekuatan dan simpul senyum tak berputus dari hati kami. Sambutan kami, dibayar lunas dengan tingkah polahnya. Tiada hati tanpa memperhatikan gerak gerik dan celotehannya.

Dan kini, kami sedang bersiap-siap lagi. Iya, menantikan kehadiran si kecil lagi. Si kecil kedua kami, si kecil yang akan menggenapkan keluarga kami menjadi 4 insan. Ya, adeknya Nahlendra Iqra. Kami sedang bersuka cita dengan kehamilan ini. Membayangkan si sulung Nahlendra Iqra mengecup si kecil nanti, pasti akan menjadi momen yang lucu menggemaskan. Atau saat-saat nanti si sulung merasa cemburu, mengira kehadiran adiknya akan merenggut perhatian kami. Ah, kami senantiasa bersyukur.

Tentu saja, menunggu buah hati yang kedua ini, ada banyak perbedaan dengan saat pertama kali menghadapi kehamilan. Ada perasaan lebih siap dan ada sedikit pengetahuan lebih, daripada saat pertama dahulu. Namun, tentu setiap kehamilan memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Apapun itu, kami akan tetap antusias, dan mempersiapkan segalanya dengan baik, tak kalah dari saat-saat kami menyambut si sulung Nahlendra Iqra.

Tujuh bulan, usia si kecil di dalam kandungan istriku. Dua bulan lagi, dan kami sangat antusias. Kelak, aku akan menjawab kepada orang-orang dengan kalimat ” Ayah dari dua orang anak” ketika berkenalan. Tentu dengan rasa bangga. Meski dengan kalimat itu, artinya kami tak lagi muda. Ada segunung kewajiban dan tanggung jawab yang akan dipikul, dan tentu saja akan dimintai pertanggung jawaban. Semoga kami mampu mengembannya, insyaa Allah.

Banyak yang bilang, si kecil ini terlalu dekat jaraknya dengan si sulung. Biarlah, ini tentang kuasa Allah yang wajib bagi umatnya untuk mengimani, sebuah kepercayaan bahwa kami mampu untuk mengembannya. Kami yang dipilih, dan tentu akan ada banyak hikmah yang dipercayakan pada kami. Biarkan kami temukan hikmah-hikmah itu, sembari terus berikhtiar. Berdoa, hingga nanti proses persalinannya berjalan dengan lancar. Doakan kami 🙂

Bersyukur. Kami masih memiliki stok pakaian anak dan mainan yang bagus, warisan si sulung untuk adeknya. Hehe. Iya, barangkali ini hikmah awal dari hadirnya si kecil kedua kami. Ndak perlu belanja terlalu banyak, dan tentu masih fresh di otak kami perihal pengalaman-pengalaman menghadapi persalinan pertama dahulu. Meskipun tak dapat dipungkiri, sudah terbayang akan kerepotan-kerepotan yang akan kami hadapi kelak. Iyalah, dua orang balita yang tentu saja masih sangat butuh perhatian ekstra dari kedua orang tuanya.

Mengingatkanku ke masa-masa kecil di keluargaku. Kedua orang tua yang harus menghadapi tiga bersaudara, aku dan kedua adikku. Untungnya, kami termasuk manut-manut. Ehm hm.. Yah, semoga nanti kedua buah hati kami ini, akan menjadi pewujud doa-doa baik kami. Insyaa Allah.

Pembaca yang Terkotak

Sebulan lebih, nggak nulis apapun di blog ini. Biasa lah, kerjaan mulai berduyun-duyun datang. Sebagai blogger yang masih ababil, masih bisa ditolerir kali ya. Yang penting absen nulis, paling nggak sebulan sekali.

Kemarin, saya menyempatkan diri untuk menengok buku-buku koleksi, yang ironisnya hampir 75% belum tuntas saya baca. Ada perasaan rindu masa-masa kecil, saat dulu, membaca adalah aktivitas favorit dan sangat menyenangkan. Di usia SD sampai SMP, saya merasa menjadi kutu buku yang sangat kehausan. Kenapa? Keinginan untuk membaca buku sangat kuat, namun sayang waktu itu saya belum punya akses yang memadai untuk bisa membaca buku-buku bagus. Jangankan untuk membeli buku, sekedar nyari buku bagus di perpustakaan untuk dipinjam saja terasa sulit.

Kondisi itu berbalik. Kini, saat kemampuan finansial untuk membeli buku itu ada, dan dari sekian banyak buku yang sudah dibeli, saya malah kesulitan untuk mendapat waktu dan mood yang pas untuk membaca. Ironis ya. Ada lebih dari 100 buku di rumah, tapi sebagian besar hanya nongkrong manis. Saya memang ingin membuat mini library di rumah, dan suatu saat ingin menjadikan koleksi itu sebagai media berkomunitas. Saya tertarik untuk kembali berliterasi, walau tidak untuk sekarang.

bukuiqbal

Dulu, saya sempat begitu bersemangat untuk bisa menerbitkan buku sendiri. Ada beberapa tulisan yang saya buat, namun belum juga selesai, dan entah akan selesai atau tidak. Hehe. Keinginan itu, meski kadang surut-menyala, masih tersimpan. Niatan itu sempat akan diwujudkan, saat tren nulis melalui self publisher kian banyak. Tapi, ya itu. Realitas dunia pekerjaan memang harus menjauhkan passion itu.

Oh ya, mengamati perkembangan di sosial media, saat ini para penikmat buku cenderung memiliki rasa fanatik yang kadang susah dijelaskan dengan kata-kata yang pas. Ada beberapa kawan yang begitu setia dengan buku-buku terbitan sebuah Publisher. Hal ini sebenarnya wajar, namun ketika hal itu dibarengi dengan sikap “anti” yang berlebih terhadap penerbit lain, bahkan sampai menebarkan hal-hal yang menjatuhkan, menurut saya itu kurang baik.

Okelah, jika rasa fanatik itu masih berkutat pada jenis buku, genre cerita, anime versus manga, DC vs Marvel, atau keKorea-koreanan, mungkin itu tidak akan menimbulkan ekses terlalu negatif. Polarisasi itu cenderung menjadi destruktif ketika berkembang menjadi perseteruan ideologi, sikap politik atau manhaj yang dianut sang penerbit. Di sini, semangat untuk tholabul ilmu terdistorsi oleh sikap fanatik buta. Tidak semua begitu, namun, ayolah, tidak perlu memungkiri yang terjadi 😀

Sikap moderat akan menjadi pilihan, di saat perdebatan ala facebook kian tak tentu arah. Saya pernah mendapati, seorang kawan memposting tentang buku yang baru dibacanya, disertai beberapa kutipan dan opini pribadinya, diserang dengan beberapa komentar pedas di facebook. Dari pengamatanku, sebenarnya yang menjadi penyebab adalah perbedaan arus-politik dan gerakan yang dianut, antara kawan yang posting dengan para komentatornya. Terkadang, cara mereka berdebat sangat jauh dari diskusi ilmiah, bahkan cenderung menjadi liar dan penuh cemoohan. Bukan lagi mencari ilmu dan kebenaran.

Saya sendiri, lebih senang mengoleksi buku-buku dari berbagai latar belakang. Yang sekiranya bagus dan tertarik, dibeli. Asal bukan buku-buku yang memang mustahil saya beli lho ya. Misalnya, saya tidak akan membeli buku tentang tuntunan beragama Hindhu, karena saya seorang muslim. Simple. Terkadang, orang akan menilai pemahaman dan madzab orang lain dari buku-buku koleksinya. Jika ia punya buku karya si A, berarti ia seorang liberal, jika ia punya buku yang ditulis si B, berarti ia seorang orientalis. Jika ia penyuka buku-buku terbitan C, maka ia adalah penganut paham radikal, atau jika ia pengoleksi buku dari penerbit D, ia adalah golongan nasionalis.

Sebuah model stereotip yang menyesatkan. Yang seperti itu, tidak bisa digeneralisir. Mereka akan bingung menentukan orang yang punya koleksi lintas madzab, berbagai model penerbit, atau penulis-penulis dari semua model pemikiran. Padahal, orang yang luas ilmunya, pasti adalah orang yang banyak membaca. Membaca buku dari berbagai jenis aliran pemahaman akan menjadikannya bijak dalam bersikap. Bukan sesuka hati menghakimi.

Saya sendiri, agak sulit mungkin menentukan gaya bacaan saya. Bukan bermaksud “umuk” terkait dengan paragraf sebelumnya, saya senang dengan berbagai buku yang mungkin bertolak belakang satu sama lain.

Sebagai gambaran saja ya. Beberapa penulis favorit saya (atau paling tidak yang pernah saya beli bukunya) ; Gus Mus, Ust. Salim A Fillah, Cak Nun, Jusuf Kalla, Ust. Fauzil Adhim, Awy A Qolawun, Andrea Hirata, Sayyid Sabiq, dr. Arifianto a.k.a dokter Apin, @ukhtiSally, Dee Lestari, Jamil Azzaini, Indra Noveldy, Dr. Musthafa Murad, Nadirsyah Hosen, Buya Hamka, Kiki Barkiah, Asma Nadia dan DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Saya juga berencana mempunyai buku-buku karya ust. Felix Siaw, Saptuari Sugiharto, Ade Armando, Putut EA, Joserizal Jurnalis, dr. Adian Husaini, Bactiar Nasir, Zuhairi Misrawi, Anis Baswedan, ust. Yusuf Mansur dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana pendapat Anda? Hehe.

Buku-buku yang saya beli, diterbitkan oleh berbagai penerbit ; Kompas Gramedia, Pro U, Mizan, Bentang Pustaka, Asma Nadia Publisher, penerbit Zaman, Pustaka Al Kautsar, Menara Kudus, Pustaka Darul Haq, Noura, Aqwam, Khalista, Mastakka dan beberapa penerbit lain. Sekarang, silakan simpulkan apa gaya membaca saya 😀

Jujur saja, saya kurang suka dengan labelisasi yang berlebihan dan ngawur terhadap seseorang hanya karena buku yang dibacanya. Ada cukup banyak cap yang disematkan pada orang lain yang bersebarangan di media sosial, dan saya tidak mau menyebutkannya di sini. Mengganggu saja :v

Sudah, nikmati saja setiap kata yang mengalir dari buku, silahkan memilih sesuai genre yang disukai, madzab yang dianut, gerakan politik yang diusung, atau suasana hati yang digalaukan. Tapi, stop menghinakan orang lain hanya karena buku yang dibacanya. Jangan lagi dikotak-kotakkan hanya karena membaca. Jadilah pembaca buku yang bijak dan arif. 😀

guru kecilku

Salah satu buku bagus yang belum sempat saya baca | 5 Guru Kecilku, karya Kiki Barkiah

Kitchen Nightmares :untuk PNS

51UHSrS7srL._SX940_

Ada yang tau progam TV Kitchen Nightmares ? Itu tuh, yang menghadirkan Chef Kondang, Gordon Ramsay. Beliau ini juga yang jadi tukang marah-marah di acara Hell’s Kitchen, sebuah reality show yang menampikan “kehororan” dapur masak restoran prestisius. Belakangan, Hell’s Kitchen ini juga diimpor salah satu stasiun TV Indonesia (sebut saja SCCCCCC*tv) dengan menampilkan Chef Juna. Yah, walau secara verbal dan gesture, Chef Juna jauh lebih “kalem” daripada Chef Gordon Ramsay.

hells-kitchen-header

Kembali ke topik tentang Kitchen Nightmares. Jadi begini, barusan saya nonton ini di ruang tunggu KPPN Jogja, selagi nunggu giliran dipanggil kakak-kakak FO Pencairan Dana yang anggun. Untunglah, ada TV berlangganan disajikan. Rejeki para pemegang KIPS. Hihihi. Tadi diputarkan acara Kitchen Nightmares, sebuah reality show di mana Chef Gordon harus membantu restoran-restoran yang hampir mati, buruk, dan seringkali dikatakan “menjijikan”.

Jadi, barusan disetel episode di Resto “the Mixing Bowl“. Yah, walaupun acara ini sudah cukup lama (sekitar 2007), namun kalau ditonton cukup bagus. Mixing Bowl, sebuah resto di kota Bellmore, New York, tengah menghadapi kondisi nadir dan hampir gulung tikar. Resto yang berumur hampir 10 tahun ini tergerus persaingan, selain memang sedang sakit kronis di internalnya, mereka juga buruk dalam menerapkan manajemennya.

Billy, si pemilik resto yang juga menjadi koki utamanya, adalah sosok yang pendiam dan cenderung resesif. Itu salah satu pangkal permasalahan, ditambah dengan sikap istrinya, Lisa (kebetulan namanya sama dengan istriku 😀 ) yang sedari awal memang sudah “menyerah” dan mau menutup resto ini. Dan tentu saja si Mike, manajer yang “overpower” dan terkadang nampak sangat “awkward” 🙂 . Si Mike ini pula, sosok yang tidak begitu disukai para staff, walau kadang sangat bersemangat melayani pelanggan.

Kitchen-Nightmares-S01E03-The-Mixing-Bowl-Bellmore-NY

Di kunjungan pertama, Chef Gordon langsung dapat melihat berbagai kekurangan, hal-hal yang tidak beres, dan “very dreadful“.Satu-satunya hal yang mengesankannya adalah menu Crab Cake. Pelayanan, tampilan, manajemen, passionate, dan harapan, sangat memprihatinkan. Si Mike, yang menjadi poros kekacauan di resto itu, adalah sosok yang memang “aneh”. Manajer yang lebih bersikap sebagai pemilik. Ia kerap membuat promosi-promosi yang nyeleneh, lewat berbagai plakat yang akhirnya dihancurkan oleh Chef Gordon. Termasuk sebuah program kupon 50% off. Sebuah langkah yang membuat Chef Gordon terkejut, bagaimana tidak, pelanggan diberikan kupon diskon bahkan sebelum ia membayar.

960

Singkat cerita, Chef Gordon membuat upaya perbaikan dengan beberapa gebrakan, tentu saja disertai dengan dialog yang penuh “makian” tapi memotivasi. Mulai dari strategi marketplace yang diambil, kreasi menu baru yang lebih “sehat”, renovasi interior restoran agar lebih elegan, perbaikan pola interaksi antar personalnya, dan tentu saja bumbu-bumbu lain ala reality show. Asik banget, dalam waktu seminggu, tanda-tanda kebangkitan kembali mulai terasa. Relaunch “the Mixing Bowl”, here we come.

Resto mulai ramai, profit mulai nampak. Chef Gordon datang sebagai penyelamat, ia membuat segalanya berbeda. Billy, si pemilik resto menjadi pribadi yang lebih “ramai” dan lebih sering melihat keluar, tidak melulu di dapur. Mike juga mendapat kesempatan kedua, Lisa kian mendukung suaminya.

And here is My Naughty Mind

Ya ampun, ini Chef Gordon memang penyelamat. Boleh donk, bikin acara reality show kaya gini, tapi bukan menyasar restoran atau rumah makan. Tapi, instansi pemerintah 😀 Iya, masuk ke birokrasi. Ehm, you know what I meant. Pak Presiden, kirimkanlah Chef Gordon kesiniiiii !!! Eh, maksudku seseorang yang seperti itu. Ya pokoknya seperti itu, yang bisa membawa perubahan, perbaikan, dan menu baru di pemerintahan. Seperti apa sih? Ya pokoknya ngunu kui lah.

Biar para “the Mixing Bowl” di sini bisa diselamatkan 😀 Siapa kek, kirimkan ke sini, ga perlu yang pernah menang Michelin Star kaya pak Chef Gordon ini ga apa-apa, yang penting sewatak dengan para penyidik KPK. Ehh.. Nganu ding. Embuh. 😀

Oke, seperti itu dulu. Silakan disambungkan antara judul, isi, dan premis-premis yang saya buat, semoga paham ya. Hhehe.

Final Result.

Entah apanya yang salah, atau karena memang hanya reality showl “the Mixing Bowl” akhirnya ditutup juga tahun 2009 (referensi). Mungkin mereka terlalu menghayati perannya, atau resep dari Chef Gordon tidak manjur lagi. Biasalah, acara televisi menampilkan happy ending, tapi setelah itu masih ada endingnya lagi. Real sad ending after television happy ending. Yaudah, kalau gitu ga jadi minta didatengkan Pak Chef Gordon. Nanti ndak malah kantorku ditutup. Sudah enak begini sih, kerja sambil youtube-an.

Mall-nya jauh, ke Sawah aja yuk

Niatnya, pengen ngajak istri jalan-jalan, sekedar memberi waktu padanya untuk mengalihkan pandangan dari dapur, mesin cuci dan popok bayi. Beberapa waktu terakhir, santer beredar istilah-istilah “Me Time” di sosial media. Sebuah terminologi yang cukup menyilaukan mata, terutama bagi papah-papah muda seperti saya ini.  Seolah-olah, para bapak baru kurang memberikan porsi perhatian pada kemulusan kulit sang istri, atau hasrat selfie di objek wisata terkini. Oke, dalam rangka meredam semua itu, dan sebelum istri saya termakan propaganda terminologi itu (walau alhamdulillah, istri saya sangat bijak), saya berencana mengajaknya jalan-jalan.

Rencananya sih mau ke mall, atau objek wisata lain di kota Jogja. Maklum, meski mengaku sebagai wong Jogja, domisili saya berada di radius 30 km dari pusat kota Jogja. Berhubung si kecil masih belum tega jika diajak motor-motoran sejauh itu (belum punya gerobak roda 4 😀 ), ya terpaksa dialihkan ke tempat lain. Hehe. Dan berhubung tempat wisata di sekitaran saya juga masih itu-itu saja, saya mengajak istri dan anak ke alam sekitar. 😀 Mudah bukan? (Padahal biar irit juga sih. Hehe )

Sudah beberapa kali saya mengajak si kecil berinteraksi dengan alam sekitar. Nggak perlu jauh-jauh, kebetulan kediaman kami dekat dengan sawah. Rumah mertua juga, berkendara beberapa kilometer sudah dapat pemandangan yang bagus banget. Dan yang terpenting, si kecil senang. Hehe. Apalagi saat Nahlendra melihat iring-iringan ratusan bebek mau pulang dari penggembalaan, nampak dia sangat penasaran.

Begini penampakan kami 😀

liat bebek konvoi

liat bebek konvoi

ijo-ijo, segar di mata

ijo-ijo, segar di mata

ini waterboom nak, eh salah, selokan irigasi

ini waterboom nak, eh salah, selokan irigasi

breakfast di rerumputan

breakfast di rerumputan

 

long road

jalannya panjaaaannnggg

 

masukin ke IG

masukin ke IG, biar kekinian

Simpel kan ?? Nilai lebih bagi kami yang tinggal di pedesaan, adalah pemandangan-pemandangan seperti di atas. Ya, manfaatkan semua itu untuk perkembangan si kecil. Tidak mahal, mudah dijangkau, dan sangat indah. Sebelum semua keindahan itu tertelan jaman, tergerus peradaban modern, atau tercacah pembangunan, sebisa mungkin nikmati semua itu. Iya, dalam beberapa tahun ke depan, barangkali yang seperti ini akan sulit diakses.

Mega proyek bandara dan mega-ambisi kini tengah berjalan seiringan dengan langkah kami. Proyek bandara, termasuk pembangunan sekunder yang mengiringinya, tentu saja akan berpotensi menimbulkan efek lain. Bisa baik, bisa buruk. Tanpa kebijaksanaan dan visi yang bagus, bukan tidak mungkin semua itu berjalan tanpa terkendali. Sekarang, kami masih bisa menikmati udara segar, suatu saat mungkin kami harus mencari kian jauh ke atas gunung.

Sekarang, kami memilih ke sawah, karena jarak ke Mall jauh. Semoga nanti tidak sebaliknya, kami ke Mall, karena jarak ke sawah kian jauh.

googling tentang bandara kulon progo

googling tentang bandara kulon progo

PNS butuh Perbaikan !!!

Hari ini, masih saja ada PNS yang terlambat masuk kerja, padahal tunjangan kinerjanya selalu dibayarkan, meskipun terlambat juga. Sekian persen potongan tunjangan tampaknya tidak cukup efektif untuk menghentikan kebiasaan jadul itu. PNS jelas butuh perbaikan !! Salah satu cara untuk membenahi habit mereka tersebut adalah dengan setting mundur waktu di mesin absensi. Ya, bisa 15 sampai 20 menit lah, jadi yang berangkat pukul 07.45 akan tercatat masuk pukul 07.25. Tidak telat. Case closed, Bung.

Salah satu permasalahan lain adalah hilangnya para PNS di jam kerja. Biasanya mereka ini harus menyelesaikan persoalan-persoalan genting, semacam bezuk kerabat di RS, perpanjangan STNK, beli makanan kucing Persia, atau meninjau kolam ikan istrinya. Yang membuat mereka hilang sebenarnya adalah kalau digaruk Satpol PP saat di luar kantor, itu masalahnya. Padahal kalau tidak dirazia, mereka pasti cepat-cepat kembali ke kantor masing-masing. Ini jelas perlu diperbaiki.

Maka, untuk para PNS yang harus menunaikan “hajat” seperti itu, perlu dibuatkan surat tugas. Pasalnya, hal yang ditanyakan pertama kali oleh anggota Satpol PP adalah surat tugas. Mereka juga harus difasilitasi dengan kendaraan dinas, supaya lebih formil kedinasan. Kalau perlu, beri transport lokal. In syaa Allah, PNS-PNS itu tidak akan hilang lagi diciduk Satpol PP. 😀

Dunia birokrasi memang sudah terlanjur dicap buruk oleh khalayak ramai, termasuk para netizen di dunia maya. Perlu berbagai upaya untuk mengembalikan marwah abdi negara yang berjasa ini. Perbaikan di segala lini perlu segera direalisasikan. Teladan dari pimpinan satuan kerja menjadi salah satu hal yang urgent. Jelas, para pegawai di level bawah akan termotivasi jika sang pemimpin mampu memberikan teladan yang baik.

Staff pelaksana pasti akan memiliki determinasi, kreatifitas, performance kerja yang baik jika dibimbing oleh pimpinan. Mungkin bisa dimulai dengan pemberian fasilitas yang berimbang dan berkeadilan. Ya, berilah kesempatan pada lowest management untuk meeting di hotel bintang 5, atau perjadin ke luar negeri gitu lho. Boleh juga menyediakan kendaraan dinas selevel dengan eselon I, ya paling ndak HRV lah untuk Caraka-nya.

Kabarnya 4,5 juta PNS di Indonesia ini, belum sampai separuhnya yang kompeten di bidang kerja yang ditempatinya. Ini juga persoalan. Kadang media terlalu sentimen dan kurang riset terkait para PNS. Faktanya, kami para PNS ini sangat berkompeten. Bagaimana tidak, untuk sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketahanan duduk lama seperti ini, apa perlu harus merekrut Doktor atau Master (S2)? Kalau hanya mengetik surat dan nonton TV di sela pekerjaan, tak perlu pendidikan tinggi-tinggi lah.

Apalagi, jobdesk kami terhitung gampang kok. Kalian yang bertitle PhD, apa mau disuruh-suruh fotocopy surat masuk? Apa tidak gengsi? Pas waktunya gajian, pada protes, kok cuma segini, padahal saya ini lulusan universitas di Kanada lho. Nah !! Sudahlah, serahkan tugas-tugas negara ini pada kami, para PNS yang lebih tahu bagaimana mengelola uang negara. Tidak usah sok-sok berkomentar tentang permasalahan PNS lah, ntar kami pusing dan jadi males kerja gimana??

Oh ya, ada yang bilang, kalau mau tahu seberapa efektif perencanaan anggaran, bisa dilihat di komposisi belanja dalam APBN. Konon, satker dengan alokasi pada kode belanja 524 dan turunannya yang terlalu besar, mereka ini tidak efektif dan gemar bepergian. Belanja perjalanan dinas memang sangat seksi ya, sampai-sampai para wartawan pada riweh ngulik informasi ini. Ini juga butuh perbaikan.

Sebenarnya, tak perlu ribut-ributlah, apalagi sampai main larang-melarang rapat di hotel. Sekarang begini, coba dibayangkan. Para PNS kalau tidak boleh rapat di hotel, dan harus rapat di kantor, itu repoooot banget. Nanti mereka bawa pakaian ganti, alat mandi dan bekal ke kantor. Di kantor juga tidak ada bed yang empuk, paling banter sofa tamu saja, dan tidak ada room service. Belum lagi nanti saat mandi, harus antri. Antri sama Kabid dan Kabag, bayangin aja. Trus nanti makannya di warteg depan kantor?

Nah, repot kan. Belum lagi, instansi kantor adalah salah satu sumber terbesar para pengusaha hotel. Kalau mampet, waah kasian para pegawai hotelnya donk.

Permasalahan di atas bisa diperbaiki, dengan membuat kantor pemerintahan yang mempunyai fasilitas setara dengan hotel. Bed yang nyaman, ada meeting room yang representatif, restaurant yang servicenya 24 jam, kolam renang, gym dan tentu saja massage service. Oh iya, karaoke juga perlu, biar nggak suntuk. Harapannya, mereka bisa melaksanakan rapat dengan tenang, tanpa melabrak peraturan yang ada. Anggaran perjadin bisa ditekan seminimal mungkin.

Alhamdulillah, peraturan tentang larangan itu sekarang akhirnya dicabut. Artinya, PNS boleh melakukan kegiatannya di hotel lagi. Memang, hotel dan PNS itu saling membutuhkan. Cerdas juga ya, aturan itu setidaknya bisa mendelay hasrat nginep di hotel selama setahun (2015 kemarin), entah berapa trilyun rupiah yang bisa dihemat 🙂

Okay, sekian dulu tulisan saya ini. Mohon maaf jika kurang berkenan, semoga bisa menjadi pelipur lara bagi para PNS muda yang menginginkan perbaikan. Kalian bisa mulai dari diri sendiri, misalnya seperti saya ini. Nulis blog untuk mengkampanyekan perubahan birokrasi, saya tulis jam 10 pagi 🙂

Unboxing Infinix Hotnote X551

Beberapa bulan lalu, sebuah Brand baru di dunia perponselan muncul. Meskipun terdengar sangat asing, namun jika membaca spesifikasinya, cukup membuat tergiur. Smartphone yang dirilis oleh sebuah vendor dari Hong Kong ini bernama : Infinix Hotnote X551. Memanfaatkan kecenderungan shopping behavior orang Indonesia, mereka melego produk ini secara online, menggandeng situs belanja terkemuka, Lazada Indonesia.

Salah satu fitur seksi produk ini adalah durabilitas baterainya, yang diklaim bisa bertahan sampai 2 hari. Mengusung baterai 4000 mAh Lythium Polymer, ponsel ini juga dilengkapi dengan fast charging, di mana kita bisa mengisi baterai sampai penuh hanya dalam 60 menit, kurang lebih. Sejauh ini sih memang terbukti.

Akhir Desember lain, alkisah saya kepincut juga. Setelah proses pembelian via Lazada, sampailah produk ini. Alhamdulillah ga ribet, produk datang tepat waktu dan ga pake komplain-komplain ga jelas. Hehe.

Barang sudah sampai, saatnya Unboxing. Dan inilah penampakannya :

IMG-20160106-WA0001

Packaging standar Lazada. Berhubung COD, aman lah. Ga bayangin kalo yang beginian dikirim via ekspedisi. Hehe

IMG-20160106-WA0012

Dan barcodenya difoto juga, walau ga mudeng maksudnya. Buat jaga-jaga kalo ada hal-hal yang kurang berkenan 😀

IMG-20160106-WA0005

Setelah dibuka. Eng ing eeennggg. Tampak sebuah box Infinix dan selember stiker pengembalian dari Lazada. Agak kaget juga, ga pake bantalan atau peredam, biar ga “guncang” saat dibawa. Pantesan tadi waktu nerima pertama kok agak “gludug-gludug” gitu. Akan lebih baik jika diberi peredam di dalamnya, dengan busa atau apalah gitu. Atau box Lazadanya dibuat yang pas dengan ukuran Box Ponselnya.

IMG-20160106-WA0009

Ini dia penampakannya, Infinix Hotnote X551, warna Gold. Sesuai dengan orderan saya.

IMG-20160106-WA0011

Segel masih nangkring, insya Allah aman.

IMG-20160106-WA0008

Dan akhirnya box ponselnya saya buka. Nice lah, desain dan warnanya oke.

IMG-20160106-WA0007

Yap, komplit. Smartphone, charger, eraphone, manual book, kartu garansi. Sejauh ini, saya cukup puas dengan kinerja ponsel ini. Nanti akan saya tuliskan tersendiri ulasannya.

Oh ya, ini spesifikasi Infinix Hotnote X551, siapa tahu kalian kepincut. Hehe, malah promosi.

  • SIM : Dual microSIM
  • Layar : 5,5 inci, HD 720p, IPS Kapasitif, 267ppi
  • Kamera Belakang : 8 MP, autofocus, LED Flash, Omnivision OV8865
  • Kamera Depan : 2 MP, LED Flash
  • Internet : 3G HSDPA, WiFi
  • Konektivitas : Bluetooth 4.0, GPS, port microUSB
  • Memory : 8 GB, microSD up to 32GB
  • OS : Android OS, v4.4 KitKat
  • Prosesor : octa-core ARM Cortex-A7
  • Chipset : MediaTek MT6592
  • RAM : 2GB
  • GPU : Mali-450MP4
  • Baterai : 4000 mAh

 

Catatan Singkat Achiever 2015

Sebenarnya, bukan porsi saya untuk menuliskan hal ini. Nanti akan ada rilis resmi, semacam reportase proses dan hasil Achiever 2015 kemarin. Sekali lagi, Forum Anak Kulon Progo (FAKP) masih menunjukkan eksistensi mereka, di tengah kegelisahan beberapa orang di dalamnya. Perjalanan yang cukup panjang sejak 2009 itu insya Allah akan terus berlanjut. Saya akan menyajikan dalam perspektif saya sendiri.

Jadi begini. Awalnya kami menginginkan perubahan, namun itu tidak mudah. Jadi, yang sedikit lebih realistis adalah penyegaran.  Tentang apa? Tentu saja tentang forum anak. Achiever 2015 ini dilatarbelakangi oleh beberapa pertanyaan “sejuta umat” forum anak : kenapa forum anak vakum, mengapa sulit mendapatkan dana, mengapa sulit melakukan regenerasi, duta anak yang hilang, apa tugas sebenarnya forum anak, dan bagaimana masa depan forum anak.

Saya yakin, permasalahan di atas juga dialami kawan-kawan lain. Dengan ekskalasi yang berbeda tentunya. Dengan modal (duit) dan kemampuan (otak)  seadanya, terwujudlah kegiatan ini :

achiever

Oke, dari mana mau dimulai? 😀

FAKP Summit : Meneguhkan Forum Anak, antara Harapan dan Realita

Sebelumnya, jika kalian bingung, abaikan saja judul kegiatan di atas. Intinya, kegiatan ini semacam live in dan penguatan organisasi. Ada beberapa poin yang kami lakukan :

Pertama, merumuskan Nilai Dasar Forum Anak Kulon Progo. Ini menjadi penting untuk menyatukan semangat dan kesamaan sikap yang harus diambil di organisasi ini. Harapannya sih bisa membawa ruh forum anak sampai kapanpun nanti, siapapun yang ada di forum ini. Semacam dasadharma pramuka gitu.

Kedua, forum sharing dan membully. Hehe. Di sini kami menginventarisir berbagai permasalahan seputar forum anak. Beberapa permasalahan dan pertanyaan yang muncul dalam diskusi itu (seingat saya) :

  1. Regenerasi dan suksesi kepemimpinan
  2. Keterbatasan dana
  3. Hierarki forum anak ?
  4. Apa sebenarnya tugas dan fungsi forum anak ?
  5. Apakah forum anak itu independen, atau terikat SKPD?
  6. Apa fungsi dan manfaat FAD, KAI dan FAN/SFAN?
  7. Tidak ada panduan tentang forum anak yang mudah dipahami

Ada beberapa yang lain, tapi saya lupa. Sebelum itu, kami juga sempat membahas beberapa definisi forum anak, membandingkan antara beberapa sumber/pihak, dan memang banyak terdapat perbedaan. Monggo, cari sendiri ya 😀

Ketiga, merumuskan Core Activity FAKP. Ini semacam mengambil sesuatu yang khusus di antara berbagai hal umum yang dilakukan para forum anak. Kenapa? Supaya tidak rugi. Ibarat keluarga menengah ke bawah, kami harus selektif memilih aktivitas yang dilakukan, agar tujuan tercapai dengan modal seminimal mungkin. Jangan sampai misalnya, kami hanya ingin sosialisasi hak anak tapi harus membooking 10 studio bioskop.

Keempat, finalisasi Guide Line. Semacam AD/ART lah, tapi simple bingitt. Biar greget dan sedikit kredibel, bonafit. Hehehe. Bukan sih, tapi ini hanya upaya menata organisasi agar lebih mulus dan mantap. Sebenarnya kami pernah mendengar ada yang melarang forum anak membuat AD/ART, konon dari kementerian. Embuh sopo.

Kelima, mempersiapkan regenerasi. Cukup sulit kondisinya, tapi semoga strategi yang sudah dirumuskan bisa berjalan. Harapannya, kepengurusan resmi bisa dijalankan selambat-lambatnya pertengahan tahun 2016.

Yap, 2 hari itu, alhamdulillah cukup bisa menemukan arah gerak kami selanjutnya. Dan kami bersiap untuk rangkaian Achiever berikutnya. Cek ya !!

Rembug Publik : Kondisi Terkini Forum Anak dalam Ranah Perlindungan Anak

Sebenarnya konsep acara ini adalah : forum update informasi dan pengetahuan terbaru tentang forum anak, kebijakan/regulasi hak anak dan saling memotivasi. Sasaran kami adalah : forum anak se-DIY, FAD DIY, BPPM DIY, BPMPDP KB, LPA DIY, beberapa LSM dan para pegiat hak anak. Joss to?

Sayangnya, dari pihak BPMPDP KB dan BPPM DIY tidak hadir. Mbuh kenopo. Karena hari Minggu mungkin, harusnya pas hari sekolah saja kali ya. Apresiasi tinggi dan hormat grak untuk forum anak Kabupaten/Kota se-DIY, FAD DIY, dan LPA DIY yang sudah hadir. Ada begitu banyak pengetahuan, motivasi, masukan dan kritik bersama yang terbangun.

Beberapa catatan yang saya ingat :

  1. Setiap forum anak memiliki permasalahan, kesempatan, dan peta sendiri-sendiri. Sifatnya khas dan berbeda antara satu dengan lainnya. Sebisa mungkin disinergikan. FAKTA (Kota Jogja) yang intensif dengan program KRA nya, Forans (Sleman) yang kuat dalam branding dan jaringan forum anak kecamatannya, Fonaba (Bantul) yang begitu kuat interaksi antar anggotanya, FAKP yang tetap bergerak dalam keterbatasannya, FAGK yang memiliki begitu banyak sanggar dampingan, adalah contoh nyata.
  2. FAD DIY, sebaiknya bersifat koordinatif, tanpa perlu program lapangan tersendiri. FAD akan kuat jika FA Kabupaten/Kota di bawahnya kuat.
  3. LPA DIY mengharapkan kiprah yang lebih dari forum anak, mengingat begitu banyak dan kompleksnya permasalahan anak.
  4. Adanya kebutuhan akan petunjuk teknis yang jelas tentang forum anak, agar tidak timbul kevakuman. Jangan sampai forum anak hanya sebatas seremonial, dibentuk tapi tak diurus, atau sekedar realisasi anggaran.
  5. Fokuslah pada apa yang dilakukan, apapun peran yang akan diambil oleh forum anak kamu. Juga, jadilah agen forum anak seutuhnya, termasuk ketika tidak sedang berada di dalam forum anak.

Forum diskusi seperti ini sebenarnya jauh lebih dibutuhkan oleh forum anak. Insya Allah, hasil diskusi ini akan bermanfaat bagi penyegaran/reorientasi FAKP ke depannya. Sedikit disayangkan, forum ini hanya dari 2 pihak saja : forum anak dan lsm. Akan lebih seru dan panas jika mampu menghadirkan pihak pemerintah.

Yapp, demikian sedikit catatan saya. Tidak cukup menggambarkan semua prosesnya, tapi semoga bisa dimengerti. Hehe. Ada beberapa rekomendasi yang akan kami publikasikan. Tunggu saja ya. Bagi kami, forum anak adalah bentuk kepedulian akan hak anak. Bisa juga kendaraan, wasilah. Hak anak, adalah tujuan, atau ghoyah. Ghoyah itu abadi, tapi wasilah bisa diganti.

Satker yang Tertukar

Pasca Pak Jokowi naik tahta, begitu banyak asa dan titipan tersandar di pundaknya. Tak terkecuali para PNS. Harapan-harapan dan kekhawatiran menjadi satu. Dan benar saja, angin segar sekaligus tepok jidat silih berganti datang. Yang paling ngeeeh ya, kebijakan pelarangan hotel sebagai tempat meeting para PNS. Padahal ini favorit banget, biasanya akun fullboard ini nangkring dengan indahnya di kitab RKAKL. Abis itu, revisi besar-besaran terjadi di seantero negeri. Alhamdulillah, batin saya.

Yang paling membuat saya patah hati adalah, kebijakan beliau untuk mentalak Ditjen Pendidikan Tinggi dari Kementerian Dikbud. Betapa tidak, sudah tinggi harapan saya, kepada Pak Anies Baswedan untuk menjadi Menteri saya. Iya, menteri yang menjadi pemimpin di satker imut tempat saya bekerja. Tahu sendirilah, track record beliau seperti apa. Meski nun jauh di sana, dan musykil untuk bertatap langsung, setidaknya keberadaan beliau di kompleks Sudirman sana mampu menginspirasi saya. Namun, apalah daya. Kami dideportasi dan harus gabung ke Ristek. Kecewa deh saya. Dan ini pernah saya tulis juga sih, di sini.

Oke, cukup meratapnya. Saatnya menatap masa depan, dan mulai memikirkan bagaimana sustain di Kementerian yang baru, jangan sampai ladang-ladang yang sudah hijau ini diserobot. Ngehehehe. Bagiku, di manapun itu, yang penting gak usah pake seragam. Itu cukup 😀

sumber: Flickr

sumber: Flickr

Pingpong satker ini sebenarnya menjadi menu rutin penguasa baru. Perubahan nama, restrukturisasi, perubahan nomenklatur, sampai pembubaran departemen sudah pernah terjadi di negeri ini. Gak seru kalau pemimpin baru tanpa gebrakan. Seolah-olah, harus bisa bebas dan beda dari penguasa sebelumnya. Damn, it’s gonna be pathetic.

Dampaknya? Ganti kop surat, logo, bongkar papan nama, buang amplop dan map lama, ke tukang stempel lagi, dan pencarian identitas lagi, Galau lagi. Oh, come on, itu hal-hal sepele vroh !! Yang lebih fundamental dan menyangkut hajat hidup orang (baca: PNS) banyak, terganggu. Di tataran keuangan, ada yang namanya proses Cut Off Anggaran. Dan ini ribetnya, melebihi persiapan orang nikahan. Bagi kalian yang bukan orang keuangan, barangkali akan sedikit asing dengan istilah-istilah ini : perubahan DIPA, ganti aplikasi SAS, GPP, dan SAI, penonaktifan supplier lama, penambahan supplier baru, inject SPM yang baru, ndaftar pemegang KIPS lagi, bikin SKPP kolektif untuk pegawai, belajar mata anggaran yang baru, proses likuidasi dan tentu saja riwa-riwi ke KPPN untuk konsultasi. Dan masih banyak adjustment lainnya.

Bingung bacanya? Sama, bos ane juga bingung. Hehe. Oke, lupakan itu. Yang penting gaji masih tersalurkan 😀 Honor-honor juga lancar, apa lagi?

Namun, adegan belum berakhir. Bak film, kami ini Satker yang Tertukar. Dan sekarang seperti menemukan keluarga yang sebenarnya. Butuh banyak penyesuaian tentunya. Orang tua baru, saudara-saudara baru, tetangga baru, piring baru, sampai kaos kaki baru. Situasi baru. Tahun 2016 ini, kami menghadapi sesuatu yang baru : 3 DIPA. Iya, 3 DIPA. Rupanya, bidang kerja kami ini  menginduk ke 4 Direktorat di Kemristekdikti. Alhasil, kami juga mendapatkan porsi dari 4 direktorat. Walau pada akhirnya salah satu dihandle pusat langsung.

Apa artinya? Banyak artinya. Kami harus mengulangi proses-proses yang saya sebutkan di atas, istilah-istilah asing itu. Heuheuheu. Embuh, kadang kebijakan di level makro, akan berdampak sistemik dan aduhai di level mikro. Bisa baik, bisa buruk, bisa menjengkelkan, dan bisa juga menghasilkan uang. Hahaha. Ada efek kausalitas, dan kadang kita tidak tahu. Seperti tulisan ini.

Eh, tukin gimana kabarnya yak? Kok ada selentingan begini : “Pas si A dan B masih temenan, duitnya si A dititipin aja ke si B. Lah, nanti kalo uda ga temenan, si B ngeklaim kalo itu tu duitnya sendiri.”  Rumor aja sih, gue mah kagak peduli. Yang penting uda cair, itu aja. Masalah itu harus nguras kas Kemenkeu lagi, itu mah bukan urusan saya. Ngiahahaha. Namanya juga tukin buta.

Okay, a weird challenge sudah menanti kami di tahun depan. Ada banyak hal-hal imajinatif dan nggrambyang (buram) terkungkung di pikiran kami. Njuk kepiya dab?! Persiapan infrastuktur dan strategi SDM untuk perubahan itu sejauh ini baru mencapai 2,715368%. Konon katanya, kalau DIPA nambah, honornya juga nambah. Nyammiee, lezat deh. Lezat Gundulmu !!