Ayah sekolah dulu ya Nak

September. Kick-off.

Dua minggu sudah, saya menambah daftar aktivitas harian. Sebuah kesibukan baru, yang sangat membutuhkan effort dan kebesaran hati. Ayahmu sekolah lagi Nak. Meneruskan langkah biar ada embel-embel sarjana di belakang nama. Dan sebuah wujud dari kata-kata kakekmu dulu ; Bapak hanya mampu menyekolahkan kamu sampe D3 saja, kalau mau lanjut sarjana, silakan berusaha sendiri. Ah Pak, D3 yang Bapak persembahkan itu sudah sangat luar biasa, tak pantas ada kata “hanya” di situ.

Ayah mau ka’ mana?” si Nahlendra bertanya, pagi itu.

Biasanya saya hanya menjawab ; Ayah mau kerja Nak, baik-baik ya di rumah. Eh, tapi mulai hari ini, ayah pulangnya malam.

“Trus lanjut sekolah, sampai malam Nak………….” 

Kok berat ya rasanya. Mungkin hari-hari selanjutnya, saya yang mesti mencium tangan anak-anak, dan tentu saja Bundanya, meminta izin untuk menuntut ilmu.

Si Bunda, hanya tersenyum cantik melihat percakapan kami. Anggunnya dia, dengan kebesaran hati dan sokongan luar biasa, meyakinkan saya untuk menempuh langkah ini. Dan itu berarti banyak. Sangat banyak.

Ada momen yang dikorbankan. Ada pelukan yang berkurang. Ada waktu-waktu yang akan dirindukan. Lalu, kami akan melalui hari-hari yang menantang itu. Si Ayah ; pulang malam, tumpukan tugas, melawan kantuk di kelas, himpitan antara sekolah dan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Sedang si Ibu ; seperti biasa, merawat dan mendidik jagoan-jagoan kami, tapi dengan tenaga dan waktu ekstra. Minus saya di sampingnya, setidaknya antara pukul 17 sampai pukul 22 setiap harinya.

Benar saja, dalam dua minggu ini, beberapa hal yang saya temui ; anak-anak yang sudah tertidur, dan istri yang tetap setia menanti saya, dengan segelas teh hangat gula batu plus jeruk nipis. Tentu saja saya tahu, dia pun sama letihnya. Bahkan lebih daripada saya.

Anak-anak anteng kan sayang?” tanyaku.

“Ya seperti biasa, kadang-kadang anteng, kadang lari-lari. Pinter-pinter ngadepin saja sih. Hehe.” si Bunda menjawab.

Memang, banyak pertimbangan yang kami lalui untuk hal ini. Dan inilah kami, keputusan kami. Mumpung anak-anak belum mulai sekolah, bapaknya dulu lah. Hehe.

Di pagi hari pun, seperti itu. Saya lebih antusias menanti mereka bangun, meski beberapa puluh menit kemudian harus berpamitan pada mereka. Waktu-waktu sempit itu, menjadi sangat berharga. Yang kadang, memaksaku sedikit menunda perjalanan ke kantor, barang 10 atau 15 menit.

Tenanglah Nak. Setidaknya ini cuma dua tahun ke depan. Setelah itu, akan banyak cerita indah dan waktu-waktu bahagia dengan kalian, lebih dari yang sekarang ini. Saiki ngampet disik. Prihatin.

Ah, kini hari Sabtu dan Minggu menjadi sangat sangat sangat berharga. Pesan dari istriku ; Ayah, manfaatkan Sabtu dan Minggumu. Anak-anak lelakimu butuh sosok lelaki. Mereka rindu. Jangan biarkan mereka kehilangan sosok tangguh, ajak mereka ngobrol dan peluk mereka.

“Siapp Bunda…!!! Terus, untuk bunda??” Saya sedikit menggoda.

“Yah, bunda mah gak neko-neko. Ajak jalan-jalan atau beliin eskrim, sudah cukup…” Aiihh si Bunda merajuk. 🙂 Ah, kucium saja si Bunda.

Dan sebuah cubitan melayang di perut saya.

 

Iklan

Anak mau jadi Atlet?

Beberapa waktu yang lalu, saya dan istri terlibat obrolan kecil. Kala itu, menonton sebuah segmen berita mengenai gelaran Sea Games 2017 Kuala Lumpur. Iya, sampai detik ini, pesta akbar olahraga se-Asia Tenggara ini masih berlangsung. Ribuan atlet terlibat, memberikan kemampuan terbaik bagi negara mereka masing-masing, memperebutkan medali dan kebanggaan.

Si nyonya terheran-heran melihat tayangan perolehan medali dari setiap kontestan. Ini kok Indonesia (negeri kita tercinta) “cuma” berada di peringkat lima? Kalah dari Malaysia, Vietnam, Singapura dan Thailand. Masak gitu sih? Tetangga masa gitu? Eh.

“Kok Malaysia bisa dapat medali begitu banyaknya sih?”

“Iyalah, mereka kan tuan rumah, di mana-mana tuan rumah itu banyak menangnya.”

Saya memahami bagaimana gemesnya istri saya ini melihat klasemen itu. Dan saya sangat paham mengapa dia tidak rela jika Malaysia bisa nangkring di atas Indonesia dalam perolehan medali. Ya, meskipun di rumah kami, tayangan Upin dan Ipin masih menjadi primadona. Kembali lagi, ke tema : Tetangga masa gitu?

“Sebenarnya, kualitas olahraga sebuah negara, adalah cermin dari kualitas sumber daya manusia, juga kondisi bangsa itu. Tau sendiri kan, Indonesia saat ini seperti apa.”

Eh, sang suami mencoba berdiplomasi bijak. Dan getir.

“Iya ya Yah. Bener juga, di sini jarang ada orang yang serius mau menjadi atlet. Gak bisa dijadikan sandaran hidup.”

“Benar, lebih baik cari kerja yang pasti hasilnya. Jadi atlet, masih harus mikir asap dapur. Di luar negeri sana, katanya para atlet dijamin kehidupannya.”

Si ayah kembali berlogika. Meski kesel juga liat tabel medali.

“Ayah, kalau anak-anak kita punya cita-cita jadi atlet, boleh tidak?” 

Tiba-tiba si Bunda cantik ini melontarkan pertanyaan yang MNCNGNGKN.

“Atlet apa?”

“Ya atlet olahraga. Tapi yang gak terkenal gitu. Pentaque, anggar, squash, atau wushu gitu ? Sniker, kriket, kanoing, skating?”

Eh, ini si bini, kok tau nama-nama olahraga yang susah dieja gitu sih? Gak langganan tabloid Bola padahal.

“Kok nggak olahraga yang terkenal aja, sepakbola, bulutangkis, atau basket gitu. Biar jelas karirnya, sekalian jadi atlet profesional. Itu olahraga kan gak bisa memberi penghidupan? Mending jadi PNS, kaya ayah”

Giliran si Ayah menjawab dengan sebuah pertanyaan klise.

“Nah, gimana olahraga negara kita mau maju, kalau pemikirannya seperti ayah ini semua. Padahal medali cabang olahraga populer ini cuma dikit lho Yah. Itu nanti kalau cabang atletik udah jalan, makin terbenam negara kita. Yang banyak medalinya itu malah yang namanya aneh-aneh tadi”

Oke, fiks. Si Bunda selain manager rumah tangga yang hebat, juga ahli diplomasi dan politik. Saya nyerah. Mencoba mengalihkan perhatian dengan membahas menu baru di Krusty Krab.

“Hmm, ya mau bagaimana lagi. Kecuali kalau semua atlet dijadikan PNS, tanpa perlu menunggu dapat medali emas Olimpiade, baru anak-anak boleh jadi atlet.”

“Ih ayah ini, apa-apa kok diukur dari PNS. Kebanggaan sebuah bangsa gak diukur dari banyaknya PNS. Prestasi olahraga lah yang dilihat oleh dunia internasional. Ah ayah nih ga gaul nih.”

Buset. Ini Malaysia dapat medali terbanyak, saya yang disalahin sama istri. Embuh, mungkin jiwa nasionalisnya sedang membuncah.

“Lha kalau Bunda, boleh nggak Nahlendra dan Nara jadi atlet sepak takraw?”

“Enggg.. Ya enggak sih, mendingan jadi dokter atau dosen, tapi juga jago sepak takraw.”

Tepok jidat. Yasudahlah, mungkin permasalah di dunia olahraga negeri kita sangat kompleks, sampai-sampai saya dan istri sempat mau memboikot Upin dan Ipin dari list tontonan kami gara-gara prestasi di Sea Games kalah dari Malaysia. Untungnya, diprotes oleh Nahlendra.

Disclaimer : Percakapan nyata, tentu dengan sedikit dramatisasi dan diksi yang diperbagus.

Update Medali Kamis 24-08-2017 pukul 15.07. Tetap berdoa untuk atlet-atlet Indonesia 🙂

medali

 

Kala Anak-Anak mau Bobok

Tak mudah menidurkan anak yang masih kecil. Proses yang panjang dan tenang sangat dibutuhkan. Satu saja butuh kesabaran. Lha ini dua anak 😀

Lebih dari 5 bulan, setelah resmi menyandang status ayah dari 2 orang anak laki-laki yang ganteng, kehebohan malam hari itu terus saja menyapa kami dengan manisnya. Iya, salah satu tantangan yang kini terus kami hadapi adalah prosesi menidurkan dua orang jagoan ini. Bukan perkara mudah, tapi juga bukan hal yang terlalu sulit. Tak mudahnya, karena kedua anak ini, sama-sama menginginkan dikeloni sang bunda. Lah, bapaknya? Terpaksa mojok sambil ngupil. Meratapi nasib, bau badannya terlalu pekat sebagai pengantar tidur.

Berbekal pengalaman selama 5 bulan ini, saya bisa sedikit berbagi tips bagi para Abah yang punya 2 anak kecil, khususnya yang usianya tak terlalu jauh. Lebih khusus lagi, yang keduanya laki-laki. Terkhusus lagi, yang keduanya terlanjur fall in love with their mom’s scent.

Tips pertama : Cermati, mana anak yang lebih ngantuk, si kakak atau adeknya.

Nah, kalau si kakak yang uda teler mau bobok, biasanya akan lebih mudah. Biasanya, saya akan menggendong atau mengajak interaksi si bungsu, di saat Bundanya me-ninabobok-an si kakak. Intinya, di saat si kakak sudah terlelap, Bunda akan bisa fokus menyusui si keci, karena kebanyakan adegan yang terjadi adalah si kakak cemburu dan tidak memperbolehkan Bundanya menyusui adek.

Jika si kecil sudah ngantuk duluan, pastikan kita bisa mengalihkan perhatian kakaknya, ajak ke mana kek. Main lego, nggambar, baca buku, atau ajak liat langit malam yang syahdu. Upayakan si kakak ini benar-benar jaga jarak dari tempat adiknya ditidurkan. Radius 5 kilometer. Eh lebay ah. Karena suara-suara kecil saja, bisa membangunkan bayi yang mau tidur. Si kecil sudah tidur? Jangan tenang dulu, tetap jaga agar si kakak tidak mengganggu adiknya.

Kadang, kesalahan dalam memprediksi mana yang ngantuk duluan ini, bikin gaduh. Si kakak uda ngantuk, eh malah si kecil yang dikeloni. Rame deh.

Tips kedua : Cari hal-hal yang mempercepat proses tidur anak-anak.

Ingat ya, obat tidur tidak masuk dalam tips ini. Ada banyak tips menidurkan anak, salah satunya dengan mengusap-usapkan tissue lembut ke wajah anak. Saya pernah mencoba, bukannya tidur, si bungsu malah ketawa-tawa. Dan si kakak ngeliat sambil nyinyir: apaan sih ayah geje. Nah, dari pengalaman saya, anak-anak cenderung akan mudah tertidur jika kecapekan. So, buat mereka capek !! Engggg… Gak gitu juga sih. Cukup siapkan fisikmu untuk meladeni si kakak bermain, jangan bosan dengan tingkah polahnya. Sampai dia capek, kemudian terkapar tidur dengan sendirinya.

Untuk si kecil, bisa dengan membuat ayunan. Pake keranjang rotan bisa, atau stroller yang bisa disetting menjadi ayunan. Dia bakalan keenakan diayun-ayun, tau-tau tidur deh. Termasuk bapaknya ikut tidur sekalian.

Tips ketiga : Pikiran harus tenang, jangan baper. Move on bro.

Yang tadi dikantor habis disemprot pak mandor, atau tiba-tiba kuota internetnya hilang, jangan dibawa perasaan bro. Anak-anak adalah makhluk yang peka, mereka bisa dengan amazingnya merasakan kegelisahan orang tuanya. Saat-saat mau bobok adalah masa yang krusial. Masa transisi dari terjaga ke istirahat, rawan. Sekalinya salah satu nangis, biasanya akan menular.

Terus jaga kekompakan Ayah-Bundanya, jangan malah berantem, apalagi cuma gara-gara rebutan potongan terakhir martabak. Pengalaman saya, ketika kita fresh, plong, dan selow-going, anak-anak bisa bobok dengan damai, mulus pula prosesnya. Beda halnya saat pikiran kita diliputi oleh kekalutan, anak-anak akan merespon juga, rawan rewel.

Tips keempat : Berbagi peran, saling support.

Saat anak-anak mau tidur, ternyata di saat bersamaan ada final piala dunia U-77. Si Bapak jangan menang sendiri, utamakan anak-anak. Ntar finalnya nonton di yutube’ saja. Jangan lupa beli kuota dulu. Si Emak juga jangan tergoda sinetron panah cinta yang tertukar. Utamakan anak-anak, nontonnya kalo uda pada tidur. Nonton di yutube’. Rebutan sama suaminya.

Intinya, bahu membahu, jangan egois melihat pasangan kita menidurkan anak sendirian, bantu dia. Ntar kalau udah pada tidur, baru kerasa deh kelegaannya. Lega. Plong. Romantis. Uhuk uhuk.

Tips kelima : Ini yang paling penting, jangan bobok duluan.

Lah, kalau ayah-ibunya tidur duluan, yang mau menidurkan anak-anak siapa? Tips apaan sih ini. Eh, kalian yang belom dikaruniai buah hati, belum tahu rasanya : ngelonin anak, kitanya sendiri yang bobo. Si anak malah glundung sana sini. Hehe. Iya, rasa capek yang sangat, terutama bagi sang Bunda, kadang memaksa mereka tak sengaja tidur duluan.

Saya kerap mendapati istri saya udah terlelap, sedang si Nara masih gigit-gigit ujung bantal. Tak jarang pula, saya ditegur istri karena ngorok duluan, padahal 2 menit yang lalu masih ngayun-ayunin kasur kecil si Nara. Nara nya malah hampir ngglungung. Itu semua tak disengaja, tapi memang sebaiknya dihindari.

Kesimpulan : Tidur adalah salah satu fase penting dalam tumbuh kembang anak-anak kita. Sebagai orang tua yang baik, pastikan kita menghantarkan mereka dalam tidur yang indah, dengan proses yang tenang. Karena, untuk mencapai hal itu, bukan perkara mudah. Tidur yang cukup, akan membuat mereka nyaman, tumbuh dengan baik. Kemudian, pastikan kita siap dengan senyum yang indah, saat mereka membuka mata keesokan harinya. Menyambut hari yang baru, dengan kasih sayang baru, dan pengasuhan yang baru.

Satu lagi yang sangat penting. Kalau anak-anak sudah tidur, si Ayah juga bisa tidur dengan tenang. Itu saja. Salam Ayah Senang.

Menebak arah jalan, catatan seorang Komuter

Sudah hampir 10 tahun, saya menjadi seorang Komuter. Bahasa simpelnya, penglaju. Tukang nglaju. Dari tahun 2007 sampai 2010, berstatus sebagai mahasiswa UGM, nglaju dari pinggiran kota Wates, Kulon Progo. Menuju kota Yogyakarta, dengan jarak tempuh hampir 30 kilometer. Tak terlalu jauh sih, dibandingkan dengan komuter-komuter di Jabodetabek. Status ini terus berlanjut ketika saya juga mendapatkan pekerjaan di Kota Yogyakarta, sekitar tahu 2011. Hanya saja, jarak tempuhnya sedikit lebih dekat, berkurang 6 kilometer. Hehe.

Ada beberapa alasan, kenapa saya lebih memilih nglaju dari rumah di pelosok desa, tidak mencari rumah atau berdomisili di Kota Yogya. Pertama, tentu berkaitan dengan finansial. Nilai properti di Kota Jogja, terkenal sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia. Harga tanah untuk area pinggiran saja, semisal Gamping, Godean, atau Kasihan sudah lebih dari 1 juta per meter. Belum dihitung jika harus membangun rumah. Harga rumah tipe 45 di kawasan pinggiran sudah menembus harga 250 juta. Bagi saya, rumah dengan harga di kisaran itu yang letaknya masih jauh dari pusat kota, ya sama saja. Mending nglaju. Jika ingin mendapat rumah yang jaraknya lebih dekat, setidaknya butuh 500 juta dari kocek. Ckckck.

Kedua, kenapa saya memilih menjadi seorang komuter. Saya masih sangat menyukai lingkungan tempat saya tinggal. Yah, meskipun rumah masih numpang rumah orang tua, saya tetap berencana membangun rumah di lahan yang memang disediakan oleh orang tua. Masih di samping rumah. Hehe. Lingkungan pedesaan, dengan atmosfer yang bersahaja, juga alam yang masih sangat asri, jauh dari hiruk pikuk dan polusi. Ini salah satu alasan terkuat, dan saya sangat berharap hal ini akan terus berlanjut. Nuansa yang sangat saya cintai, di mana anak-anak bisa dengan leluasa bermain dan tumbuh dengan baik.

Kedua alasan pokok tersebut, ditambah beberapa alasan lain, setidaknya menguatkan saya untuk tetap nglaju. Moda transportasi yang saya pilih adalah sepeda motor. Selain sangat fleksibel, ini juga yang paling ekonomis. Tentu saja, banyak plus dan minusnya. Fisik harus selalu prima, karena moda ini tak bisa menghalangi hujan dan panas dari badan. Dengan jarak sekitar 30 km, saya membutuhkan waktu paling tidak 45 hingga 60 menit, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca. Waktu tempuh yang ideal lah menurut saya.

Saking sudah lamanya, saya sampai hafal letak lubang-lubang aspal, hafal di mana ada bengkel tambal ban, familiar dengan perempatan yang polisinya galak, dan di mana saya bisa numpang buang air. Pengetahuan seperti itu, kadang memang diperlukan untuk memperlancar mobilitas kita di jalanan. Juga untuk keselamatan kita berkendara.

Kadang saya membayangkan tentang  beralih ke moda transportasi umum yang nyaman, di mana saya bisa lebih merasa safe di jalan. Tak banyak yang tersedia. Bus umum, Jogja Wates adalah salah satunya. Tapi, sudah sangat kondang kalau mereka ini kurang bisa diandalkan. Yang akan anda dapatkan adalah ; waktu ngetem yang lama, mesin butut yang asapnya awesome sekali, driver tak disiplin, hingga penumpang yang bal-bul ngerokok di dalam bus. Susah kalau disuruh on time. Belum lagi jika harus menyambung perjalanan dengan bus lain. Tidak bisa diandalkan deh pokoknya.

Ada lagi moda yang bisa dipilih, yakni kereta api jarak pendek, Prambanan Ekspress atau Prameks. Mungkin ini bisa sedikit lebih nyaman dan cepat. Namun, jadwal keberangkatan yang frekuensinya sangat sedikit, membuat saya kurang bisa percaya pada kereta ini. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sekarang ini, penumpangnya semakin banyak, sangat sulit untuk mendapat tempat duduk. Bahkan untuk sekedar duduk di lantai kereta. Kemudian, jarak stasiun pemberhentiannya, tidak cukup dekat dengan kantor, menjadikan saya malas jika harus memakai moda ini. Cost nya juga lebih mahal dibanding dengan pakai sepeda motor. Hehe.

Nah, berkaitan dengan rencana pembangunan bandar udara baru di kawasan Glagah, Kulon Progo, tentu ini akan banyak berpengaruh pada para komuter seperti saya ini. Jelas, dari segi lalu lintas akan semakin padat, dengan gelombang pergerakan massal dari dan ke bandara. Meskipun hal ini tentu saja akan diikuti dengan penyesuaian jalur-jalur transportasi yang akan dibangun, namun tetap saja prediksi-prediksi tentang nasib para komuter khususnya Wates-Jogja ini bisa begitu banyak. Paling tidak, ada tiga skenario yang mungkin akan kami temui, berkaitan dengan waktu tempuh dan kenyamanan (karena ini yang paling urgent). Skenario itu adalah :

Skenario Pertama : Lebih Cepat dan Lebih Nyaman

Tentu saja ini adalah perandaian yang paling kami harapkan. Faktor ini juga menjadi sebuah tuntutan yang wajib dipenuhi, sebagai pendukung utama akses dari dan ke bandara. Calon penumpang pesawat tentu saja membutuhkan akses yang cepat, mudah dan nyaman menuju bandara. Nah, sebisa mungkin pengembangan sektor transportasi pendukung bandara ini, juga mengakomodir para komuter seperti kami ini. Paling tidak, untuk menciptakan moda transportasi yang cepat dan nyaman ini, bisa diaplikasikan dalam penyediaan Bus yang terintegrasi, dengan frekuensi pemberangkatan yang tinggi, dengan spot halte yang menjangkau lebih banyak kawasan, dan ketepatan waktu yang presisi. Alternatifnya adalah mengoptimalkan tras-Jogja yang ada sekarang ini. Perbanyak  halte dan armadanya.

Bisa juga dengan kereta, seperti Commuter Line di Jakarta, tentu saja dengan kriteria yang saya sebutkan di atas. Terintegrasi, Frekuensi Tinggi, dan Waktu yang Presisi. Kedua moda transportasi ini tentu saja membutuhkan perbaikan dari segi infrastruktur. Jalan dan jalur rel kereta api yang memadai. Nah, jika kedua hal ini terwujud, saya lebih memilih moda ini, meninggalkan sepeda motor. Apalagi jika tarif yang ditetapkan semurah mungkin, wah ini mah ga perlu pikir panjang lagi.

Skenario Kedua : Entahlah, bisa lebih cepat dan nyaman atau nggak.

Nah, ini bisa terjadi jika ternyata pemerintah dan pengelola bandara tidak mampu menyediakan moda transportasi yang holistik, hanya mementingkan calon penumpang pesawat saja. Apalagi jika ternyata, bus dan kereta yang tersedia hanya melayani rute Jogja-Bandara, tanpa integrasi dengan titik-titik pemberhentian lain yang bisa dijangkau dengan mudah oleh para komuter.

Pembangunan jalan tol juga berpotensi mempengaruhi mobilitas para komuter bersepeda motor, karena tentu saja mereka tidak  bisa melalui jalan tol. Jika ingin dibangun jalan tol, sebisa mungkin benar-benar menggunakan jalur baru, bukan mengkooptasi jalan utama Jogja-Wates menjadi jalan tol. Pengguna sepeda motor akan dirugikan dengan bentuk kebijakan ini. Mereka akan dipaksa mencari jalur lain (non tol) karena jalan yang biasanya dilalui sudah hilang. Ya kalau dibuatkan jalur baru yang lebih baik, akan lebih cepat. Nah kalau tidak, ya cuma bisa gigit jari. Untungnya, Sri Sultan sendiri tidak berkenan jika di Jogja dibangun jalan tol, karena cenderung akan mematikan aktivitas di sekitarnya. Baik secara ekonomi maupun sosial. Kita tunggu saja perkembangannya.

 Skenario Ketiga : Setali Tiga Uang, alias Sama Saja

Tidak lebih cepat, juga tidak lebih nyaman, podho wae. Semua kebijakan transportasi yang dibuat tidak menyertakan aspirasi para komuter, tapi jalur-jalur yang dikembangkan tidak menganeksasi jalur utama yang biasa dipakai para komuter, terutama yang bersepeda motor. Yang mau urusan dengan bandara ya monggo, jalan sendiri, yang gak ada urusan dengan dengan bandara ya jalan sendiri-sendiri, tidak saling mempengaruhi. Ini pilihan yang mudah sebenarnya, tapi ya terhitung rugi, hanya menjadi penonton kegemerlapan bandara. Gak icip-icip blas.

Memang, ketiga hal di atas baru sekedar asumsi, tapi sebagai orang yang paling tidak menghabisnya 2 jam di jalanan antara Jogja-Wates, saya pantas khawatir dengan arah pembangunan seiring dengan keberadaan Bandara di Kulon Progo, terlebih di sektor transportasi. Sekarang saja, dengan kondisi belum terdapat bandara, kepadatan lalu lintas di Jalan Wates sudah cukup tinggi, terutama di jam-jam sibuk. Sangat terasa perbedaannya, jika diperbandingkan dengan kondisi 10 tahun yang lalu.

Di masyarakat sendiri, sudah sangat santer terdengar desas desus seputar pembangunan jalan tol, bahkan sudah ada warga yang mengklaim bahwa tanahnya akan tergusur jalan tol. Syukur, Pak Hasto Wardoyo, Bupati Kulon Progo telah memberikan sebuah statemen, bahwa jalan tol ini bukanlah hal yang urgent. Beliau sudah menyatakan bahwa sudah ada persiapan terkait transportasi ke bandara, yakni Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), jalur Wates-Gamping-Jogja, dan rel kereta double track. Hanya saja, belum disebutkan di sini perihal bagaimana regulasi pada ketiga planning jalur tersebut.

Yak, bagaimanapun juga, pembangunan adalah sebuah hal positif, selama ia memperhatikan berbagai faktor yang akan terlibat di dalamnya. Sebisa mungkin mampu mengakomodir segala lini masyarakat agar tidak menjadi korban dari pembangunan itu sendiri. Ngomong-ngomong, ada yang jual tanah murah di Jogja gak ya? Aah, kok ya mustahil.

Hari Anak Nasional, sebuah Refleksi

Dua belas tahun sudah. Kalau mau sedikit bernostalgia dan mengingat-ingat, selama itu sudah saya berkenalan dengan hiruk pikuk isu perlindungan anak. Hiruk pikuk yang sepi, sebenarnya. Kadang terasa lucu, aneh, menggelikan, namun memang harus diakui, ada saat-saat yang dikangeni, tentang gerakan di lingkaran hak-hak anak. Banyak hal yang memang bisa dikenang, mulai dari doktrinasi perlindungan anak, nilai-nilai pergerakan di forum anak, atmosfer semangat, teriakan-teriakan polos anak-anak, kebanggaan akan sebuah gerakan, sampai kegigihan memperjuangkan sebuah isu.

Jadi veteran sih belum, wong saya akhirnya mundur teratur dari dunia itu. Mundur karena memang sudah sampai pada siklusnya. Ya, sebut saja siklus “pengen segera nikah” dan fase “kudu cari kerja cari duit”. Dua hal yang memang tak bisa dihindarkan dari lingkaran normal kehidupan manusia. Dahulu, ketika masih sangat aktif di geliat forum anak, saya sempat membayangkan tentang sisa kehidupan yang akan saya dedikasikan ke dalam aktivitas tersebut. Sebut saja “pengen menjadi aktivis”. Dan itu bagus. Tapi ya gitu, mbelok.

Di momentum Hari Anak Nasional ini, hiruk pikuk itu terasa lagi. Siklus tahunan forum anak. Pemilihan duta, kongres anak, penghargaan kabupaten/kota layak anak, award-award, sampai deklarasi dan suara anak. Media partisipasi yang memang sangat diperlukan. Sebuah kepedulian dan bentuk apresiasi yang sangat bagus dari pemerintah. Okey, gak pengen memperpanjang tentang hal-hal itu.

Saya jadi teringat waktu awal-awal berkecimpung di lembaga swadaya masyarakat pemerhati anak. Tentang sebuah ungkapan bahwa, campaign yang panjang ini, selain untuk mencegah segala bentuk kekerasan pada anak di masa ini, juga diharapkan menjadi investasi di masa mendatang. Investasi yang dimaksud adalah telah tertanamnya pemahaman tentang hak-hak anak, tentang sikap-sikap berkenaan dengan perlindungan anak, di mana semua doktrinasi itu akan sangat bermanfaat di masa mendatang.

Dan memang benar adanya. Idealnya, alumni forum anak, atau yang berkiprah dalam isu hak anak, akan terus mengaplikasikan pemahaman-pemahaman itu. Hukumnya wajib, bahkan fardhu. Bayangkan betapa besar potensi itu. Mereka yang pernah, bahkan masih aktif di forum anak, atau lembaga pemerhati isu-isu anak, kelak akan menerapkan apa yang selama ini mereka gaungkan. Ini modal yang sangat berharga, terutama bagi masa depan perlindungan anak di Indonesia.

Hitung-hitungan kasarnya, ini modal yang kita punya : forum anak tingkat provinsi, setidaknya ada 33. Di tingkat bawahnya, ratusan forum anak tingkat kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, bahkan ada yang sampai RT/RW. Bisa dipastikan, ada ribuan anak yang bergerak di waktu bersamaan. Jika dilakukan rotasi yang memadai sekurangnya setiap 2 tahun, bisa diklaim sudah ada puluhan ribu anak yang “tersentuh” forum anak. Ini baru mereka yang terkoordinir di naungan Forum Anak Nasional. Belum lagi jika menghitung komunitas-komunitas non formal yang sama-sama mengusung isu perlindungan anak.

Lanjut gan. Kemudian kita mengenal istilah Kabupaten/Kota Layak Anak. Dikembangkan sejak tahun 2006 (sudah 11 tahun gaes), kebijakan ini telah mendapat respon yang positif. Setidaknya hingga tahun 2016, ada sekitar 294 kabupaten/kota yang telah menginisiasi program ini.  Tentu saja dengan berbagai kategori yang njlimet di dalamnya. Meskipun hingga saat ini, belum ada satupun yang jebol menjadi penerima anugerah KLA. Paling mentok baru sampai level atau kategori Utama, yakni Kota Surabaya dan Surakarta.  Dan memang, di telinga kalangan pemerhati anak, dua kota ini menjadi pinoneer. Angkat jempol dah. Di bawahnya, ada kategori Nindya : Denpasar, Gianyar, Padang, Magelang, Depok, Bogor, dan Sleman. Selebihnya, masih madya dan pratama.

Pemerintah mentargetkan, hingga tahun 2030, sudah tercapai Indonesia Layak Anak. Bahasa kerennya IDOLA. Masih panjang euy. Apa yang mesti kita lakukan ? Tahun 2030, kalian yang sekarang di forum anak, sudah tidak menjadi anak-anak lagi. So ?

Inilah satu hal yang ingin saya sampaikan, sebagai sebuah refleksi di Hari Anak Nasional 2017 ini. Mari kita turut mempersiapkan diri, dengan segala yang kita mampu, dengan batas-batas minimal yang kita bisa. Jangan sampai, gerakan yang sedemikian massif ini hanya menjadi bagian parsial yang tak bisa diintegrasikan dengan bagian-bagian lain. Bahwa forum anak hanyalah bagian kecil dari isu perlindungan anak.

Jangan keburu salah sangka ya. Sebagai bagian kecil, forum anak sebenarnya memiliki peran yang besar, karena memang porsi yang diberikan pada sektor ini sangatlah besar dari pemerintah, baik terkait dana maupun regulasi. Ia menjadi jembatan utama informasi hak-hak anak antara pemerintah dengan anak-anak.  Dan ini jugalah yang saya maksud dengan  investasi dalam paragraf sebelumnya.

Nah, apa yang bisa kita lakukan untuk menyambut tahun 2030 itu? Tahun di mana program Indonesia Layak Anak alias IDOLA ini terwujud, insyaa Allah. Jangan sampai, hiruk pikuk setiap HAN ini tak lagi bermakna apa-apa, ketika di tahun 2030 kita justru menjadi pelaku kekerasan pada anak, atau tak bisa memenuhi hak-hak anak. Ngeri kan.

Di tahun itu, tentu mereka yang ada di forum anak sekarang ini, sudah dewasa. Sudah berkeluarga, sudah mempunyai pekerjaan, jadi pemegang kekuasaan, pengambil kebijakan, sudah punya keturunan, atau sudah menjadi Menteri Perlindungan Anak? Persiapkan semua itu. Songsonglah masa-masa itu dengan belajar yang giat, mengejar cita-cita, bekerja keras sembari terus menyuarakan perlindungan anak. Jangan terus-terusan terbawa euforia, apalagi jika hanya mengejar ketenaran. Kecuali kalian yang memang berkesempatan dan terfasilitasi (dan ini tak banyak), segeralah cari media lain di luar forum anak. Banyak sekali jalur lain yang kompatibel.

Percayalah, ada saatnya kita harus menghadapi rengekan anak kita di saat badan capek dan pikiran buntu. Bayangkan kondisi ketika kita memikirkan masa depan keluarga kecil yang kita bangun menghadapi inflasi perekonomian global (ngeri amat yak bayangannya..hehe). Atau kalian mendengar sendiri ada tetangga yang memukuli anaknya yang memang ketahuan mencuri uang di sekolah. Atau iming-iming miliaran rupiah dari pengusaha tambang yang ingin membeli tanahmu karena kandungan batubara di bawahnya? Apa yang harus dilakukan ? Bagaimana solusi terbaik yang tidak melanggar hak-hak anak?

lendra dan nara

Sebagai alumni forum anak, seharusnya doktrin yang diterima dulu, menjadi salah satu pijakan dalam bertindak. Di level keluarga, terapkanlah prinsip-prinsip perlindungan anak. Dan ini susah-susah gampang. Kebetulan saya sudah berkeluarga, dengan dua orang anak yang kecil-kecil (usia 2 tahun dan adiknya usia 4 bulan). Saat keduanya rewel dan merajuk, saya harus bisa menahan diri untuk tidak terbawa emosi. Dan kadang saat seperti itu, saya jadi bertanya dalam hati :

” Bersuara keras kepada anak supaya diam itu apakah bentuk kekerasan terhadap anak? Bukankah itu dalam rangka mendidik mereka untuk bersikap baik? “

Di sinilah, barangkali banyak teori, diskusi/obrolan, suara anak, anggapan-anggapan, ataupun yel-yel di forum anak yang tak semudah ketika saya bayangkan dulu. Yang dulu kami anggap bentuk pelanggaran hak anak, ternyata ketika sudah dewasa, bisa jadi itu masih bisa diperdebatkan. Memang, perspektifnya juga beda. Sudut pandang anak-anak vs dewasa.

Namun, betapa sulitnya itu, prinsip yang tak bisa ditawar adalah : Keluarga adalah stage pertama upaya pemenuhan hak anak. Dan ini mutlak kita wujudkan. Baru setelah itu ada faktor-faktor lain, seperti masyarakat, media, pemerintah, legislatif, yudikatif, sampai dunia usaha yang menjadi input dalam kluster hak anak. Bisa dibilang, keluarga adalah faktor yang paling bisa kita gapai. Yang lainnya, mungkin di luar kendali tangan kita, kecuali bagi mereka yang memang bisa masuk ke dalamnya.

Di tahun 2030 itu, ketika sektor lain sudah sangat ramah anak, mengarus utamakan anak, mulai dari masyarakat, pemerintah, media, dan semua hal di sekitar kita, akan menjadi sia-sia jika di level keluarga kita tidak bisa menerapkan apa yang menjadi doktrin di forum anak. Maka, kunci utama dari partisipasi kita dalam isu-isu perlindungan dan hak-hak anak adalah keluarga. Membangun keluarga yang ramah anak, memenuhi hak-hak anak, dan memberikan perlindungan pada anak.

Bagi kalian yang sekarang di forum anak, tanamkanlah mulai dari sekarang untuk mempunyai keluarga dengan ciri seperti saya sebutkan dalam paragraf sebelumnya. Cari ilmunya mulai dari sekarang. Karena itu juga bagian dari apa yang kalian perjuangkan di forum anak. Janganlah euforia dan hiruk pikuk di bulan Juli ini hanya sekedar rutinitas tahunan tanpa esensi. Pastikan semangat dan genderang kegembiraan itu diikuti dengan komitmen diri untuk membangun keluarga yang baik.

Sejauh ini, jika menyimak dari akun-akun sosial media kawan-kawan yang lama berkiprah di forum anak dan telah berkeluarga, memang semangat yang dulu kami perjuangkan cukup berpengaruh. Inilah hasil investasi yang belasan tahun lalu kami tanam. Mudah-mudahan apa yang kami terapkan sekarang di keluarga kami, bisa menjadi wujud nyata dari partisipasi kami dalam pemenuhan hak anak. Dan memang, itu tidak mudah.

Bagitu banyak variabel, yang lebih dari sekedar perayaan hari anak, yang kami butuhkan untuk memenuhi hak anak-anak kami. Banyak ilmu yang harus kami cari, yang tidak kami dapatkan di forum anak, namun justru sangat bermanfaat untuk hak anak-anak kami. Dari kombinasi variabel-variabel itu, kami mencoba untuk istiqomah melindungi anak-anak kami, memenuhi hak-hak mereka. Ya, itulah sebuah refleksi. Kilas balik tentang apa yang saya alami. Mari kita sisipkan semangat membangun keluarga ini dalam setiap perayaan hari anak.

 

Auzanara Azlan Fauzi

Empat bulan lebih enam hari. Itu usiamu kini, dan akan terus bertambah. Selama itu pula, kami resmi mulai menyandang status sebagai orang tua dari dua orang anak laki-laki. Untuk hal ini, saya benar-benar harus angkat topi dan memberikan pujian setinggi langit bagi istriku tercinta, Lisa Rusmalina. Rasa sakit dan letihnya, saat-saat berjuang mengandung anak kedua kami bersamaan dengan mengasuh dan mendidik anak pertama, Nahlendra Iqra Fauzi, luar biasa.

auzanara-azlan-fauzi.jpg

Semua orang menyambutmu. Kakakmu, Nahlendra, yang tiap malam mengusap dan menciummu dari balik kulit perut Bundamu, sangat antusias menunggu kehadiranmu. Sangat emosional, ketika harus meninggalkan Nahlendra saat persalinan sang adik di rumah bersama eyang-eyangnya. Itulah pertama kali, Nahlendra jauh dari kedua orang tuanya. Sama-sama berjuang ya Nak. Alhamdulillah, dia gak rewel. Kami lega, bersyukur tiada tara.

Enam belas Maret 2017. Tanggal kelahiranmu. Teriring doa-doa dan harapan, setara dengan apa yang kami panjatkan dua tahun lalu kepada sang kakak. Mengharap kalian akan menjadi pelita kami, kedua orang tuamu. Teriring senyum dan semangat, membayangi nafas kami di hari-hari berikutnya, kala keluarga kecil ini telah memiliki empat anggota.

Dua hari umurmu, saat kakakmu tiba-tiba datang di gendongan eyang putri, melepaskan kerinduan pada ayah ibunya. Nahlendra menghampiri kami di sebuah ruang di rumah sakit, lalu mendapatkan hadiah ciuman dari kami. Dan momen sangat indah itu, adalah saat Nahlendra terkesima dan tersenyum begitu manis melihat sang adik di dalam box bayi. “Ini dek Na’a….”, ujar kakakmu. Ya, itulah panggilan sayang kakakmu kepadamu, yang terucap dengan sangat manis, sejak kamu masih di dalam perut Bundamu. Meski masih cedal. Kemudian kamu mendapat kecupan manis pertama dari Kakakmu.

Nara, panggilanmu nak. Nama yang kami berikan. Auzanara Azlan Fauzi. Nama yang kami persiapkan, nama yang kami harapkan mampu menjadi pusaka kebaikan di setiap langkahmu. Auzan, nama ini juga mengenang mendiang adik kandungku. Ahmad Fauzan. Azlan berarti singa, sebuah karakter yang menunjukkan kekuatan dan kepemimpinan. Fauzi adalah kemenangan. Dan kami menambahkan frasa Nara sebagai pemanis, sekaligus menjadi nama panggilanmu.

Nahlendra dan Auzanara. Lendra dan Nara. Simpul-simpul kebahagiaan kami yang kini menjadi tanggung jawab dan amanah dari Allah Azza wa Jalla. Dan kami dengan ikhlas mengembannya, insya Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan kami kekuatan, membesarkan mereka menjadi generasi yang sholeh, menjadi lelaki-lelaki yang istiqomah di jalan agama Allah, senantiasa bermanfaat bagi semesta alam.

” Robbij’alnii muqiimas sholaati wa min dzurriyyati

robbanaa wa taqobbal du’a “

Lendra dan Nara

Bunda Lisa, sekarang ada 2 tangan yang harus dirapikan kuku-kukunya 🙂

 

 

Literasi sejak Dini

source-thinkstock

image : thinkstock

Awalnya hanya senang berkunjung ke toko buku. Meluangkan waktu berjalan-jalan di lorong-lorong antara jejeran rak-rak penuh buku. Kemudian, mulai suka berjubel di bazar-bazar buku, memburu buku-buku diskon 😀 Ada kenikmatan tersendiri saat mengendus aroma buku baru, saat membaca-baca sinopsis di sampul belakang, dan tantangan seru saat menimbang-nimbang isi dompet untuk membeli buku incaran.

Di Jogja, ada cukup banyak moda penyaluran hobi ini. Mau sekedar hunting buku, kita bisa ke toko-toko yang ada : Gramedia (ada beberapa, terutama di mall-mall), Toga Mas, atau Social Agency. Bisa juga ke kawasan Shopping Center, sebelah timur Taman Pintar Jogja. Di sana ada beragam buku, mulai yang ori sampai KW, mulai dari buku terbitan baru sampai buku-buku lawas dan jadul. Nyari contekan skripsi? Ada juga. Event-event bernuansa buku juga rutin digelar ; Islamic book fair, pameran buku, bazar buku, cuci gudangnya Gramedia, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Koleksi buku bertambah, pelan tapi pasti. Pelan-pelan banget, tapi pasti. Hehe.  Sayangnya, itu kurang diikuti dengan penambahan alokasi waktu untuk membaca. Alasan klise : Sibuk. Wes ngono wae.

Dunia literasi. Paling tidak, saya sudah mengisi salah satu rentetan dari sekian aktivitas literasi. Membeli dan membaca buku. Meski masih jauh dari definisi komplitnya :

Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar)” . Ini definisi dari kamus online Merriam-Webster

Itu baru satu definisi, kalau mau googling, ada begitu banyak pengertian lain, walau masih nyrempet-nyrempet. Ya, intinya disini ada beberapa aktivitas kunci : membaca, menulis, menghitung, memahami, memecahkan masalah. Begitu pentingnya, literasi menjadi salah satu agenda prioritas Unesco, di mana mereka terus mendorong kemampuan literasi baik bagi individu, keluarga maupun komunitas, yang pada akhirnya dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Monggo dibaca di sini : Literacy.

Sayangnya, di Indonesia budaya literasi masih sangat minim. Apa ya, susah mengistilahkan. Konon ada survei tentang jumlah buku yang wajib dibaca oleh anak-anak usia SMA Indonesia dibanding negara-negara lain :

USA 32 buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku

Bahkan, menurut Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya. Dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. (Referensi : Fakta Minat Baca di Indonesia )

Ah, biarlah, ndak perlu pusing memikirkan angka-angka di atas. Saya sendiri bahkan masih dalam tahap minor : suka beli-beli buku, ditaruh di rak, dan mulai curi-curi waktu untuk bisa membaca. Hiks. Tapi lumayanlah, aktivitas membaca sudah ada. Berikutnya, aktivitas menulis. Ini alhamdulillah, meski bukan dalam bentuk buku, tapi setidaknya sudah punya blog yang mengudara dari 2011 ini. Ada sih dulu sebelumnya juga punya blog dari jaman lulus SMA, tapi sudah hibernasi total.

Nah, budaya literasi ini memang masih menjadi hal yang jarang didengar. Mengapa ? Ya karena memang sejak dulu kurang diterapkan oleh orang-orang tua kita. Jaman dulu, mencari buku bacaan berkualitas itu susah, terutama di sekolah-sekolah pelosok, di kampung-kampung. Beli buku? Boro-boro, orang tua tentu punya prioritas ketat untuk mengeluarkan anggaran rumah tangga, tentu saja lebih penting untuk kebutuhan primer. Budaya literasi belum ditanamkan sejak dini.

Itu yang saya alami, sebagai generasi yang lahir di tahun 80an akhir. Kalau sekarang ? Alamak, sama saja. Cuma faktornya yang berbeda. Membaca artikel ini, agaknya memang kita sulit untuk diajak berliterasi :

Menurut survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal II 2016 yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, hanya 9 persen dari generasi Z (rentang 10-19 tahun) yang saat ini masih membaca koran, majalah atau tabloid dalam bentuk cetak. Sisanya, lebih memilih mendapatkan informasi dari televisi atau internet. Hal itu diungkapkan oleh Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business Nielsen Indonesia. Sumber : Survei Nielsen

Jadi, memang kuncinya adalah menanamkan budaya literasi sejak dini. Simpelnya, membiasakan anak dengan buku sejak kecil, sejak balita. Familiarkan pandangan mereka dengan buku, akrabkan hari-hari mereka dengan buku. Buku apa saja, yang terpenting adalah mereka terbiasa memandang bentuk fisik buku. Mengakrabkan sentuhan mereka dengan buku, dengan begitu akan terbentuk “hubungan emosional” antara anak dengan buku sejak dini.

Jika sudah demikian, kita sebagai orang tua sudah punya modal untuk mulai mengajarinya membaca. Tentu saja perlu timing yang tepat untuk itu, sesuaikan dengan perkembangannya juga. Di awal, berikan buku-buku bergambar. Ini bermanfaat untuk mengenalkan hal-hal di sekitar, bisa berupa tumbuhan, benda-benda, hewan atau fenomena alam lainnya. Ini yang sedang kami terapkan di rumah kepada si kecil Nahlendra. Buat ibu-ibu muda, sekedar informasi, silakan googling tentang metode Montessori. Ini bisa diterapkan untuk mendukung upaya membudayakan literasi sejak dini. Bisa kita bahas nanti di tulisan lain.

Sudut Montessori nya Nahlendra

Sudut Montessori nya Nahlendra

Montessori

Kamar Nahlendra dengan pendekatan Montessori

Saya dan istri, kebetulan memang menyukai buku, dan segala hal yang berkaitan dengan buku. Dan kami mulai mengajarkan juga hobi kami itu, kepada Nahlendra. Memenuhi kamar dengan buku anak, buku bantal, dan kartu-kartu pembelajaran. Mengajaknya ke perpustakaan, ke toko buku, dan ke pameran buku.

Nahlendra di pameran buku

Nahlendra di pameran buku

Salah satu tantangan di periode seperti ini adalah kesabaran, terutama jika dia mulai gemes dan merobek halaman buku. Maka, untuk anak usia balita, terutama di bawah 3 tahun, berikan mereka buku dalam bentuk hardcover, pun dengan halaman isinya kalau bisa juga hard agar tidak mudah dirobek. Bisa juga dalam bentuk buku bantal.

Perpustakaan

Nahlendra dan Bundanya di Perpustakaan

Buku

Nahlendra dan Teman-temannya

Beruntung, istri juga sangat telaten dalam hal ini, saking telatennya bahkan buku-buku yang dibeli kadang kurang cocok dengan usianya. Dan ini memang salah satu tantangan. Lapar mata, begitu istilahnya, jika kita terlalu bernafsu membeli sesuatu yang belum saatnya dibeli. Tentu saja, sang ayah yang harus ekstra ketat. Iya, ketat dalam merogoh kocek. Hehehe.

Harapannya, nanti kami bisa menumbuhkan budaya Literasi dalam keluarga. Jika dulu sang ayah bermimpi menjadi penulis buku namun belum kesampaian, semoga nanti bisa diwujudkan oleh anak-anak kami. Memulai dengan sederhana. Memulai dengan koleksi buku, merealisasikan perpustakaan keluarga, dan mengagendakan waktu khusus untuk membaca.

Jika dirunut, bahkan sejarah peradaban Umat Islam tidak bisa dilepaskan dari budaya literasi. Berbagai kitab yang dipelajari di masa ini, tentu saja adalah produk-produk luar biasa dari kegiatan literasi. Bisa dibayangkan jika dulu para alim ulama tidak memperhatikan hal tersebut, tidak akan ada khazanah yang begitu lengkap yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Oh ya, ini ada website keren dari pegiat Literasi dari kalangan pesantren, namanya Santrijagad.  Tulisan-tulisannya menyejukkan. Percaya deh.

Yap, itu dulu. Mari kita giatkan upaya-upaya untuk menyebarkan budaya Literasi, dimulai dari keluarga, menanamkan kepada anak-anak kita sejak dini. Ada begitu banyak manfaat dari kegiatan tersebut.  Ya, paling tidak daripada harus menyaksikan anak kita terpaku diam menyimak acara televisi yang makin tak jelas itu, mending ajak mereka bercengkerama sambil membaca buku. Letakkan anak kita di pangkuan, bentangkan buku di hadapannya, dan mulailah bercerita. 🙂

Rabbit Hole

Nahlendra mendapat Buku Baru

Lidah sang Imam

Sebut saja namanya Pak Dibyo. Tidak tahu persis berapa usianya, tapi dari kerut dan keriput di wajahnya, dia berusia sekitar 55 tahun. Entahlah. Yang jelas sudah tidak muda lagi, gigi-giginya sudah mulai jarang. Beliau sangat terkenal di kampung Kalidukuh. Bukan karena ketokohan, kekayaan, punya mobil dan rumah besar, bukan karena sering nongol di televisi. Bukan pula karena beliau aktivis sosmed, apalagi mantan calon anggota DPR. Beliau pegawai di sebuah instansi pemerintah, konon katanya berhasil diangkat setelah puluhan tahun mengabdi, sebagai juru rumah tangga. Selain itu, beliau nyambi, menggarap sawah.

Pak Dibyo menjadi cukup terkenal, karena suaranya yang melengking terdengar di lima waktu. Suaranya berat, menggelegar. Beliau menjadi cukup familiar, karena kehadirannya yang paling rajin, seolah menjadi juru kunci di satu-satunya masjid kampung Kalidukuh. Dan suara beliau sangat intim di telinga kami, karena memang alunan adzannya tidak semasyuk dan semerdu muadzin lainnya. Tapi sangat khas, sehingga warga kampung lain pun sempat bertanya-tanya, itu suara siapa ? Kok seperti itu ?

Alunannya terkesan “njowo” banget, seperti adzan TVRI itu. Satu lagi, menjelang waktu subuh, beliau selalu aktif “membangunkan” warga untuk bersiap-siap menjalankan sholat subuh. Atau setidaknya memberikan penanda waktu bagi mereka yang sedang bersantap sahur. Beliau melakukan itu dengan membacakan surat Al Fatihah melalui pengeras suara masjid. Bagi mereka yang terbiasa bangun pagi, rapalan Al Fatihah ini sangat membantu, seolah-olah menjadi penanda waktu tersendiri. Waktu bagi mereka untuk bersiap-siap ke masjid, bersegera untuk merampungkan santap sahurnya.

Pun saat sholat berjamaah. Beliau kerap menjadi imam. Beliau bukan orang terfasih di kampung ini. Ada beberapa orang yang sebenarnya lebih fasih, lebih terlihat “ketokohannya”. Pak Dibyo ini sebenarnya lebih pantas disebut pemain cadangan. Eh, imam cadangan maksudnya. Tapi bagi para jamaah, beliau lebih diposisikan sebagai imam utama (kalau tidak bisa disebut imam tetap). Bukan karena kemauannya, tapi memang imam-imam yang lain masih kalah rajin dibanding Pak Dibyo ini.

Beberapa bulan lalu, muncul beberapa gelintir orang yang mencoba menggugat beliau. Entahlah, apa yang sebenarnya digugat. Pembacaan Al Fatihahnya kah, pelafalannya kah, atau alunan dan nada adzannya yang seperti itu? Mungkin mereka lebih fasih, lebih bisa mematuhi kaidah-kaidah tajwid, makhrojul hurufnya lebih pas. Wajar jika Pak Dibyo yang barangkali lebih awam ini, digugat. Malam itu, mereka duduk melingkar, membahas keberadaan Pak Dibyo. Intinya, mereka akan menggantikan Pak Dibyo ini dengan yang lebih muda. Sebagai muadzin dan imam sholat. Yang terdengar, salah satu faktornya adalah omongan dari warga kampung sebelah ; itu kok adzannya seperti itu, pake baca Al Fatihah sebelumnya ?

Saat itu Pak Dibyo mengalah, karena mungkin memang menyadari bahwa ilmunya masih kalah dibanding beberapa orang yang kala itu memperbincangkannya. Dan memang lidahnya terlalu kaku jika harus dipaksa mengikuti standar orang-orang itu. Dan benar, hari selanjutnya tak lagi terdengar suara adzannya. Juga tak ada yang memberi kami aba-aba untuk bersiap-siap ke masjid. Digantikan dengan alunan adzan yang memang lebih merdu, dan “mainstream”. Kami diimami oleh imam-imam lain yang memang seharusnya selalu hadir. Sehingga tidak memaksa Pak Dibyo menggantikan mereka.

Waktu berlalu. Kini, suara adzan Pak Dibyo tak terdengar. Dan suara adzan dari muadzin lain itu juga mulai jarang terdengar, bahkan kadang tak terdengar suara adzan. Mereka yang awalnya rajin, kini mulai jarang juga. Ah, tidak bisa dibiarkan. Lambat laun, Pak Dibyo gelisah juga. Sesekali beliau kembali mengumandangkan adzan, sesekali beliau harus maju tampil menggantikan imam yang tidak datang. Lambat laun, intensitasnya semakin sering. Ada apa ini ? Kenapa mereka yang bacaannya lebih fasih, mereka yang hafalannya lebih banyak, dan lidahnya tidak sekelu Pak Dibyo, tidak bisa Istiqomah ?

Subuh ini, kami kembali mendengar rapalan surat Al Fatihah. Sepuluh menit sebelum adzan subuh berkumandang. Kali ini, bacaan beliau sedikit berbeda. Huruf-hurufnya lebih jelas, panjang pendeknya lebih tertata. Kesalahan-kesalahannya lebih sedikit, menurut hamba yang juga awam ini. Oh, mungkin beliau tak henti belajar. Lantunan adzannya masih sama, keras menggelegar dan tetap anti-mainstream. Tapi, bagi kami itu hal indah. Mungkin beliau adalah orang paling istiqomah datang ke masjid, di banding siapapun di kampung ini. Bahkan dibanding mereka yang kemarin menggugat Pak Dibyo.

Itulah, sedikit cerita tentang Pak Dibyo. Imam masjid di kampung kami. Di balik bacaannya yang tak merdu, ada kesholihan yang tak dibuat-buat. Di balik suara yang menggelegar dari lidahnya, ada niat untuk terus ngopeni masjid ini. Sungguh, ikhlas itu tidak mudah. Aku sering malu sendiri. Memang, kaki yang kuat untuk mendaki gunung-gunung yang menjulang, tiba-tiba seketika lemah ketika harus berjalan kaki ke masjid. Bahkan untuk sekedar menstater motor, dan tinggal mengendarainya ke masjid. Itu luar biasa. Tidak dengan Pak Dibyo. Beliau memang luar biasa.

Pada akhirnya, keihklasan yang berperan. Pak Dibyo yang secara bacaan tak terlalu fasih, malah bisa istiqomah ngopeni masjid. Tanpa merendahkan, seharusnya mereka yang dianggap lebih tokoh ini juga tak kalah dengan Pak Dibyo. Atau setidaknya jangan pake acara menggugat segala. Monggo, silakan cerita ini dianggap nyata atau fiktif. Mungkin saja sudah terjadi, atau malah memang terjadi juga di tempatmu? Atau akan terjadi ? Ayo berjuang ke masjid 🙂

Menyambut si Kecil (lagi)

Tak tega membiarkan blog ini terpaku oleh tulisan terakhir, yang bertanggal 22 April 2016. Hampir 9 bulan lamanya vakum. Banyak yang bisa disalahkan, antara pekerjaan yang semakin embuh, konsistensi diri yang njeblug, sampai hilangnya ide-ide brilian di otak karena pemanasan global. Tapi memang, andil sasaran tembak terbesar adalah “this ridiculous and irrihating clericality behind a hazy table in a holy building called Office” ini.  Haesshh.

Ah, mari lanjutkan saja tulisan ini. Tidak perlu mengutuk sana sini, ndak kena ITE. Dua ribu tujuh belas, si kecil Nahlendra Iqra memasuki usia 20 bulan. Catatan panjang yang luput dari penulisan di blog ini, sayang sebenarnya. Maunya merekam dan mendokumentasikan setiap perkembangannya dalam sebingkau tulisan, tapi ya itu. Ndak sempet. Maunya sih bisa mbikin blog parenting yang rame visitor ala ala Ayah Edy, bisa memotivasi papah papah muda, atau inspiratif dengan samudera hikmah ala Ustad Salim dan Ustad Fauzil Adhim. Tapi sekali lagi ; ah sudahlah. Cukup menjadi ayah yang biasa tapi serba bisa.

Dua puluh bulan lalu, kami bergembira menyambut kehadiran si kecil. Mempersiapkan segalanya dengan sepenuh jiwa, mendoakan setiap kebaikan untuknya. Dan benar, kehadirannya di semesta ini, memberikan kekuatan dan simpul senyum tak berputus dari hati kami. Sambutan kami, dibayar lunas dengan tingkah polahnya. Tiada hati tanpa memperhatikan gerak gerik dan celotehannya.

Dan kini, kami sedang bersiap-siap lagi. Iya, menantikan kehadiran si kecil lagi. Si kecil kedua kami, si kecil yang akan menggenapkan keluarga kami menjadi 4 insan. Ya, adeknya Nahlendra Iqra. Kami sedang bersuka cita dengan kehamilan ini. Membayangkan si sulung Nahlendra Iqra mengecup si kecil nanti, pasti akan menjadi momen yang lucu menggemaskan. Atau saat-saat nanti si sulung merasa cemburu, mengira kehadiran adiknya akan merenggut perhatian kami. Ah, kami senantiasa bersyukur.

Tentu saja, menunggu buah hati yang kedua ini, ada banyak perbedaan dengan saat pertama kali menghadapi kehamilan. Ada perasaan lebih siap dan ada sedikit pengetahuan lebih, daripada saat pertama dahulu. Namun, tentu setiap kehamilan memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Apapun itu, kami akan tetap antusias, dan mempersiapkan segalanya dengan baik, tak kalah dari saat-saat kami menyambut si sulung Nahlendra Iqra.

Tujuh bulan, usia si kecil di dalam kandungan istriku. Dua bulan lagi, dan kami sangat antusias. Kelak, aku akan menjawab kepada orang-orang dengan kalimat ” Ayah dari dua orang anak” ketika berkenalan. Tentu dengan rasa bangga. Meski dengan kalimat itu, artinya kami tak lagi muda. Ada segunung kewajiban dan tanggung jawab yang akan dipikul, dan tentu saja akan dimintai pertanggung jawaban. Semoga kami mampu mengembannya, insyaa Allah.

Banyak yang bilang, si kecil ini terlalu dekat jaraknya dengan si sulung. Biarlah, ini tentang kuasa Allah yang wajib bagi umatnya untuk mengimani, sebuah kepercayaan bahwa kami mampu untuk mengembannya. Kami yang dipilih, dan tentu akan ada banyak hikmah yang dipercayakan pada kami. Biarkan kami temukan hikmah-hikmah itu, sembari terus berikhtiar. Berdoa, hingga nanti proses persalinannya berjalan dengan lancar. Doakan kami 🙂

Bersyukur. Kami masih memiliki stok pakaian anak dan mainan yang bagus, warisan si sulung untuk adeknya. Hehe. Iya, barangkali ini hikmah awal dari hadirnya si kecil kedua kami. Ndak perlu belanja terlalu banyak, dan tentu masih fresh di otak kami perihal pengalaman-pengalaman menghadapi persalinan pertama dahulu. Meskipun tak dapat dipungkiri, sudah terbayang akan kerepotan-kerepotan yang akan kami hadapi kelak. Iyalah, dua orang balita yang tentu saja masih sangat butuh perhatian ekstra dari kedua orang tuanya.

Mengingatkanku ke masa-masa kecil di keluargaku. Kedua orang tua yang harus menghadapi tiga bersaudara, aku dan kedua adikku. Untungnya, kami termasuk manut-manut. Ehm hm.. Yah, semoga nanti kedua buah hati kami ini, akan menjadi pewujud doa-doa baik kami. Insyaa Allah.

Pembaca yang Terkotak

Sebulan lebih, nggak nulis apapun di blog ini. Biasa lah, kerjaan mulai berduyun-duyun datang. Sebagai blogger yang masih ababil, masih bisa ditolerir kali ya. Yang penting absen nulis, paling nggak sebulan sekali.

Kemarin, saya menyempatkan diri untuk menengok buku-buku koleksi, yang ironisnya hampir 75% belum tuntas saya baca. Ada perasaan rindu masa-masa kecil, saat dulu, membaca adalah aktivitas favorit dan sangat menyenangkan. Di usia SD sampai SMP, saya merasa menjadi kutu buku yang sangat kehausan. Kenapa? Keinginan untuk membaca buku sangat kuat, namun sayang waktu itu saya belum punya akses yang memadai untuk bisa membaca buku-buku bagus. Jangankan untuk membeli buku, sekedar nyari buku bagus di perpustakaan untuk dipinjam saja terasa sulit.

Kondisi itu berbalik. Kini, saat kemampuan finansial untuk membeli buku itu ada, dan dari sekian banyak buku yang sudah dibeli, saya malah kesulitan untuk mendapat waktu dan mood yang pas untuk membaca. Ironis ya. Ada lebih dari 100 buku di rumah, tapi sebagian besar hanya nongkrong manis. Saya memang ingin membuat mini library di rumah, dan suatu saat ingin menjadikan koleksi itu sebagai media berkomunitas. Saya tertarik untuk kembali berliterasi, walau tidak untuk sekarang.

bukuiqbal

Dulu, saya sempat begitu bersemangat untuk bisa menerbitkan buku sendiri. Ada beberapa tulisan yang saya buat, namun belum juga selesai, dan entah akan selesai atau tidak. Hehe. Keinginan itu, meski kadang surut-menyala, masih tersimpan. Niatan itu sempat akan diwujudkan, saat tren nulis melalui self publisher kian banyak. Tapi, ya itu. Realitas dunia pekerjaan memang harus menjauhkan passion itu.

Oh ya, mengamati perkembangan di sosial media, saat ini para penikmat buku cenderung memiliki rasa fanatik yang kadang susah dijelaskan dengan kata-kata yang pas. Ada beberapa kawan yang begitu setia dengan buku-buku terbitan sebuah Publisher. Hal ini sebenarnya wajar, namun ketika hal itu dibarengi dengan sikap “anti” yang berlebih terhadap penerbit lain, bahkan sampai menebarkan hal-hal yang menjatuhkan, menurut saya itu kurang baik.

Okelah, jika rasa fanatik itu masih berkutat pada jenis buku, genre cerita, anime versus manga, DC vs Marvel, atau keKorea-koreanan, mungkin itu tidak akan menimbulkan ekses terlalu negatif. Polarisasi itu cenderung menjadi destruktif ketika berkembang menjadi perseteruan ideologi, sikap politik atau manhaj yang dianut sang penerbit. Di sini, semangat untuk tholabul ilmu terdistorsi oleh sikap fanatik buta. Tidak semua begitu, namun, ayolah, tidak perlu memungkiri yang terjadi 😀

Sikap moderat akan menjadi pilihan, di saat perdebatan ala facebook kian tak tentu arah. Saya pernah mendapati, seorang kawan memposting tentang buku yang baru dibacanya, disertai beberapa kutipan dan opini pribadinya, diserang dengan beberapa komentar pedas di facebook. Dari pengamatanku, sebenarnya yang menjadi penyebab adalah perbedaan arus-politik dan gerakan yang dianut, antara kawan yang posting dengan para komentatornya. Terkadang, cara mereka berdebat sangat jauh dari diskusi ilmiah, bahkan cenderung menjadi liar dan penuh cemoohan. Bukan lagi mencari ilmu dan kebenaran.

Saya sendiri, lebih senang mengoleksi buku-buku dari berbagai latar belakang. Yang sekiranya bagus dan tertarik, dibeli. Asal bukan buku-buku yang memang mustahil saya beli lho ya. Misalnya, saya tidak akan membeli buku tentang tuntunan beragama Hindhu, karena saya seorang muslim. Simple. Terkadang, orang akan menilai pemahaman dan madzab orang lain dari buku-buku koleksinya. Jika ia punya buku karya si A, berarti ia seorang liberal, jika ia punya buku yang ditulis si B, berarti ia seorang orientalis. Jika ia penyuka buku-buku terbitan C, maka ia adalah penganut paham radikal, atau jika ia pengoleksi buku dari penerbit D, ia adalah golongan nasionalis.

Sebuah model stereotip yang menyesatkan. Yang seperti itu, tidak bisa digeneralisir. Mereka akan bingung menentukan orang yang punya koleksi lintas madzab, berbagai model penerbit, atau penulis-penulis dari semua model pemikiran. Padahal, orang yang luas ilmunya, pasti adalah orang yang banyak membaca. Membaca buku dari berbagai jenis aliran pemahaman akan menjadikannya bijak dalam bersikap. Bukan sesuka hati menghakimi.

Saya sendiri, agak sulit mungkin menentukan gaya bacaan saya. Bukan bermaksud “umuk” terkait dengan paragraf sebelumnya, saya senang dengan berbagai buku yang mungkin bertolak belakang satu sama lain.

Sebagai gambaran saja ya. Beberapa penulis favorit saya (atau paling tidak yang pernah saya beli bukunya) ; Gus Mus, Ust. Salim A Fillah, Cak Nun, Jusuf Kalla, Ust. Fauzil Adhim, Awy A Qolawun, Andrea Hirata, Sayyid Sabiq, dr. Arifianto a.k.a dokter Apin, @ukhtiSally, Dee Lestari, Jamil Azzaini, Indra Noveldy, Dr. Musthafa Murad, Nadirsyah Hosen, Buya Hamka, Kiki Barkiah, Asma Nadia dan DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Saya juga berencana mempunyai buku-buku karya ust. Felix Siaw, Saptuari Sugiharto, Ade Armando, Putut EA, Joserizal Jurnalis, dr. Adian Husaini, Bactiar Nasir, Zuhairi Misrawi, Anis Baswedan, ust. Yusuf Mansur dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana pendapat Anda? Hehe.

Buku-buku yang saya beli, diterbitkan oleh berbagai penerbit ; Kompas Gramedia, Pro U, Mizan, Bentang Pustaka, Asma Nadia Publisher, penerbit Zaman, Pustaka Al Kautsar, Menara Kudus, Pustaka Darul Haq, Noura, Aqwam, Khalista, Mastakka dan beberapa penerbit lain. Sekarang, silakan simpulkan apa gaya membaca saya 😀

Jujur saja, saya kurang suka dengan labelisasi yang berlebihan dan ngawur terhadap seseorang hanya karena buku yang dibacanya. Ada cukup banyak cap yang disematkan pada orang lain yang bersebarangan di media sosial, dan saya tidak mau menyebutkannya di sini. Mengganggu saja :v

Sudah, nikmati saja setiap kata yang mengalir dari buku, silahkan memilih sesuai genre yang disukai, madzab yang dianut, gerakan politik yang diusung, atau suasana hati yang digalaukan. Tapi, stop menghinakan orang lain hanya karena buku yang dibacanya. Jangan lagi dikotak-kotakkan hanya karena membaca. Jadilah pembaca buku yang bijak dan arif. 😀

guru kecilku

Salah satu buku bagus yang belum sempat saya baca | 5 Guru Kecilku, karya Kiki Barkiah